
Happy reading!
Setalah hal pernikahan disetujui oleh kedua pihak keluarga, dan juga kedua keluarga sudah memutuskan kapan baiknya mereka menikah.
Yaitu 3 Minggu setelah hal pernikahan ditetapkan, dengan akad di rumah pengantin wanita dan resepsi di rumah mempelai laki laki. Kenapa tidak di hotel? Simpel jawabannya, kalau bisa di rumah kenapa harus di hotel. Karena kerabat mereka juga harus tahu rumah masih masing.
Gaun pengantin juga sudah disiapkan oleh kedua orang tua mereka, siapa lagi kalau bukan Bu Nila dan Bu Rahma.
Semua undangan juga sudah ada di buku catatan nanti tinggal mengisi saja.
Selama 3 Minggu ini, bengkel terpakasa di tutup karena pegawai dan pemilik bengkel juga bantu bantu di rumah sang bos. Mereka juga tahu diri, mereka pekerja dan juga bos mereka sudah tak memiliki ayah jadi dengan suka rela mereka membantu mempersiapkan semuanya. Bahkan Mpok Ijah pun ikut berpartisipasi membantu mereka dengan menyediakan makanan nanti.
Kedua keluarga ribet dengan urusan masing masing. Begitupun dengan Sinta dan Kevin yang saat ini sedang menyandarkan punggung mereka di kursi mobil itu.
"Tahu gini minta akad nikahnya di KUA aja.. Bayangin aja belum nikah aja persiapannya udah melelahkan seperti ini. Apalagi pas kita nikah nanti, bisa encok diusia muda," cerocos Sinta yang mengeluh karena dirinya lelah setelah foto prewedding tadi.
Kevin yang mendengar itu hanya bisa tersenyum kemudian memberikan sebotol minuman pada Sinta.
"Ini sebagian dari usaha kita sayang. Aku anak tunggal, kamu juga anak bungsu. Apalagi dulu pas Bang Rendi nikah juga di pestakan? Apa kata orang nanti kalau si bungsu tidak di pestakan hmm? Bagi kita sih gak apa apa tapi pandangan orang beda beda."
Sinta menganggukkan kepalanya, ia memang tak pikir panjang saat berkata jadi tolong maafkan.
"Iya Mas, setelah ini kita ke mana? Foto tadi kan juga kan sudah dikirimkan ke kita," ucap Sinta dan dianggukkan oleh Kevin.
Yah begini enaknya punya teman dengan segala profesi, minta apa apa langsung sat set sat set. Gak perlu nunggu lama.
__ADS_1
"Cetak kartu undangan sayang, Mas udah hubungin teman Mas. Tapi kalau kamu mau mampir ke mana dulu juga ayo," ucap Kevin yang dijawab gelangan oleh Sinta.
"Kita langsung ke tempatnya aja ya, nanti kalau sudah beres semua kita baru mampir ke mana gitu buat habisin waktu," jawab Sinta dan dianggukkan oleh Kevin.
Setalah puas beristirahat di dalam mobil. Kevin langsung melajukan mobilnya menuju tempat pencetakan kartu undangan untuk pernikahan mereka.
"Mas gak sabar pingin cepat nikah sama kamu, kamu tadi cantik banget pakai gaun putih gitu," ucap Kevin dengan senyum manisnya.
"Tapi emang gak apa apa aku gak pakai hijab?" tanya Sinta yang masih mamang.
"Aku sih gak keberatan tapi kalau kamu mau pakai hijab juga gak apa apa," jawab Kevin dengan senyum.
Ia tak ingin banyak mengatur sang istri karena itu adalah hak sang istri ingin memakai hijab atau tidak yang penting gaunnya sopan udah gitu aja kalau Kevin mah.
"Gak usah ya, aku gak mau di nilai sok alim. Wong akunya aja bobrok kayak gini."
Mereka terus berbincang hingga sampailah mereka di sebuah tempat yang lumayan besar untuk Sinta. Kevin memarkirkan mobilnya di parkiran kemudian berjalan menuju tempat itu.
Ternyata mereka sudah ditunggu di ruang depan oleh pemilik tempat ini. Ternyata juga teman Kevin.
"Udah mau nikah aja lu bro. Kaget tadi waktu lu bilang mau cetak kartu undangan. Gue pikir masih entar entaran. Calonnya juga gak main main, pantes mau cepet cepet nikah," goda Rudi pada pasangan ini.
"Jodohnya udah di depan mata, buat apa nunggu nunggu," jawab Kevin kelewat santai yang di balas tawa ringan oleh Rudi.
Kemudian Rudi mengeluarkan contoh contoh undangan pada mereka.
__ADS_1
"Kamu mau yang mana yank?" tanya Kevin.
"Bentaran dulu napa, aku masih milih ini. Gak sabar banget," jawab Sinta mengambil salah satu kartu undangan pernikahan di depannya.
"Ini bagus, warnanya mahal buat aku. Dan pitanya lucu, nanti buat main di rumah kalau sisa," ucap Sinta dengan senyum memberikan kartu yang ia pilih.
Sederhana tapi bagus untuk mereka, berwarna silver dilengkapi oleh pita berwarna silver yang sangat cantik.
"Pilihan yang bagus, feminim sekali. Mau buat berapa kartu?" tanya Rudi mengambil kartu undangan itu.
"700 kartu, jangan lupa di kirim sebelum hari H ya. Ini daftar nama yang harus di tulis," ucap Kevin memberikan catatan di buku itu pada Rudi.
"Oke siap siap, ini di tulis dulu lengkapnya gimana."
Rudi memberikan sebuah buku yang bertuliskan nama panjang mereka, orang tua, alamat tempat, dll. Setalah selesai mengisi itu langsung saja memberikannya pada Rudi.
"Siap siap, karena kita teman gue diskon 15% deh itung itung bantuin calon pengantin. Gue doain acara kalian lancar ya," ucap Rudi dengan tulus.
"Thanks bro."
"Makasih kak, jangan lupa nanti datang ya. Satu undangannya buat Kak Rudi," ucap Sinta dan dianggukkan oleh Rudi.
Setalah itu mereka bertiga terlibat perbincangan sebentar dengan hangatnya Rudi menyambut mereka.
Setalah puas berbincang mereka memutuskan untuk pamit pada Rudi.
__ADS_1
Bersambung