
Happy reading
Kini Sinta dan Kevin sedang berada di rumah tamu. Sedangkan keluarga lain sedang ada di ruang keluarga menonton tv.
"Dimakan kuenya mas."
Sinta langsung mengambilkan toples berisi kue yang tadi ia buat bersama bibi.
"Ini kamu yang buat?" tanya Kevin yang dianggukkan oleh Sinta.
Sinta menyuapkan kue semprit itu pada Kevin tapi Kevin malah mendapati tangan Sinta yang terbalut kasa.
"Eh ini kenapa ini?" tanya Kevin meletakkan kembali toples yang ada di tangan Sinta itu ke atas meja.
"Tadi saat mau ngambil loyang lupa gak pake sarung tangan. Jadi kena deh, udah diobati kok," jawab Sinta dengan jujur.
"Kamu ini kok ceroboh sih, terus gimana sakit?" tanya Kevin dengan cemas menatap Sinta yang hanya menggeleng.
"Tadi panas doang sekarang udah gak apa apa," jawab Sinta mengelus tangan sang kekasih.
Tak bisa dipungkiri jika Sinta senang mendapat perhatian dari Kevin walau secara sederhana seperti ini. Wanita mana yang tak senang mendapat perhatian dari kekasihnya sendiri.
"Lain kali kamu harus hati hati ya sayang. Jangan sampai kejadian ini terjadi lagi, kalau perlu kamu nanti gak perlu buat makanan gini dan gak perlu masak," ucap Kevin yang tak ingin sang kekasih kenapa napa.
Padahal sebagai seorang wanita yang baik dan benar, cedera sedikit atau lecet sedikit karena pekerjaan rumah itu adalah hal yang biasa. Walau pekerjaan rumah bukan tugas seorang istri. Nantinya tugas rumah adalah tanggung jawab bersama, suaminya juga harus membantu sang istri. Bukan cuma pencari nafkah saja.
__ADS_1
"Gak usah lebay, aku udah biasa dapat luka kayak gini. Bahkan aku dulu pernah masuk rumah sakit gara gara jatuh dari sepeda motor."
"Emang kamu gak mau makan makanan aku?" tanya Sinta lagi dengan muka sendu.
Bagaimana jika ia tak boleh masak dan nanti Kevin malah menyukai masakan orang lain dan jatuh cinta ke orang itu gimana? Kan yang rugi Sinta sendiri.
Kata orang orang cinta itu bisa datang dari lidah turun ke hati. Dari makanan turun ke hati, kan bisa saja. Membayangkan hal itu saja sudah membuat Sinta bergidik ngeri.
"Aku mau makan masakan kamu, masakan kamu enak siapa sih yang gak mau. Tapi aku juga gak mau kamu celaka gara gara masak buat aku," jawab Kevin yang membuat Sinta hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Aku gak apa apa, ini cuma luka kecil aja. Palingan 2 hari udah sembuh," jawab Sinta dengan senyum manisnya.
"Daripada kita ribut gara gara luka kecil ini, lebih baik kamu makan kue buatan aku. Enak kok, gak terlalu manis dan tidak terlalu asik juga. Karena aku selalu mengutamakan kesehatan.
Sinta tak mau larut dalam maslah gara gara luka ini. Gadis itu mengambil lagi toples yang ada disana dan memakan sendiri kue buatannya.
"Hmmm."
"Soal pernikahan tadi aku gak bercanda, kemarin itu aku juga gak bercanda. Tapi kamu nganggep aku cuma bercanda."
Sinta menghentikan makannya kemudian menatap Kevin yang juga sedang menatapnya.
"Jawaban kamu gimana?" tanya Kevin dengan serius.
"Mas yakin mau nikahin Sinta? Sinta masih kecil loh. Gimana kalau nanti kita udah nikah, Sinta gak bisa jadi istri yang baik buat Mas Kevin dan menantu yang baik buat Ibu Mas Kevin. Aku masih kekanak kanakan, bahkan aku juga masih sering nangis cuma gara gara lihat drama."
__ADS_1
"Gimana kalau Sina cuma bisa nyusahin Ibu sama Mas aja di sana, pasti Mas bakal boyong Sinta kan? Karena Mas cuma punya ibu sekarang," ucap Sinta yang masih merasa belum pantas menjadi seorang istri.
"Hei hei hei sini dengerin Mas ya sayang. Aku juga punya banyak kekurangan begitupun kamu, tapi aku menikahi kamu bukan untuk menuntut kesempurnaan dari kamu tapi untuk saling menyempurnakan kita berdua. Wajar kalau kamu masih suka nangis, wajar kalau kamu masih kekanak-kanakan karena kamu masih muda. Jangan terbebani dengan status kita yang sudah menjadi suami istri. Kamu masih bisa jalan sama teman teman kamu dan juga kita masih bisa kencan seperti biasanya. Bedanya kalau dulu masih haram buat sentuh kamu, kalau nanti sudah halal."
"Jadi gak perlu takut dosa kalau mau cium cium kamu."
"Sekarang umur aku udah 26 sayang, kalau nunggu kamu lulus kuliah usia aku udah 30 tahun. Ya sebenarnya tak apa apa, tapi ibuku juga sudah tua ingin sekali menimang cucunya sendiri. Setiap hari aku selalu dituntut untuk cepat menikah, mumpung udah ada calon aku mau kita menikah."
"Tapi aku menikah bukan semata mata ingin anak dari kamu kok yank. Walau nanti kamu gak mau hamil gak apa apa, yang penting kita sudah halal. Aku gak nuntut banyak kok, kadang juga aku kasihan sama ibu yang harus sendirian di rumah itu."
Sebelum Kevin kembali bercerita, Sinta menghentikannya dengan meletakkan jari telunjukku di bibir Kevin.
"Udah stop gak usah cerita lagi."
"Aku mau."
Tak terkira bagaimana perasaan bahagia Kevin saat ini. Mendapat jawaban yang membuat statusnya nanti akan berubah.
Kevin langsung memeluk Sinta dengan lembut dan hal itu langsung di balas oleh Sinta.
"Seneng sekarang?" tanya Sinta dan dianggukkan oleh Kevin.
Cups
"Thank you so much."
__ADS_1
Kevin mencium bibir Sinta dengan lembut, laki laki itu menyalurkan rasa bahagianya dengan mencium bibir Sinta. (Emang dasar cari kesempatan dalam kesempitan si Kevin)
Bersambung