
Happy reading
Setalah sampai di ruang tamu, Kevin menyalami Ayah dan ibu Sinta yang sudah menunggunya dengan takzim. Kemudian menyalami kedua calon kakaknya nanti walaupun keduanya adalah sahabatnya sendiri.
"Nessi sayang, salim dulu sama omnya," ucap Bang Rendi pada Nessi yang ada di pangkuannya.
"Om."
"Hei Nessi, sudah besar ya sekarang," ucap Kevin mengecup kening sang calon ponakan.
"Mau ma om, Papa."
"Mau sama om Kevin?" tanya Bang Rendi dan dianggukkan oleh sang putri.
Kevin yang mendengar itu langsung menerima Nessi yang sudah ada di depannya. Sinta yang melihat kedekatan sang kekasih dengan ponakannya itu hanya bisa tersenyum tipis.
"Sama Tante aja gak pernah selengket ini, kamu kok pilih kasih sih Ness?" tanya Sinta mencubit pipi Nessi.
"Kan kalau sama kamu udah tiap hari, kalau sama Kevin kan jarang jarang," bukan Nessi yang menjawab tapi Lika.
"Masa iya gitu."
__ADS_1
Mereka mulai berbasa-basi sebelum Kevin mengutarakan niatnya pada keluarga Sinta. Tampaknya laki laki itu masih merangkai kata-kata yang akan diucapkan pada kedua orang Sinta.
"Jadi ada maksud apa, kedatangan nak Kevin hari ini kesini? Tadi Siang bilang nak Kevin mau bicara sesuatu?" tanya Ayah pada Kevin.
"Begini yah, Bu, bang, kak.. maksud kedatangan Kevin kesini untuk membicarakan tentang kelanjutan hubungan saya dan Sinta. Saya mau meminta restu Ibu, dan ayah untuk meminang Sinta menjadi istri saya," ucap Kevin dengan tegas.
Tak ada raut bercanda dari wajah Kevin, laki-laki itu tulus mengatakan ingin memperistri Sinta.
Mereka yang ada di sana terkejut bukan main dengan apa yang diutarakan oleh Kevin. Bukan maksud ayah dan ibu tak setuju tapi Sinta masih kecil untuk menjadi seorang istri.
Shinta pun yang mendengar ucapan Kevin itu terkejut, iya memang pernah Kevin menyinggung untuk menikahi dirinya tapi ia pikir tak akan secepat ini.
"Sebentar sayang, aku belum selesai bicara," ucap Kevin menyela apa yang akan diucapkan oleh Sinta.
"Maaf jika ini terkesan mendadak, tapi saya sudah tak bisa menahan lagi untuk memperistri Sinta. Saya tahu Sinta masih terlalu muda untuk saya jadikan istri tapi usia saya juga tak muda untuk mencoba coba saja. Saya akan membimbing Sinta menjadi istri yang baik dan juga menanti yang baik untuk ibu saya," ucap Kevin yang membuat Bang Rendi tersenyum.
Sedari zaman sekolah Kevin dan Rendy sudah seperti adik kakak. Rendy tahu yang diucapkan Kevin itu bukanlah hal yang digunakan untuk main-main. Kevin adalah sosok yang setia dan anaknya juga tidak neko-neko. Jadi Bang Rendi bisa saja langsung merestui mereka.
Kevin juga sudah memiliki semua kriteria yang harus dipenuhi sebagai calon suami Sinta. Pendidikan? Kevin sudah lulus sarjana, pekerjaan? Kevin juga sudah memiliki pekerjaan tetap bahkan memiliki karyawan. Dan nilai plusnya adalah Kevin itu cowok yang tampan dan juga pekerja keras.
"Apa nak Kevin yakin ingin memperistri Sinta? Apa tidak menunggu sampai Sinta lulus kuliah dulu?" tanya Ayah dengan wajah teduhnya.
__ADS_1
"Saya yakin, ayah. Soal kuliah Sinta, biar itu menjadi urusan Kevin. Kevin juga tak akan mengekang apa yang diinginkan oleh Sinta nantinya, dia bebas melakukan apa saja yang dia mau selama itu tak merendahkan saya sebagai suaminya. Ayah jangan khawatir soal Sinta, karena Sinta akan menjadi tanggung jawab saya," jawab Kevin.
"Iya yah, Ibu juga tak keberatan jika Sinta menikah muda. Apa ayah tak ingat jika dulu kita menikah saat usia ibu masih 16 tahun dan ayah berusia 24 tahun? Kita bisa membina rumah tangga kita jika itu ikhlas karena Allah."
Ayah yang mendengar itu mengangguk, memang benar Ayah Anto menikahi Ibu Nila saat istrinya itu masih baru lulus SMP dan ia baru saja lulus kuliah. Sebenarnya pendidikan bukan menjadi tolak ukur untuk menikah tapi kesiapan mental.
"Hmm ayah serahkan semuanya sama Sinta, Nak Kevin bisa langsung tanyakan pada dia. Karena kita sebagai orang tua hanya bisa menerima keputusan Sinta sendiri.
Sinta yang mendengar itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap mereka semua yang ada disana.
"Sinta butuh waktu bicara sama Mas Kevin, Sinta ingin mempertanyakan yang membuat hati Sinta sedikit ganjal. Sebelum menerima semua ini," jawab Sinta dengan senyum tipisnya.
"Ya sudah kami serahkan sama kalian ya, niat nak Kevin baik. Tapi pesan ayah nanti kalau memang kalian siap nikah muda jangan nunda punya momongan ya. Ayah dan Ibu mau punya cucu dari kamu," ucap ayah menggoda Sinta dan Kevin.
Bukan tanpa sebab kenapa Ayah berkata seperti itu, karena dulu pernah ada kasus pasangan suami istri yang menunda momongan hingga 20 tahun pernikahan mereka belum juga diberi momongan karena rahim sang istri kering karena terlalu banyak meminum obat kontrasepsi.
"Ayah bahasanya kok gitu," ucap Sinta malu.
Mereka yang melihat kedua pasangan ini malu malu itu hanya bisa tersenyum kemudian ibu mengajak mereka semua makan malam bersama.
Bersambung
__ADS_1