Bengkel Cinta

Bengkel Cinta
Cobaan Sebelum Menikah


__ADS_3

Happy reading


Hari hari berlalu begitu saja, sesuai kesepakatan kedua belah keluarga. Seminggu sebelum hari H, Kevin dan Sinta harus melakukan ritual pingitan atau yang tidak memperbolehkan kedua pasangan ini bertemu sebelum ijab kabul selesai.


1 hari dilalui Kevin dan Sinta sangat berat, biasanya mereka kemana mana bersama kini harus terkurung di rumah.


Hari kedua keduanya Kevin mulai tak betah di rumah tanpa membawa ponsel. Ingin sekali ia menelepon sang kekasih tapi ponselnya di sita oleh sang Mama.


Sedangkan Sinta yang memang bosan itu memutuskan untuk melakukan perawatan tubuhnya agar lebih cantik nanti saat mereka sudah menikah.


Pagi pagi sekali di hari ke 3 Kevin dan Sinta di pingit, Kevin sudah rapi dengan pakaian santainya. Bu Rahma yang sedang memasak itu bingung mau kemana anak bujangnya itu.


"Mau kemana Nak?" tanya Ibu pada Kevin.


"Mau makan Bu, habis itu bantu bantu orang di depan," jawab Kevin dengan jujur. Ia bosan di kamar terus. Para kerabat juga masih hari ini datangnya jadi tak ada teman main untuk dirinya. (Kayak bocah aja masih main)


"Gak usah bantu bantu, kamu kan calon pengantin."


"Bosen Bu, apalagi semua juga udah siap kan. Baju udah, mahar juga sudah disiapkan. Kevin bosan Bu, boleh ya bantu bantu. Kan ini juga buat acara Kevin, undangan juga didibagikan," bujuk Kevin pada sang ibu.


Belum sempat Bu Rahma menjawab ucapan Kevin tiba tiba pintu rumah itu di ketuk dari luar.


Keduanya langsung berjalan ke arah pintu dan melihat Dani yang datang membawa kabar untuk Kevin.


"Loh kok tumben baru datang Dan?" tanya Kevin mempersilahkan Dani untuk masuk.


"Bang gue ada kabar buruk," ucap Dani dengan cemas.


"Kenapa sih? Coba tenang dulu," ujar Kevin memberikan minuman kemasan itu pada Dani.


"Tadi kan gue mau kesini lewat bengkel, nah motor Bos besar dulu yang biasa di taruh di depan bengkel itu gak ada bang. Gue udah cari cari disekitar juga gak ada, gak mungkin kalau Bang Kevin ambil. Di depan juga gak ada," ucap Dani.


Deg


Mendengar jika motor sang ayah tak ada membuat Kevin langsung terdiam. Kenapa bisa motor itu tak ada? Padahal motor tua itu sudah Kevin beri rantai. Masa iya motor tua gitu ada yang ngambil.


"Lu serius gak bohong kan, Dan?" tanya Kevin dengan lirih.


Bisa dibilang motor itu adalah saksi perjuangan Ayah Kevin dulu saat mendirikan bengkel itu dari nol. Bahkan Kevin mampu membeli mobil dan motor ya ada hubungannya dengan motor tua itu.

__ADS_1


Motor uang dibeli ayah dan ibunya sejak nikah, bahkan motor itu yang selalu mengantarkan ia berangkat sekolah dulu sebelum ia punya motor sendiri. Dulu memang ia tak tahu betapa berharganya motor tua itu tapi semakin besar ia juga semakin paham jika sebuah benda yang menemani ayahnya itu memang sangat berharga.


"Bener bang, mas iya gue bohong. Rantai yang biasanya ada ban itu juga udah tergeletak gitu aja."


"Bu," teriak Kevin. Ibu langsung datang dari arah dapur masih memakai celemek karena ia sedang menggoreng ikan.


"Apa apa sih Pin, Ibu lu masih masak ini."


"Motor bapak ilang m, Bu. Dani tadi katanya lewat bengkel dan motor itu udah gak ada disana," ucap Kevin yang membuat Bu Rahma hanya menggeleng.


"Cuma motor aja kamu sampai teriak gitu. Lagian kalau memang udah gak ada yang gak apa apa, itu cuma benda."


"Tapi itu kan peninggalan Bapak, Bu. Kevin harus cari motor itu ya Bu," ucap Kevin dengan tak sabaran.


"Loh kan kamu lagi dipingit gak boleh keluar," ucap Ibu yang membuat Kevin bingung.


"Lagian ya, peninggalan alm bapak itu kamu, kamu anak bapak yang ditinggalkannya bapak untuk jaga ibu. Sedangkan motor tua itu hanya benda yang bapak kamu beli buat jalan kemana gitu."


"Gak bisa Bu pokoknya Kevin harus cari motor bapak."


Ibu yang mendengar itu hanya bisa menggeleng, bukan dirinya tak sayang dengan motor tua milik suaminya itu bahkan ia sangat sayang dengan motor yang menemani perjalanan dirinya dan suami dulu, tapi ia tak bisa membiarkan Kevin keluar karena kaya orang dulu dulu pamali.


"Maaf Bu, tapi Kevin harus cari motor itu."


"Ayo dan."


"Lah kan Abang lagi dipingit."


"Motor bapak lebih penting dari pingitan. Toh gak dipingit juga tetap nikah," ucap Kevin menarik tangan Dani.


Ibu memanggil mereka tapi tetap saja tak di hiraukan oleh Kevin yang sudah naik ke atas motor Dani.


"Dasar anak itu, semoga tidak terjadi apa apa mana Kevin belum sarapan lagi," gumam ibu menatap sang putra.


****


Kevin dan Dani mengendarai motor itu menuju bengkel dan benar saja motor itu sudah tidak ada. Mereka mencari cari semoga ada jejak untuk dijadikan petunjuk.


"Nihil bang, gak ada petunjuk apapun," ucap Dani.

__ADS_1


"Kita gak boleh nyerah, Dan. Ayo kita cari ke seluruh tempat. Motor itu mesinnya masih bagus jadi gak mungkin kalau cuma di dorong."


Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan bengkel dengan perasaan sedih. Ia sudah berjanji untuk menjaga motor itu dengan baik tapi kini malah hilang di curi orang.


Sudah lebih dari 3 jam mereka mencari tapi tak juga ketemu, hingga tanpa sadar ada seorang wanita yang hendak menyebrang tapi malah terserempet motor dari yang dikendarai oleh Kevin.


Brak


"Astaghfirullah bang kita nyerempet orang."


Dani dan Kevin turun dari motor, karena ia merasa bersalah pada wanita itu.


"Mbak gak kenapa napa, maaf ya mbak tadi gak lihat," ucap Kevin yang kini pikirannya makin kacau.


Wanita yang awalnya menatap ke bawah itu langsung mendogakkan kepalanya dan menatap Kevin.


"Kevin."


"Loh Nike."


Mereka sama sama kaget, saat yang di serempet adalah teman SMA nya dulu.


"Sorry tadi gak sengaja, pikiran gue lagi kacau. Sorry ya Nik," ucap Kevin dan dianggukkan oleh Nike.


"Makin ganteng aja ni cowok, nyesel dulu gue gak deketin dia pas lagi polos polosnya," batin Nike menatap Kevin.


Kevin membantu Nike berdiri begitupun dengan Dani. Tapi Dani terlihat tak suka dengan Nike yang dikenal perebut suami orang di kampungnya.


"Duh kayaknya kaki gue terkilir deh, sakit banget," modus Nike yang membuat Kevin dan Dani saling pandang.


"Bang gimana, kita cuma bawa motor gak mungkin bonceng tiga kan."


"Pesenin taksi aja, Dan. Suruh bawa ke rumah sakit terdekat, nanti biaya administrasinya kita yang bayar," ucap Kevin yang membuat Nike menggeleng.


"Gak parah kok, eh kalian mau kemana?" tanya Nike yang tak mau kebohongan terbongkar.


"Motor bapak gue ilang, gue mau cari ini. Beneran kakinya gak apa apa?" tanya Kevin dan dianggukkan oleh Nike.


"Gue bantu cari ya."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2