
Adel baru menyadari kalau ia sudah ditinggalkan oleh sahabatnya. Gadis itu asyik merekam pasangan yang sedang menjadi pusat perhatian saat ini.
"Dih, menyebalkan gue ditinggal sendirian," gerutunya saat ia sudah duduk di kursi penumpang taksi online.
Kemudian, ia menghubungi Riri, saat teleponnya terhubung. Gadis berambut sebahu itu langsung menggerutu panjang.
"Tega banget sih, ninggalin aku. Padahal tadi lagi seru banget. Kali aja bisa jadi referensi buat kamu sama pacar kamu," gerutunya panjang lebar.
"…"
"Dih, nggak percaya. Bentar aku kirim ya videonya." Adel menggeser layar ponselnya lalu masuk ke aplikasi hijau, setelah itu mengirimkan video pada Riri.
"Udah aku kirim ya, selamat menikmati." Adel pun menutup sambungan teleponnya, sebelum mendengar omelan dari sahabatnya, yang menolak menerima video kirimannya.
Gadis itu memang belum mengetahui, bahwa pria yang ia rekam itu adalah kekasih dari sahabatnya. Riri memang belum pernah memperkenalkan kekasihnya kepada dirinya, dan sepertinya pada yang lainnya juga sama.
Adel memasukkan ponselnya pada tas kecilnya. Kemudian, gadis itu kini fokus pada jalanan yang dilihatnya dari jendela.
Sementara itu di rumah Riri.
Riri yang diminta untuk duduk di samping Kavindra, malah pamit ke dalam, dengan alasan akan menyimpan tasnya dulu.
Mimpi apa aku semalam, harus ngalamin kejadian kaya gini hari ini. Menyebalkan. Hatinya terus menggerutu saat ia menuhu ke kamarnya. Baru saja gadis itu membuka pintu kamarnya, tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata Adel yang meneleponnya.
Gadis yang sedang patah hati itu mengangkat panggilan teleponnya. "Iya, Del." Namun, gadis di seberang mengomelinya karena telah meninggalkannya.
"Iya maaf, Del."
Riri berdecak kesal saat sahabatnya itu menawarkan video Davanka yang sedang bermesraan dengan wanita lain pada dirinya.
"Nggak mau aku, buat apa?" tolaknya mentah-mentah. Namun, sepertinya Adel memang mengirimkan video itu, karena tiba-tiba ada notif chat masuk.
"Adel! Gue--" ucapannya tak berlanjut karena sahabatnya itu sudah menutup sambungan teleponnya.
"Adel gila!" Riri melempar ponselnya ke kasur. Lalu, gadis itu menyimpan tasnya dan menarik ikat rambutnya sehingga surainya tergerai dengan indah.
Gadis itu memandang wajahnya di cermin, meneliti setiap inci wajahnya. "Apa kurang aku, Dava? Kenapa kamu tega sama aku?" lirihnya. Saat netranya mulai berkaca-kaca, tiba-tiba seseorang masuk dan menubruknya dari belakang.
"Dek! Ngapain sih?" Riri menggerutu saat sang adik dengan sengaja menubruk tubuhnya dan malah memainkan alisnya sambil tersenyum menyebalkan.
"Ciee … yang bawa calon mantu buat papa," godanya yang sontak mendapat toyoran di keningnya.
"Ngaco," omelnya.
"Dih lihat sana papa tuh seneng banget, malah nanya-nanya udah pacaran berapa lama sama Kak Riri," jelas gadis itu.
"Masa sih?" Riri terkejut mendengar ucapan adiknya.
"Sana kalau nggak percaya," ucap Sera dengan menunjuk ke arah ruang tamu dengan wajahnya, sementara kedua tangannya dilipat di depan dada.
Riri langsung berjalan menuju ruang tamu. Gadis itu sangat terkejut saat mendengar pertanyaan sang papa.
"Nak Kavin mau melamar putri Om?" tanya sang papa pada Kavindra yang duduk di seberangnya.
"Papa …" sela Riri sebelum Kavindra menjawab pertanyaan papanya.
__ADS_1
"Maaf ya, Pak Kavin. Papah lupa belum minum obat," Riri berucap asal sambil menarik tangan sang papa untuk mengikutinya.
Kavindra terkekeh mendengar ucapan tak terduga dari gadis yang terlihat lebih cantik dengan rambut tergerainya itu.
"Saya siap kok melamar kamu, kalau kamu mau," jawab Kavindra santai dan membuat sang mama bertepuk tangan senang.
Riri tak menghiraukan ucapan bos gilanya itu. Gadis itu menarik tangan sang papa untuk masuk ke ruang tengah. "Papa apa-apaan sih? Dia itu bos Riri, Pa. Jangan bikin Riri malu," bisiknya dengan menggerutu.
Namun, pria paruh baya itu hanya tergelak mendengar omelan putri sulungnya, hingga gadis itu membekap mulutnya.
"Ini Papa lo, Ri. Kamu main bekap-bekap aja." Pria paruh baya itu mengingatkan.
"Iya maaf, Pa. Abis Papa …." Riri tak melanjutkan ucapannya, ia langsung menuju ke ruang tamu dan menemui Kavindra yang tampak berbincang dengan sang mama.
"Ma, katanya Pak Kavin mau pulang, udah jangan diajak ngobrol terus," sela Riri.
"Iya kan, Pak. Kan katanya mau ada acara lain?" Riri meminta persetujuan dari pria tinggi di depannya.
Namun, pria jangkung itu malah tersenyum tanpa berucap sepatah kata pun. Saat sang mama akan mengeluarkan suaranya. Tiba-tiba Sera memanggilnya. "Ma, tolong bantuin aku sebentar," teriak Sera.
"Aduh, Tante dipanggil dulu. Kalian ngobrol aja dulu ya." Mama Rina pun beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam, sebelumnya menepuk bahu Kavindra. "Ingat kata-kata tante tadi, ya," bisiknya.
Riri ingin sekali menenggelamkan tubuhnya di rawa-rawa untuk menghilangkan rasa malunya akan sikap keluarganya, tapi walau bagaimanapun mereka adalah keluarganya yang sangat ia cintai dan sayangi.
"Aduh, Pak maaf ya keluarga saya memang seperti ini, jangan diambil hati," ucap Riri salah tingkah.
"Nggak apa-apa, saya suka kok. Keluarga kalian lucu," jawab Kavin.
"Emm … lebih baik Pak Kavin pulang saja ya," imbuhnya.
"Jadi saya diusir nih?" Kavindra pura-pura tersinggung.
Pria tampan itu beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Riri yang tampak bingung.
"Saya tahu kamu sedang patah hati. Tapi … jika kamu mau saya akan mengobatinya," bisik Kavindra sambil mencondongkan wajahnya ke arah gadis itu.
"Ma-maksud Pak Kavin?" Riri mengerutkan dahinya heran.
"Kamu gadis yang baik, sudah sepantasnya mendapatkan yang terbaik." Kavindra memegang bahu Riri.
Gadis itu makin bingung dengan ucapan pria di depannya. Dan tanpa mereka sadari, ada orang lain yang mengintip kedekatan mereka. Siapa lagi kalau bukan keluarganya.
"Tuh, kan Papa bilang juga apa mereka pasti ada hubungan, Ma."
"Iya, cocok Pa. Kita bakal punya mantu bos."
"Sera juga jadi punya kakak cowok deh." Namun, saat gadis itu berucap, tiba-tiba sesuatu jatuh di kakinya dan membuat gadis itu berteriak histeris. Otomatis persembunyian mereka terbongkar.
"Papa, Mama, Sera, ngapain?"
"Nggak, lanjut aja."
Riri makin kesal dengan semuanya. " Aduh, Pak Kavin maaf lebih baik Bapak pulang aja ya. Sekali lagi maaf banget."
Akhirnya Kavindra pun pamit undur diri, dan kedua orangtua Riri tak lupa untuk menawarkan pria itu kembali main ke rumah mereka.
__ADS_1
Keesokan harinya
Riri tak berniat keluar dari kamarnya di hari Minggu ini. Ia tak mau melakukan apapun, bahkan baju yang kemarin ia jemur pun,ia abaikan. Biasanya gadis itu akan menyetrika pakaiannya agar rapi. Namun, hari ini semuanya dibiarkan begitu saja di rigen tempat setrikaan.
Apalagi semalaman, ia menangis karena tak sengaja membuka video yang dikirim Adel. "Kamu jahat banget, Dava."
Kedua orangtuanya sedang pergi keluar, sementara sang adik di depan menunggu warung. Sepertinya semua orang rumah, sedang pengertian hari ini, karena tak ada seorang pun yang mengganggu Riri hari ini. Sarapan dan makan siang diantarkan ke kamar oleh Sera.
"Aku akan menelepon Dava dan mengakhiri semuanya." Riri beranjak dari tidurnya dan mengambil ponselnya yang ia lemparkan ke karpet.
Baru saja gadis itu, akan menekan nama Davanka di ponselnya. Pria itu malah lebih dulu menghubunginya.
"Kita putus!" Riri berucap datar saat pria di seberang menyapanya dengan lembut. Namun, pria itu menolak keputusan Riri dan mengajaknya bertemu di tempat biasa.
Riri pun menutup teleponnya, lalu ia membersihkan dirinya. Sekitar lima belas menit di kamar mandi. Gadis itu keluar dengan wajah lebih fresh. Handuk kecil melilit di kepalanya.
Kemudian, gadis itu memilih pakaian terbaiknya dan akan merias wajahnya secantik mungkin.
Ia bertekad akan membuat Davanka menyesal dengan pilihannya.
Sekitar satu jam gadis itu mempersiapkan diri untuk menemui kekasihnya yang sebentar lagi akan berubah statusnya menjadi mantan. Rambut coklatnya, ia biarkan tergerai, wajahnya ia rias dengan sangat rapi dan cantik. Gadis itu memakai gaun selutut berwana nila dengan cardigan ungu, yang membuatnya terlihat lebih dewasa.
Sepatu slip on berwarna putih ia kenakan di kaki jenjangnya.
"Beuh cantik bener mau ke mana, Kak?" Sera yang tiba-tiba datang tampak terpana melihat penampilan sang kakak hari ini.
"Kakak ada urusan sebentar. Kalau mama sama papa nanya bilang aja kakak ke taman baca," ucapnya panjang lebar.
"Oke, mau dianter Bang Agam nggak?"
"Nggak usah, Kakak udah pesen taksi online. Kamu baik-baik di rumah ya, Dek!" Riri pun berlalu keluar, dan ternyata taksi pesanannya sudah tiba.
Waktu yang ia tempuh cukup lama, apalagi sekaran hari Minggu jalanan macet. Namun, gadis itu tampak biasa saja, malah ia berharap bisa lebih lama lagi sampai ke taman baca. Davanka sudah beberapa kali menghubunginya, tapi ia abaikan.
Sampai akhirnya, gadis yang terlihat sangat cantik itu sampai di tempat tujuan. Riri turun dari taksi dan masuk ke taman baca Caramel. Gadis itu berjalan santai, sampai seseorang menarik tangannya dari samping.
"Kamu cantik banget, Sayang," ucap suara bariton yang dulu selalu Riri rindukan dulu, tapi tidak dengan hari ini.
"Aku ke sini untuk negasin apa yang aku bilang di telepon tadi. Kalau … kita sekarang sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," tegas Riri dengan ekspresi dingin.
"Alasannya apa, Sha?" Dava mencoba meraih tangan gadis itu, tapi selalu ditepisnya.
Riri tak berucap apa-apa lagi, gadis itu mengeluarkan ponselnya lalu memutar video dari Adel. Davanka terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Sha, tolong beri aku kesempatan," pinta Dava.
"Makasih sudah menjadi kekasih yang baik selama ini, Davanka Pramudya. Kita putus!" Riri beranjak dari sana dan kembali memasukkan ponselnya pada tas selempangnya.
"Tunggu, Arisha Shanika!"
Bersambung…
Happy Reading 😘
Patah hatinya udahan dong. Sokooor Dava dicerein ya. Aku nggak suka sama dia.
__ADS_1
Jan lupa jempolnya olahragain ya buat komen bab ini.
Untuk sekarang aku usahain perbabnya lebih dari 1k ya, pokonya lebihnya 1 kata pun, yang penting kan lebih, jadi tungguin terus upnya ya😘