Bengkel Cinta

Bengkel Cinta
Nakal


__ADS_3

Happy reading


Deg deg deg deg


Jantung keduanya saling beradu karena Kevin dan Sinta berbaring di tempat yang sama dengan jarak yang sangat dekat.


"Mas."


"Hmm."


"Jantung aku kok deg degan gini ya, gak mungkin kan Sinta sakit?" tanya Sina memegang dadanya yang berdebar debar.


"Kamu gak mau rasain berdebar ya jantung Mas hmm?" tanya Kevin dengan senyum. Laki-laki itu langsung menarik tangan Sinta dan meletakkannya di dadanya.


"Astaga itu tadi jantung apa orkes dangdut, kenceng amat," gumam Sinta mendekatkan diri dan meletakkan kepalanya di dada sang kekasih.


Kevin yang melihat Sinta seperti itu hanya bisa tersenyum dengan tipis. Rasanya jantungnya ingin copot seketika saat Sinta meletakkan telinganya di dadanya itu.


Sinta menikmati irama jantung itu seraya menutupi wajahnya dari Kevin. Gadis itu seakan tak punya malu jika seperti ini. Tapi Kevin malah senang dengan apa yang dilakukan oleh Sinta.


Dengan ragu ragu takut ditolak oleh Sinta, Kevin mulai meletakkan tangannya di bawah kepala Sinta agar menjadi bantalan untuk Sinta.

__ADS_1


"Gak apa apa ya Mas peluk?" tanya Kevin meminta izin. Dengan malu malu Sinta pun mengangguk kemudian Kevin melingkarkan tangannya di pinggang ramping Sinta.


"Dosa gak sing yank, mas peluk kamu gini?" tanya Kevin menikmati hangatnya tubuh Sinta.


"Dosa lah mas. Apalagi kita belum nikah, walaupun udah tunangan," jawab Sinta dengan jujur sesuai apa yang ada di hatinya. Mau menolak tidak bisa karena ia sudah terlanjur nyaman di peluk oleh sang kekasih.


"Gak apa apa dosa kalau bisa peluk kamu seperti ini," ucap Kevin yang sepertinya sudah tak kuat menahan diri.


Imannya lemah jika berhadapan dengan sang kekasih. Apalagi mengingat tadi pagi Sinta membuat dirinya makin tersiksa dengan pakaian yang digunakannya.


Sinta memejamkan matanya tapi seketika kembali terbuka saat tangan Kevin masuk ke dalam bajunya.


"Mass."


"Jangan nakal, ini di bukit loh bukan di kamar," ucap Sinta ingin menahan tangan Kevin tapi gak sampai.


Tapi sepertinya Kevin tak menghiraukan apa yang diucapkan Sinta. Laki laki itu melepas pengait bra milik Sinta kemudian mengge****ngi tubuh Sinta.


"Ahh Mas jangan nakal," ucap Sinta menatap mata Kevin yang sepertinya sudah menikmati apa yang dilakukannya.


"Maaf sayang, cuma yang atas kok. Sekali aja," ucapnya dengan pelan bahkan nyaris berbisik.

__ADS_1


Akhirnya Sinta hanya pasrah walau hatinya menolak, tapi beda dengan reaksi tubuhnya.


Tangan nakal Kevin sudah berada di depan Sinta tepat di antara dua gunung yang sangat indah itu. Walau Kevin tak bisa melihatnya tapi Kevin bisa merasakannya.


"Pas banget di tangan aku yank, maaf ya."


"Terserah Mas aja, tapi gak lama loh. Sinta gak mau orang orang datang ngrebek kita," bisik Sinta yang dianggukkan oleh Kevin.


Kevin dengan semangat meremat remat satu gunung dengan senyum mengembang.


*****


Sedangkan di sisi lain, ada hal yang menyedihkan di sebuah rumah yang menjadi penjabat di kampung itu.


Tepat pukul 10 pagi, Nurmala menghembuskan nafas terakhirnya di rumahnya dengan penyakit yang nauzubillah mindalik.


Suara isak tangis itu terdengar sangat memprihatikan dari ibu Nurmala sedangkan sang bapak malah tak ingin melihat putrinya.


Rasa kecewa sangat terlihat dari wajah sang bapak, kala tahu sang putri itu terlibat perjanjian dengan jin agar memperoleh kecantikan dan memelet laki laki.


Malu sekali rasanya pak RT ini, pak RT lebih memilih untuk berdiam diri di kamar membiarkan orang orang mengurus jenazah putrinya.

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2