
Happy reading
Setelah membeli kue cubit tadi, Kevin akhirnya mengajak Sinta yang sedang bad mood itu pulang. Kevin juga sudah mengantongi kue cubit dan berberapa kue lainnya untuk keluarga Sinta.
"Kenapa sih dari tadi diam terus? Marah gara gara tadi?" tanya Kevin memelankan laju motornya.
Hingga membuat Sinta yang memang dasarnya suka kebut kebutan malah makin kesal. Ia melepaskan pelukannya pada Kevin hingga membuat sang pemilik pinggan tak terima.
Kevin menghentikan motornya di pinggir jalan kemudian ia membuka helmnya.
"Mas bisa jelasin sama kamu soal Nurmala tadi, supaya kamu gak ngambek ngambek marah gini," ucap Kevin yang sudah turun dan menghadap ke arah Sinta yang masih kesal.
"Mas gak usah jelasin apa apa. Sinta kesel sama Mas Kevin," jawab Sinta dengan kesal, perempuan itu juga melepaskan pegangan tangan Kevin.
Kevin tak menyerah untuk menjelaskan semuanya tentang nurmala pada Sinta. Kevin tak mau hubungan yang baru saja mendapat lampu hijau itu harus kembali ke lampu merah dengan cepat.
Setelah beberapa saat mencoba menjelaskan akhirnya Sinta mau mendengarkan penjelasan Kevin. Perempuan itu diam duduk di atas motor hingga tubuhnya dan kevin kini hampir sejajar karena Sinta yang memang dasarnya pendek berada di jok motor Kevin yang tinggi.
"Jadi Si nur nur tadi anaknya pak RT?" tanya Sinta yang kini mulai paham.
"Iya dek. Mas gak pernah tangapin apa yang dia lakukan kok. Kalau kamu gak percaya kamu bisa tanya sama orang orang dibengkel," jawab kevin dengan lembut.
"Kamu percaya kan sama Mas?" tanya Kevin dengan lembut tak lupa juga tatapan teduh dari laki laki itu.
"Hmm, tapi Mas bisa janji kan kalau Mas gak bakal terpesona sama si Nurmala itu?" tanya Sinta dan dianggukkan oleh Kevin.
"Lagian yang Mas denger itu, dia udah punya pacar. Tapi gak tahu kenapa dia ngejar mas sampai segitunya," jawab Kevin dengan jujur.
Sinta menganggukkan kepalanya pertanda dia paham kita selama ini Nurmala yang mengejar Kevin.
"Kamu udah gak marah kan sama Mas?" tanya Kevin dan dianggukkan oleh Sinta.
"Baby di perut kamu pasti seneng ayah dan bundanya udah baikan," ucap Kevin mengelus perut rata Sinta.
Sinta yang mendapat perlakuan itu langsung memerah. Kan tadi ia hanya bercanda agar Nurmala tidak ganggu mereka tapi sekarang malah menjadi bahan godaan Kevin.
__ADS_1
"Mas tadi kan cuma bercanda, masa iya Sinta hamil," ucap Sinta dangan malu. Kemudian melepaskan tangan Kevin dari perutnya.
"Baby, bunda kamu marah marah lagi sama Ayah. Bilangin ke Bunda jangan marah marah sama Ayah," ucapnya yang membuat Sinta makin malu.
"Mas udah ihh ayo pulang," jawab Sinta dengan pelan.
Sinta tak mau sampai orang orang menganggap mereka sepasang suami istri. Apalagi perlakuan Kevin yang sangat menyayangi dia dan calon bayi bohongan itu.
"Hahaha kamu lucu deh, emang kamu mau hamil beneran? Kalau iya Mas bisa langsung wujudin," ucap Kevin dangan senyum menggoda.
"Mas ayo pulang, jangan goda Sinta terus."
Kevin terus tertawa melihat wajah Sinta yang memerah karena ulahnya. Ia melabuhkan kecupan singkat di kening Sinta kemudian ia naik lagi ke motor itu.
"Pegangan dek. Udah malam juga, aku gak mau kamu kena marah sama ayah kamu," ucap Kevin dan dianggukkan oleh Sinta.
Sinta langsung memeluk perut Kevin dengan erat kemudian Kevin menjalankan motor itu dengan kecepatan penuh agar mereka cepat sampai di rumah sang gadis. Sinta yang sudah membaik moodnya itu tersenyum sepanjang jalan. Apalagi hubungan Kevin dan Sinta sudah seperti orang pacaran. Sinta senang begitupun dengan Kevin.
"Mas Kevin bikin gue meleleh aja sih. Pake kecup kecup segala, kan kalau gini aku makin baper," gumam Sinta yang tentu tak terdengar oleh Kevin.
"Ya Allah semoga hubungan ini dipermudah kedepannya," ucap Kevin dengan senyum tipisnya.
Usianya sudah tak lagi muda untuk bermain main akan cinta, apalagi ibunya yang kekeuh menginginkan mantu dan gendong cucu.
Aishh memikirkan ibunya itu ia jadi sedikit kesal saat dulu ia banyak dikenalkan dengan cewek cewek yang sangat sangat bukan kriterianya. Ada yang pakaiannya ketat sampai yang menyerupai laki laki. Dari yang menggoda sampai yang cupu pernah dikenalkan ibunya padanya. Tapi semuanya ia tolak karena ia tak suka dengan pilihan sang ibu.
Berberapa menit kemudian motif yang dikendarai Kevin sampai di dalam rumah milik Sinta. Pukul 8 lebih 56 menit, masih ada 4 menit lagi untuk menunjukkan pukul 9 malam.
Ayah Anto (Ayah dari Sinta) sudah menunggu mereka di depan rumah dengan ditemani oleh Ibu Nila yang juga ikut menunggu anak gadisnya.
"Makasih sudah nganterin Sinta sampai rumah Mas," ucap Sinta setelah ia turun dari motor.
"Iya sama sama dek. Kan memang sudah tugas Mas antar kamu sampai rumah. Kan yang ajak kamu keluar tadi Mas," jawab Kevin dengan senyum.
"Nak Kevin, terima kasih sudah mengantar Sinta sampai di rumah tepat waktu. Maaf om gak bisa ajak kamu mampir udah malam gak enak sama tetangga," ucap Ayah dengan senyum di wajah tuanya.
__ADS_1
"Iya pak ndak apa apa. Terima kasih juga sudah mengizinkan Kevin untuk ajak Sinta malam mingguan," jawab Kevin mencium punggung tangan ayah dan ibu Sinta.
"Iya."
Sinta yang melihat itu tersenyum, Kevin bisa dengan cepat mengambil hati kedua orang tuanya. Hingga membuat ia tenang, soal nanti jika kedatangan Kevin di tolak atau di terima.
"Dek bisa bicara sebentar?" tanya Kevin pada Sinta yang dianggukkan oleh Sinta.
"Om, Tante saya boleh bicara sebentar sama Sinta?" tanya Kevin pada orang tuanya Sinta.
"Boleh nak. Kalau begitu kami masuk dulu, kamu hati hati di jalan ya," jawab Ibu pada Kevin seraya menarik lengan suaminya dengan lembut.
Kini hanya tinggal Sinta dan Kevin disana, Kevin melepas gelang kayu yang ia pakai kemudian ia menarik tangan Sinta dan memakaikan gelang itu pada sang pujaan.
"Setelah kejadian tadi, tolong kamu jangan lepas gelang ini ya Dek. Bahkan kamu mandi atau apapun jangan pernah kamu lepas gelang kayu ini. Mas gak mau kamu kenapa napa napa, cuma gara gara Nurmala," ucap Kevin menatap gelang yang sudah terpasang di tangan Sinta.
"Kenapa Mas? Aku harus pakai gelang kayu ini setiap hari?"
"Adalah pokoknya, kamu ingat pesan Mas ya. Jangan pernah kamu lepas, bahkan saat kamu pentas seni nanti," ujar Kevin yang enggan menjawab pertanyaan Sinta.
Gelang kayu itu tampak mahal di tangannya. Apalagi gelang yang mengkilap jika terkena cahaya. Sinta suka.
"Oke siap, Sinta bakal pakai terus gelang ini," ucap Sinta dengan senyum.
Kevin tersenyum mendengar itu, kemudian ia mengelus rambut Sinta kemudian melabuhkan kecupan singkat di kening gadis itu.
Kevin memberikan boneka dan juga makanan yang tadi ia beli pas Sinta ngambek. Sinta menerimanya dengan senang.
"Makasih mas."
"Iya dek. Aku pulang dulu ya, kamu masuk habis itu tidur ya."
"Iya siap."
Kevin kemudian memakai kembali helmnya dan menjalankan motor itu meninggalkan area tempat tinggal Sinta.
__ADS_1
Bersambung