
Happy reading
Malam harinya Bu Rahma dan Kevin sudah datang ke rumah Sinta tak lupa mahar yang diminta oleh Sinta sudah dibawa di mobil.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Terdengar ramai jawaban dari dalam rumah itu, Kevin yang ada di belakang ibu dan kakeknya itu langsung celingak-celinguk mencari keberadaan Sinta tapi tak kunjung ditemukan.
Setalah menyapa dan menyalami keluarga Sina dengan sopan, kini Kevin di ajak kenalan oleh kerabat Sinta yang dari jauh.
"Sudah berapa lama kenal sama Sinta, Nak Kevin?" tanya paman Sinta dengan sok akrab pada Kevin.
"Sudah berberapa bulan, Om."
"Nak Kevin sudah mantap mau memperistri Sinta? Dia masih kecil loh, kalau mau sama anak saya aja ya. Udah 23 tahun, baru lulus kuliah juga," ucap bibi Sinta menatap putrinya yang sedang duduk di karpet memakan kacang.
"Bu, Nita udah punya calon. Jangan godain calonnya Sinta, nanti aku di cekek," teriak Nita yang tak lain adalah anak bibi dan paman itu.
__ADS_1
Mereka yang ada disana tertawa mendengar hal itu, yah Sinta memang sangat tidak suka jika miliknya diganggu oleh orang lain. Apalagi calon suaminya, apa gak dicekek beneran Nita kalau sampai calon suaminya diambil Nita.
"Sintanya gak ikut makan malam bersama om Tante?" tanya Kevin yang sejatinya sangat merindukan sang kekasih.
"Dia makan di kamar, kan masih dipingit."
Mereka tahu apa yang dirasakan oleh Kevin karena mereka juga sudah merasakannya.
Setelah berbincang-bincang dengan keluarga Shinta mereka semua berjalan menuju meja makan dan memulai makan malam mereka.
Tak jarang Kevin yang sedang makan itu mendongakkan kepalanya menatap pintu kamar Sinta yang sedari tadi tertutup.
****
"Mbak, Sinta bosen di kamar terus. Ayo keluar," ajak Sinta pada Mbak Lika yang sedang menemaninya.
"Gak bisa dek. Wong Kevin ada di bawah, kalau kalian ketemu pingitannya gagal dong," ucap Mbak Lika mengelus lembut rambut sang adik.
"Tapi..."
__ADS_1
"Buat Kevin besok terkejut dengan dirimu yang sudah habis perawatan. Pasti Kevin makin cinta sama kamu," ucapnya dengan senyum manisnya.
Sinta kembali berpikir dan benar aku yang dikatakan oleh kakak iparnya. Ia harus membuat Kevin tergila-gila adanya setelah pernikahan ini. Tak dosa kan? Malah dapat banyak pahala.
Kemudian Bibi datang ke kamar mereka membawa nampan yang berisi makan malam. Mbak Lika dan Sinta yang memang lapar itu langsung mengambil makanan mereka dan makannya.
"Eh bi, mas Kevin sama keluarganya udah makan?" tanya Sinta.
"Udah mbak, ini mereka lagi makan bersama di meja makan. Kalau begitu pipi kembali ke dapur dulu ya mbak," pamit bibi dan dianggukan oleh kedua orang itu.
"Mas Kevin kangen deh. Gimana ya caranya biar bisa ketemu sama kamu," batin Sinta yang sudah menahan rindu selama berberapa hari ini.
Setelah selesai memakan makan makan malamnya Mbak Lika memberi sedikit arahan kepada Sinta sebelum menikah. Karena dulu juga merasakan yang namanya dipingit seperti Sinta.
"Mbak nanti kangen kalau kamu udah gak tinggal disini. Walau kita banyak bertengkarnya, tapi mbak sayang banget sama kamu."
"Iya mbak, lagian kan gak jauh rumah ini dengan rumah mas Kevin."
Mbak Lika mengangkut kemudian setelah puas memberi nasehat pada Sinta. wanita hamil itu menyuruh Sinta untuk segera tidur. Karena besok adalah hari bahagia Sinta dan Kevin.
__ADS_1
Bersambung