
Happy reading
Tak terasa ujian praktek yang menyita banyak waktu Sinta itu akhirnya selesai dengan adanya pentas seni. Sinta dan satu kelompoknya membawakan drama tradisional dan juga gadis itu membawakan puisi receh karyanya di depan umum.
Kevin yang memang niat ingin melihat wanita pujaannya tampil itu juga ikut menyaksikan.
Dan disinilah mereka sekarang, di sebuah taman kota dengan jajan di tengah tengah mereka.
"Sinta tadi gimana, Mas? Gak jelek kan dramanya?" tanya Sinta seraya memakan pentol yang dibelikan oleh Kevin tadi. Bahkan make up drama tadi juga masih stay di wajahnya, karena ia lupa membawa micellar water karena buru buru.
"Bagus, dek. Bahkan saat Mas SMA dulu aja gak ada tuh pentas seni yang disaksikan oleh banyak orang," ucap Kevin dengan senyum.
"Mas SMA juga di sekolah Sinta itu kan?"
"Heem."
Kevin juga ikut memakan batagor yang penuh dengan bumbu kacang itu.
"Mas tuh lulusan apa sih?" tanya Sinta yang kini kepo dengan pendidikan laki laki yang dinyatakan dekat dengan dirinya itu.
"S1 jurusan manajemen," jawab Kevin jujur.
"Loh, kalau jurusan manajemen kenapa Mas milih di bengkel?" tanya Sinta yang kini bingung dengan apa yang dipikirkan oleh Kevin. Walau sekarang gajinya itu hampir setara dengan gadi karyawan di kantor.
"Bengkel itu adalah warisan dari ayah Mas, Dek. Bengkel itu yang udah buat mas seperti saat ini. Kalau bukan Mas yang nerusin siapa lagi? Nanti malah nganggur gak keurus," jawabnya yang membuat Sinta paham.
__ADS_1
Bengkel yang semula sangat kecil itu kini berubah menjadi besar. Tapi belum ada rencana untuk menambah cabang lagi. Bukannya tidak mau tapi belum ada waktu, karena yah Kevin masih muda juga belum ada pikiran buat kesana.
"Dek."
"Iya Mas."
"Nanti malam Mas mau ke rumah, sekalian mau meminta kamu sama ayah dan ibu kamu," ucap Kevin yang membuat Sinta tersedak pentol yang ia makan. Reflek Sinta langsung mengambil minuman bekas Kevin tadi.
"Pelan pelan dek. Mas gak mau kamu kenapa napa gara gara satu pentol," ucap Kevin dengan lembut menepuk punggung Sinta.
Setalah batuknya reda, Sinta langsung menatap Kevin dengan tatapan meminta penjelasan.
"Mas bener?"
"Iya dek, mas gak bisa lama lama ngundur waktu buat ngikat kamu. Masa kita udah hampir sebulan kita stuck disini aja. Kan kamu sendiri gak mau pacaran, maka dari itu kita langsung tunangan dulu aja."
"Kata Pak Ustadz niat baik gak boleh ditunda tunda," ucap Kevin dan dianggukkan oleh Sinta.
"Sinta tunggu di rumah ya Mas. Sinta gak perlu pertunangan yang mewah cukup Mas dan keluarga datang aja udah cukup," jawab Sinta dengan lembut.
"Terima kasih izinnya. Habis ini kita cari cincin ya buat tunangan."
"Secepat ini?"
"Heem, aku gak bisa beli sendiri sayang. Nanti gak pas sama jari kamu," ucap Kevin dan dianggukkan oleh Sinta.
__ADS_1
Selama ini Kevin sudah cukup dekat dengan Sinta dan keluarga. Bahkan kakak dan kakak ipar Sinta yang sudah tahu siapa Kevin itu langsung menyetujuinya.
Seperti lamaran Bang Rendi dulu yang dilakukan sederhana tapi pernikahannya yang mewah. Bahkan banyak yang tidak tahu jika Bang Rendi dan Kak Lika udah tunangan dulu.
Kemarin Kevin juga sudah membicarakan ini pada ibu dan kedua orang tua Sinta tanpa sepengetahuan Sinta. Karena Kevin yang akan mengatakan niat ini pada Sinta sendiri.
Setalah menghabiskan jajan yang ada di sana, Sinta dan Kevin berlalu menuju rumah Sinta untuk berganti baju. Sedangkan Kevin menemani Mbak Lika yang sedang momong.
"Cie yang bakal jadi adik ipar gue," goda Mbak Lika pada Kevin. Mereka sahabat sudah lebih dari 7 tahun jadi sudah bukan hal tabu Lika menggoda Kevin.
"Iya mbak ipar. Lagian gue juga lupa kalau abangnya Sinta itu nikah sama cewek petakilan kek lu. Awas aja kalau nanti lu nodain pikiran calon bini gue," ucap Kevin mengancam Lika.
"Hahaha lu gak tahu ya, gue sama Sinta itu satu frekuensi. Lu bakal tahu sifat asli adik gue itu kalau lu udah Deket banget sama dia," ucap Lika dengan tawa yang membuat Nessi bingung.
"Udah udah, nak Kevin bener nanti malam mau kesini?" tanya Ibu yang memang tak ada acara keluar rumah hari ini.
"Iya Bu. Mohon izinnya juga mau ajak Sina beli cincin," jawab Kevin dan dianggukkan oleh Ibu.
Kedua orang tua Sinta tak melarang jika Kevin ingin melamar anaknya tapi jika nikah itu mereka harus menunggu sampai usia Sinta 20 tahun agar lebih matang.
Tak lama Sinta turun dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Bahkan sangat cantik di mata Kevin.
Tanpa lama lama Sinta dan Kevin pamit pada Ibu dan Kakak Ipar Sinta. Tak lupa Nessi, si kecil yang sangat imut itu.
Tujuan mereka akan toko baju dan juga toko perhiasan. Kevin mengajak Sinta naik mobil karena tak mungkin mereka membawa baju diletakkan di motor.
__ADS_1
Bersambung