Bengkel Cinta

Bengkel Cinta
Izin


__ADS_3

Happy reading


Jam sudah menunjukkan pukul 6 lebih 30 menit, Sinta sengaja bersiap lebih awal agar ia tidak terlalu lama nanti membuat Kevin menunggu. Sinta juga sudah mengirim lokasi rumahnya pad Kevin.


Anda


Jadi kan Mas?


Mas Montir Ganteng


Jadi neng. Ini masih manasin motor.


Anda


Oo oke Sinta tunggu.


Sinta keluar dari kamar dengan membawa tas selempangnya yang berisi hp dan uang tampan membawa dompet.


Setalah menutup pintu kamarnya, Sinta langsung berjalan menuju ruang tamu. Ia melihat ibu dan kakak iparnya beserta pembantu sedang berada di dapur.


"Tumben Mbak gak malam mingguan?" tanya Sinta pada Mbak Lika.


Mbak Lika dan Mama menatap Sinta dengan tatapan heran. Tak biasanya Sinta rapi dan dandan begini.


"Abang kamu lagi mabok, dari tadi muntah terus," jawab Mbak Lika.


"Hamil mbak?" tanya Sinta pada Mbak Lika. Wajahnya tampak berbinar mendengar jika Abangnya muntah.


"Alhamdulillah jalan 3 Minggu," jawab Mbak Lika dengan senyum.


"Aaa aku bakal dapat ponakan baru, selamat ya mbak. Dijaga kandungannya," ucap Sinta memeluk tubuh kakak iparnya.


"Makasih sayangnya Mbak. Oh iya kamu mau kemana?" tanya Mbak Lika.


"Iya Sin. Kamu mau kemana? Gak biasanya kamu dandan kayak gini?" tanya Ibu dengan heran.


"Hehehe Sinta mau jalan sama temen, boleh ya Bu," izin Sinta pada sang ibu.


Mbak Lika dan Ibu saling pandang, tak biasanya Sinta pergi malam mingguan seperti ini. Karena biasanya Sinta akan pergi jika ada undangan saja.


"Boleh aja, tapi sama siapa dulu?" tanya Ibu pada putri bungsunya. Ibu takut jika anaknya ini kenapa napa karena tak pernah pergi malam.


"Sama temen, Ibu. Nanti dia jemput Sinta, jarang jarang Sinta keluar malam mingguan. Biasanya juga ndekem aja di kamar. Bosen Bu."

__ADS_1


Ibu yang mendengar itu hanya menggeleng, memang benar jika selama ini Sinta selalu ndekem di kamar jika malam Minggu. Karena jika gadis itu keluar maka yang dilihat nanti adalah Abangnya dan kakak iparnya yang sedang bermesraan. Kadang ibu dan ayah bingung kenapa gak di kamar aja, katanya sih biar Sinta gak keluar rumah malam malam. Alhasil sampai sekarang keterusan.


"Temen kamu kesini, Dek?" tanya Mbak Lika dan dianggukkan oleh Sinta.


"Ya sudah ibu izinkan, tapi pulangnya jangan malam malam. Kalau kamu pulang lebih dari jam 10 malam, ibu kunci kamu di luar," ancam ibu agar anaknya pulang tepat waktu.


"Siap Bu."


Melihat wajah senang dari sang adik membuat Mbak Lika bertanya tanya. Apa mungkin teman yang di sebut Sinta itu adalah laki laki yang kemarin di bicarakan itu.


"Sinta bisa bantu apa? Selagi nunggu temen Sinta datang."


"Nanti kamu bau bawang kalau ikut masak," ucap Ibu dengan lembut.


"Halah kayak Sinta mau kemana aja," jawab Sinta dengan santai meletakkan tasnya di atas meja makan. Kemudian ikut membantu ibunya masak.


Walaupun Sinta terkenal sedikit centil dan manja tapi jika untuk masak yang simple simple aja ia bisa apalagi cuma membedakan bawang baik dan bawang jahat.


*****


Ting Tong


Ayah yang sudah turun itu mendengar bel rumahnya di tekan dari luar hingga membuat laki laki itu berjalan menuju pintu.


Ceklek


"Assalamu'alaikum om."


"Wa'alaikumsalam siapa ya? Ada keperluan apa datang kesini?" tanya Ayah tanpa basa basi.


"Saya Kevin om. Saya temannya Sinta," ucap Kevin dan dianggukkan oleh Ayah. Ayah mempersilahkan Kevin masuk ke dalam rumah.


"Sinta mau bantu Ibu dan Mbaknya masak."


Kevin mengangguk seraya tersenyum, sepertinya Ayah Sinta ini sedikit dingin.


"Iya om gak apa apa, dan saya juga mau minta izin buat ajak Sinta malam mingguan, tadi udah kirim pesan kok," ucap Kevin meminta izin pada ayah Sinta.


"Hmm dia sudah bilang, biar saya om panggilkan," ucap Ayah bangun dari duduknya seraya memanggil sang putri.


Seraya menunggu Sinta dan Ayahnya, Kevin melihat ke sekeliling rumah tamu itu. Luas memang dengan banyak bingkai foto keluarga disana.


"Cantik banget sih emang, gak salah kalau gue jatuh hati sama cewek secantik ini," gumam Kevin menatap foto Sinta yang masih kecil duduk di ayunan dengan rambut di kucir dua.

__ADS_1


Tak lama menunggu Sinta dan Ayahnya datang ke ruang tamu. Sinta tampak cantik dengan pakaian yang ia pakai. Terlihat sangat sederhana tapi itu yang membuat kecantikan gadis ini terpancar.


"Maaf ya Mas nunggu lama," ucap Sinta membawa jus jeruk dari dapur.


"Iya gak apa apa."


Ayah dan Sinta duduk di sofa itu, Sinta meletakkan gelas itu di atas meja dan menyuruh Kevin meminumnya. Tak enak kan ada orang bertamu tidak dikasih minum.


"Jadi boleh kan yah aku jalan. Sekali kali malam mingguan, suntuk aku di rumah terus," ucap Sinta pada Ayahnya.


"Boleh, tapi ingat apa kata ibu kamu tadi. Jam 10 harus sudah ada di rumah. Kevin juga, jam 10 kalian sudah ada di rumah, jangan sampai telat," ujar Ayah pada Sinta dan Kevin. Laki laki itu juga tak mau Sinta sampai dianggap anak tidak baik baik oleh para tetangga.


"Iya yah. Nanti jam 10 Sinta udah ada di rumah, makasih ayah izinnya," jawab Sinta dengan senyum kemudian memeluk sang ayah.


"Iya."


"Terima kasih om, nanti pulang pasti tepat waktu."


"Iya om pegang ucapan kamu."


Kevin dan Sinta mengangguk, memang selama ini belum ada laki laki yang mengajak Sinta keluar malam malam. Paling kalau keluar ya sama Tiara itupun tidak sampai malam.


"Dek, tas kamu ketinggalan di dapur," ucap Mbak Lika membawa tas adiknya ke ruang tamu.


"Oh ya mbak. Makasih udah bawain, oh ya kenalin ini Mas Kevin."


"Loh," Mbak Lika terkejut melihat siapa yang dimaksud Sinta.


"Kenapa mbak?"


"Kalian kenal?" tanya Ayah yang sepertinya paham akan kondisi saat ini.


"Ini Kevin, Yah. Temen kuliah aku, dia anaknya alm pak Sutrisno. Masa ayah lupa, kan pas nikahan aku sama Mas Rendi dia juga hadir," ucap Mbak Lika yang membuat mereka langsung ingat siapa itu Kevin. Sedangkan Sinta yang tak tahu itu hanya plonga plongo saja.


"Ini gimana maksudnya?"


"Kevin ini sahabat Mbak waktu SMA dek. Dia juga datang kok pas mbak sama Mas nikah. Bahkan kalian dulu sempat dekat," jawab Mbak Lika yang membuat Sinta bingung. Sedangkan Kevin hanya tersenyum tipis, ia juga samar samar lupa dengan kejadian 4 tahun lalu.


"Gak ingat mbak."


"Ya sudah yang penting, Ayah sudah tahu jika yang ajak kamu anaknya teman ayah. Tolong jaga Putri om ya, Vin."


"Iya om. Izin pamit semuanya," jawab Kevin dengan sopan.

__ADS_1


Walaupun Sinta sedikit bingung tapi ia tetap mengikuti Kevin yang berpamitan dengan keluarnya.


Bersambung


__ADS_2