Bengkel Cinta

Bengkel Cinta
Bukit


__ADS_3

Happy reading


Pagi harinya, Sinta seakan lupa dengan janjinya dengan Kevin yang ingin jalan hari ini. Setalah sholat subuh tadi, Sinta kembali tidur dan bangun bangun sudah jam 7 kurang. Dengan malas Sinta turun kemeja makan. Karen ia sangat lapar, padahal tadi malam ia sudah makan di rumah Tiara.


"Loh baru bangun dek? Kevin udah nunggu itu loh di ruang tamu. Katanya kalian mau keluar," ucap Ibu dengan bingung. Ia pikir anaknya tadi sudah siap makanya tak ia bangunkan.


"Loh, Sinta lupa. Tapi Sinta laper," ucapnya melanjutkan jalannya menuju meja makan tapi sebelum itu ia membelokkan jalannya menuju ruang tamu.


"Mas kok udah disini?" tanya Sinta yang duduk di samping Kevin yang sedang memainkan ponselnya itu. Tak ada yang menemani selain jus dan juga cemilan di meja itu.


Deg


"Astaghfirullah cobaan apa lagi ini," batin Kevin melihat penampilan Sinta yang sepertinya masih baru bangun tidur.


Bayangkan saja Sinta hanya memakai hotpants dengan kaos oversize jangan lupakan rambut yang di Cepol asal. Sinta sangatlah seksoy jika begini.


"Mas."


"Eh apa sayang?"


"Kenapa udah disini aja pagi pagi."


"Kan kita mau jalan jalan."


"Aku belum sarapan loh. Mas juga kemarin gak bilang jam berapa, tahu pagi pagi banget setelah subuh tadi aku gak tidur," ucap Sinta dengan kesal.


Bahkan bibir Sinta tanpa sadar dimajukan berberapa centi hingga membuat Kevin langsung mengucapkan astaghfirullah.


"Astaghfirullah sayang, mas udah nahan nahan loh dari tadi. Bibir kamu itu memang minta di cium ya," ucap Kevin yang sontak saja langsung membuat Sinta langsung menutup bibirnya.


"Enggak."

__ADS_1


"Makanya kalau gak mau Mas cium, jangan gini bibirnya. Mas ini juga normal sayang," ucap Kevin dengan lembut mengelus bibir pink milik Sinta.


"Iya."


"Ayo temani Sinta sarapan, kalau Mas mau kita bisa sarapan berdua. Simulasi jadi suami istri nanti, makannya berdua aku yang nyiapin buat Mas," ajak Sinta yang hanya dianggukkan oleh Kevin.


Mereka berdua berjalan menuju meja makan, karena Kevinpun sendirian di ruang tamu itu.


Kevin duduk di samping Sinta, Kevin yang sudah kenyang itu hanya menemani sang calon istri makan.


"Mas gak apa apa nunggu Sinta mandi dulu?" tanya Sinta pada Kevin.


"Gak apa apa, lagian Mas udah biasa nunggu gini," jawab Kevin dengan senyum.


"Jangan lupa bawa baju ganti ya, mungkin kita akan nginep nanti," ucap Kevin dan dianggukkan oleh Sinta.


Setalah menghabiskan makannya, Sinta langsung pamit pada Kevin dan bersiap dengan cepat. Untungnya tadi setelah subuh ia sudah menyiapkan baju untuk hari ini. Sinta juga memasukkan dua pasang baju ke tas gendongnya. Kemudian berlalu menuju kamar mandi.


Tak sampai 30 menit Kevin menunggu Sinta, gadis itu sudah keluar dari kamar dengan cantiknya. Walau pakaian yang di pakai itu simple.


"Ayo mas."


Mereka yang sudah pamit pada ibu itu langsung berangkat mengendarai mobil Kevin yang sebelumnya sudah di cuci.


Kevin sangat menyiapkan semuanya untuk hari ini dan mungkin besok.


"Kita mau kemana mas?" tanya Sinta dengan penasaran.


"Ke bukit sayang, Mas mau ajak kamu lihat pemandangan dari atas bukit nanti."


"Kok pake bawa baju ganti?" tanya Sinta.

__ADS_1


"Mungkin kita nanti akan nginep, karena tempatnya juga lumayan jauh," jawabnya dengan senyumnya mengambil sesuatu dari balik saku jaketnya.


Kevin memberikan permen karet pada Sinta, dan Sinta menerima itu. Mereka bercanda ria di dalam mobil itu hingga sampailah di sebuah bukit.


Untuk mencapai puncaknya mereka perlu jalan kaki sekitar 20 menitan, Kevin mengangkat tas ranselnya ke punggung. Sedangkan Sinta hanya diam karena ia tak melakukan persiapan apa apa.


"Ayo sayang."


Keduanya berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertautan, Sinta yang menikmati sumilir angin itu langsung memeluk lengan sang kekasih.


Apalagi ia hanya memakai koas panjang, bukan jaket.


"Kamu kedinginan ya?"


"Dikit," jawabnya yang masih memeluk lengan Kevin hingga membuat dadanya menempel dengan lengan Kevin.


"Tahan tahan, dia cewek lu jangan khilaf," batin Kevin menahan panas dingin di tubuhnya.


Akhirnya setelah melakukan perjuangan untuk berjalan berberapa menit dari tempat parkir akhirnya keduanya sampai di tempat yang di tuju. Tak banyak orang disana, tapi tak sedikit juga.


Kevin mendirikan tenda di bantu oleh Sinta, manja manja gini Sinta juga paham akan memasang tenda karena dulu ia juga ikut pramuka di sekolahnya.


Setalah selesai memasang tenda, Kevin mengajak Sinta untuk masuk. Karena cuaca di luar cukup panas padahal tadi saat masih di bawah dingin.


Bruk


"Capek," ucap Sinta membaringkan tubuhnya di tenda itu.


Kevin yang melihat itu juga ikut merebahkan tubuhnya di sana. Rasa capeknya mungkin lebih mendominasi mereka karena jarang jalan naik seperti ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2