Bengkel Cinta

Bengkel Cinta
Abang Ganteng


__ADS_3

Happy reading


Nurmala meninggalkan area bengkel itu dengan menghentakkan kakinya dengan jengkel. Selama ini ia sudah cukup bersabar dengan segala penolakan Kevin, sebenarnya apa yang kurang dari dirinya.


Cantik, pintar, kaya ada pada dirinya. Bahkan bodynya juga sangat menggoda tapi kenapa Kevin tak pernah melihat dirinya.


Apa susuk yang ia gunakan belum cukup untuk memikat Kevin? Apa ia harus tampah susuk lagi atau pemikat lainnya?


Saat berjalan ia melihat rumah kekasihnya, ia membelokkan jalannya menuju rumah itu dengan wajah manyun. Ia rindu dengan kekasihnya yang selalu sabar dengan dirinya yang selalu bertingkah.


Tok! Tok! Tok!


Nurmala mengetuk pintu rumah itu sebanyak 3 kali kemudian ia membuka pintu rumah yang biasa ia datangi.


"Kok tumben sepi," gumam Nurmala masuk ke dalam rumah seraya permisi.


Rumah itu tampak kosong tak berpenghuni, Nurmala tahu kekasihnya tinggal bersama ibunya yang sedang sakit.


"Ibu tahu kamu cinta sama Nurmala, tapi Nurmala itu tidak baik, Nak. Kamu jangan tersesat godaan setan," ucap sang ibu yang mampu di dengar oleh Nurmala.


"Tapi Jaka cinta sama Nur, Bu. Jaka tulus sama Nur terlebih ia baik atau ndak baiknya, Bu. Maaf tak bisa menuruti permintaan ibu untuk pisah sama Nur," jawab laki laki yang diketahui namanya Jaka itu.


Nurmala yang mendengar itu terenyuh, Jaka memang laki laki tampan dan cukup mapan karena bisa bekerja di sebuah perusahaan karena ia memang lulusan Sarjana.


Sedangkan Nurmala hanya punya ijazah saja tak mau menggunakannya untuk mencari kerja. Bagi Nurmala kekayaan ayahnya tak akan habis begitu saja walau ia tak bekerja.


"Tapi nak, ibu mohon turuti permintaan ibu. Ibu bisa merasakan hawa tak enak menyelimutinya, Ibu tak mau kamu terkena imbasnya," ucap wanita lemah yang berada di atas kasur itu.


Jaka hanya diam, ia bingung disatu sisi ia merasa ibu adalah dunianya sedangkan Nurmala adalah jiwanya.


Walau sudah berulang kali disakiti oleh Nurmala, Jaka tetap cinta pada Nurmala apapun yang dikatakan oleh gadisnya itu selalu diterima dengan lapang dada oleh Jaka.

__ADS_1


Ibu yang merasa ada yang melihat itu langsung menutup matanya. Ia tiba tiba merinding kemudian ia berbisik pada di Jaka jika ada yang mengawasi mereka disini.


"Udah jangan bahas lagi."


Jaka yang paham itu langsung mengangguk kemudian kembali mengelap tubuh sang ibu. Ibunya tak memiliki penyakit serius tapi ia tak mau ibunya capek capek apalagi usia ibu sudah tak muda lagi.


Nurmala yang merasa sudah tak ada yang ingin ia dengarkan itu langsung pergi tanpa pamitan. Nurmala juga sampai meninggalkan rantang yang berisi makanan itu disana.


"Sepertinya dia sudah pergi. Ibu minta kamu untuk ke kota B dan datangilah Ustadz sekaligus kyai disana yang bernama Kyai Zain. Dia tahu cara menyembuhkan penyakit kamu ini, kamu ini terkena pelet nak. Sebelum kejadian tolong dengerin ibu kamu ini," ucap Ibu dengan air mata yang sudah keluar.


"Ini permintaan terakhir ibu, walaupun keluarga Pak RT itu kaya tapi Ibu gak mau kamu sampai masuk ke dalam keluarganya. Ibu gak ridho," ucap Ibu lagi.


"Apa benar aku sudah terkena peletnya Nurmala? Tapi bagimana bisa?" batin Jaka pada dirinya sendiri.


Sedangkan ibu memiliki alasan sendiri kenapa ia bisa sampai seperti ini melarang keras hubungannya dengan Nurmala.


"Kamu tidak sampai berhubungan badan dengan Nur kan Ka?" tanya ibu yang membuat Jaka langsung menggeleng.


"Alhamdulillah, cepat pergilah ke kota B. Biar ibu tenang," ucap Ibu dan mulai dianggukkan oleh Jaka.


"Malam ini juga Jaka akan ke kota B. Tapi ibu harus baik baik aja di rumah ya," ucap Jaka dan dianggukkan oleh ibu.


(Ada apa sebenarnya? Biarlah mereka yang tahu kan ini cerita Sinta dan Kevin)


****


Tringggggggg.


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, jam sudah menunjukkan pukul setengah 3 sore.


"Sin, kita beli tiketnya besok ya. Hari ini Mak gue ajak ketemu sahabatnya yang lagi sakit."

__ADS_1


Sinta yang mendengar itu langsung mengangguk seraya mengucap Alhamdulillah.


"Kok lu seneng banget kayaknya?"


"Kan mau ketemu Mas montir ganteng di bengkel," jawab Sinta dengan wajah senangnya.


Wajah Kevin terukir dalam ingatannya hingga membuat gadis berusia 18 tahun itu tak sabar ingin segera pulang sekolah dan ke bengkel.


"Emang seganteng apa sih cowok yang lu bangga banggain itu?" tanya Tiara dengan keponya.


Tak biasanya ada laki laki yang membuat sahabatnya seperti ini. Padahal kalau hanya kagum hanya bertahan berberapa jam saja.


"Ganteng pokoknya, Jaemin NCT aja kalah sama pesona Abang ganteng," jawab Sinta dengan muka polosnya.


Gadis itu menggendong tas sekolahnya dengan semangat. Keduanya keluar dari kelas itu menuju parkiran. Tiara memang sering membawa mobil jadi tak heran jika mereka ke parkiran bersama sedangkan Sinta gadis itu bisa saja minta dibelikan mobil tapi ia tak mau. Ia ingin memakai motor saja biar cepat katanya.


Mereka naik ke kendaraan masing masing, kemudian keduanya keluar dari area parkir di awali dengan Tiara sedangkan Sinta di belakangnya.


"Gue langsung pulang ya, tapi besok lu harus temani gue beli tiket," ucap Tiara pada Sinta yang ada di sebelahnya.


"Iya."


Padahal beli tiket konser bisa lewat internet tapi memang dasarnya Tiara gadis yang bandel jadi ia ingin membeli langsung, entah dimana lokasinya Sinta juga kurang paham.


Mereka melakukan kendaraan ke tujuan masing masing, Sinta ke bengkel sedangkan Tiara pulang karena sudah di telepon terus oleh kanjeng Mama.


"Gak sabar pingin ketemu Bang ganteng," batin Sinta.


Dengan dalih bayar utang Sinta bisa sekalian cuci mata biar seger setelah 7 jam melihat pak botak terus.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2