Bengkel Cinta

Bengkel Cinta
Menerima Lamaran


__ADS_3

Happy reading


Mereka semua menatap Ibu Rahma yang duduk di samping sang putra.


"Mungkin memang ini waktu yang tepat untuk menceritakan tentang keluarga kita, Nak. Ibu gak mau berbohong lagi, entah bagaimana nanti kedepannya Ibu pasrah," ucap Bu Rahma yang membuat mereka bingung.


"Ada apa ini, Bu Rahma tolong ceritakan pada kami. Ada apa ini sebenarnya?" tanya Ibu yang sudah tak bisa menahan ke kepoannya.


"Jadi sebenarnya Kevin itu bisa melihat hal hal yang tak kasat mata. Seperti hantu, itu adalah keturunan dari nenek buyut dari ayahnya. Sudah pernah mata batinnya di tutup tapi selalu gagal. Hingga akhirnya Bapak Kevin memutuskan untuk membiarkan mata batin Kevin di buka."


"Selama ini memang tak banyak gangguan mungkin hanya gangguan kecil, tapi sejak Kevin bercerita ia telah menolak wanita yang memakai ilmu gaib. Hampir tiap hari Kevin diganggu. Untungnya Bapaknya Kevin meninggalkan gelang kayu Bidara ini pada kami. Yang satu untuk Kevin sendiri dan yang satu untuk Nak Sinta. Katanya bisa digunakan untuk penangkal setan kata bapak mah," cerita Bu Rahma yang membuat mereka terdiam. Apalagi Ayah, yang memang belum percaya akan hal hal seperti itu.


Tapi kini ia sedikit percaya akan apa yang dikatakan oleh Bu Rahma. Sedangkan Sinta yang sedang mengelus lembut rambut Kevin itu langsung menghentikan elusannya.


"Jadi Mas Kevin memberikan gelang ini pada Sinta untuk menjaga Sinta, Bu?" tanya Sinta pada Bu Rahma.

__ADS_1


Tak mungkin kan ia tanya pada Kevin yang sedang terlelap dengan posisi PW nya.


"Iya, dia hanya takut wanita itu malah menyerang kamu. Apa selama ini kamu merasa ada yang ganggu nak?" tanya Bu Rahma pada Sinta.


Sinta sontak langsung mengingat kejadian kejadian janggal yang berberapa hari ini ia alami. Seperti hampir keserempet motor, jendela ada yang ketuk tapi tak ada orang, dan akhir akhir ini adalah makhluk hitam yang menatapnya dari jendela tadi.


Sinta mengangguk dengan pelan hingga membuat mereka hanya bisa menghela nafasnya.


"Kamu lebih hati hati ya, nak. Kalau ada hal yang menganggu kamu langsung katakan pada Kevin. Jangan di pendam," ucap Bu Rahma yang lagi lagi dianggukkan oleh Sinta.


"Bu, Yah, Bu Rahma. Bolehkan Sinta menjawab lamaran Mas Kevin tadi?" tanya Sinta pada mereka yang ada di sana.


"Boleh sayang."


"Sinta menerima lamaran Mas Kevin, tapi Sinta gak bisa nikah untuk saat ini. Sinta masih harus menyelesaikan sekolah Sinta dan Sinta juga sudah ada rencana untuk melanjutkan kuliah," jawab Sinta pada mereka.

__ADS_1


Kevin yang mendengar lamarannya diterima itu langsung membuka matanya.


"Beneran dek lamarannya kamu terima?" tanya Kevin pada Sinta.


"Iya Mas, sesuai ucapan Sinta. Sinta gak mau pacaran, tapi Sinta mau lamaran aja biar kita terikat. Walau nikahnya entah kapan," jawab Sinta dengan senyum. Rasa takut karena makhluk hitam tadi sudah hilang entah kemana.


"Alhamdulillah, akhirnya Ibu punya calon mantu," ucap Ibu penuh syukur.


Begitupun kedua orang tua Sinta. Mereka tak menyangka jika putri mereka sudah sebesar ini hingga memutuskan hal yang tidak kecil untuk mereka.


"Alhamdulillah. Akhirnya Kevin bisa gandengan tanpa takut dilepas lagi sama Dek Sinta," ucap Kevin yang membuat orang tua Sinta menatap Kevin dan Sinta bergantian.


"Ehh maaf Bu, Yah. Kevin sudah reflek kalau pegang Sinta, jadi mohon maaf ya," ucap Kevin yang membuat mereka tertawa.


Padahal tadi Kevin masih terbaring lemah di pangkuan Sinta. Tapi sekarang sudah seperti tak terjadi apa apa. Mungkin ini yang dinamakan kekuatan cinta.

__ADS_1


Tiara yang melihat itu tersenyum senang, Tiara memeluk Sinta dengan lembut seraya mengucapkan selamat. Ia tak menyangka jika sahabatnya sudah mau jadi istri.


Bersambung


__ADS_2