
Happy reading!
Sinta yang melihat betapa gagahnya benda itu mulai memejamkan matanya. Bibir Kevin sudah tak bisa dikondisikan lagi, laki-laki itu membuat banyak tanda di ***** ***** Sinta.
"Sayang jangan takut mengeluarkan suara aku hmmm. Di kamar gak akan kedengaran sampai luar walau kamu jerit sekalipun," bisik Kevin dan dianggukkan oleh Sinta.
Laki-laki itu kembali mencium Sinta kemudian semakin turun dan turun. Tangan laki-laki itu meremat si kembar dengan senyum.
melihat sang istri yang masih malu malu itu membuat Kevin gemas dibuatnya.
"Gak apa apa, kita udah suami istri jadi udah halal."
Akhirnya kini cinta hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Suara yang keluar dari bibir Sinta sangat membuat Kevin semangat.
"Ahhh mas geli tapi ahhh."
"Hmm."
Kevin memasukkan jarinya yang membuat Sinta sedikit meringis. Baru satu jari aja sakit apalagi benda itu.
"Masshhh ahh ahhh lebih cepat."
"Ahh mass."
Merasa sudah cukup memberi ****** pada Sinta, Kevin kembali mencium Sinta dengan lembut kemudian membisikkan kalimat yang menenangkan bagi Kevin. Kevin sudah tak bisa mundur jika begini apalagi di pagi hari begini suasananya sangat pas untuk nananinu.
"Mas akan pelan pelan oke, kalau sakit kamu boleh gigit pundak mas atau cakar juga gak apa apa," ucap Kevin dan dianggukkan oleh Sinta.
Laki-laki itu sedikit kesusahan untuk memasuki gawang sang istri. Seperti ada yang menahannya untuk masuk tapi ya tak boleh menyerah sampai di sana laki-laki itu memaksa dirinya untuk masuk yang membuat cinta merintis kesakitan dibuatnya.
__ADS_1
"Sayang susah."
Mereka sama-sama awam yang hanya mengandalkan insting manusiawi saja.
"Mas sakit."
"Yang masih dipintu nih, masa udah sakit hmm?" tanya Kevin mulai mengelus pipi sang istri dan menciumnya.
Karena Sinta yang terlena dengan ciuman Kevin, tak lagi kita menyia-nyiakan kesempatan agar kekasihnya tak terlalu merasakan sakit. Dengan sekali dorongan Kevin bisa membobol gawang sang istri.
Jleb
"Ahh mass sakitt."
"Sakitnya bentaran kok sayang."
Rasanya tak tega melihat sang istri yang sampai menangis tapi ia mundur apalagi sudah masuk ya harus lanjut.
"Ahh mas masss."
Berberapa saat mereka melakukan itu Kevin merasa ada sesuatu yang ingin keluar di dalam tubuhnya yang membuat ia semakin mempercepat gerakan hingga membuat tubuh keduanya ikut ber****ng lebih cepat.
"Mass."
****
Akhirnya Kevin membiarkan cebong miliknya memenuhi rahim sang istri. Sukur sukur jika langsung jadi baby dan mereka lama punya anak.
"Ehhh sshhh."
__ADS_1
"Mas berat," gumam Sinta dengan nafas terengah-engah.
Kevin yang melihat sang istri itu kemudian mengucapkan kening Sinta dengan lembut. Kevin bahagia mendapatkan apa yang selama ini Sinta jaga. Keduanya gini sudah resmi saling memiliki.
"Terima kasih sayang, terima kasih atas segalanya," ucapnya memeluk tubuh Sinta yang masih berada di bawahnya.
"Iya mas, kan udah kewajiban Sinta sebagai seorang istri."
Jangan lembut cinta mulai mengelus rambut sang suami. Kini ia sudah resmi menjadi seorang istri. Sinta karena menyerahkan mahkotanya pada sang suami.
"Sakit mas."
Ucapan cinta membuat Kevin yang tadinya meredam dirinya kini mulai tersulut lag.
"Mas aku capek loh."
"Satu kali lagi. Habis itu kita tidur mau."
"Tapi laper."
"Habis ini kita makan. Mas udah gak kuat."
Dan akhirnya ronde kedua pun mereka lalui dengan senang sepertinya Sinta akan ketagihan dengan apa yang mereka lakukan saat ini.
Setelah sampai puncaknya Kevin kemudian Kevin menggulingkan tubuhnya ke samping sang istri dan memeluk tubuh Sinta.
"Terima kasih sayang, aku mencintaimu," bisiknya dengan lembut.
"Aku juga mencintaimu suamiku."
__ADS_1
Bersambung