
Happy reading
Seperti pada minggu Minggu biasanya, Sinta tampak masih menggulung badannya dengan selimut padahal jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih. Padahal jam 4 tadi ia juga sudah bangun karena di bangunkan sang ayah untuk melaksanakan sholat subuh. Dan diteruskan oleh tidurnya.
"Sinta bangun sayang sudah pagi. Ibu sama ayah mau keluar ke rumah mertua kakak kamu kamu ikut apa enggak?" tanya Ibu berteriak dari luar.
Ya hampir setiap Minggu keluarga mereka akan selalu berkunjung ke keluarga sang besan. Kadang keluarga Bang Rendi yang datang ke keluarga Mbak Lika atau sebaliknya.
Dan Minggu ini keluarga bang Rendi yang datang ke rumah keluarga Mbak Lika. Itung itung silaturahmi sama besan kata Ibunya.
"Euhhh apaan dah si Ibu. Kan Sinta lagi capek semalam habis jalan jalan satu pasar," gumam Sinta yang nyawanya masih nyangkut di pohon cabe.
"Sinta udah bangun apa belum?"
"Sinta gak ikut Bu. Capek!!" jawab Sinta mencoba untuk mengeraskan suaranya tapi malah terdengar seperti ucapan biasa. Untung telinga ibu masih bisa mendengarkannya.
"Ya sudah kalau begitu, Ibu tinggal ya sayang. Kalau mau makan, makanannya ada di meja makan. Jangan lupa nanti kalau habis makan piringnya dicuci," ucap Ibu.
"Iyaa."
Akhirnya Sinta yang sudah terbangun tak bisa lagi memejamkan matanya. Ia duduk di kasur itu dengan mata yang setengah terbuka kemudian mengambil ponsel.
Mas Montir Ganteng
Udah bangun apa belum, Dek?
Mas mau ke bengkel, kalau kamu mau ke bengkel juga gak apa apa.
Pesan itu terkirim pukul 6 tadi dan sekarang sudah pukul 7 lebih.
"Nanti alasan gue kesana apa dong? Utang gue juga udah lunas. Gak mungkin gue kesana mau bayar hutang lagi," gumam Sinta menatap ponselnya.
Anda
Iya ini baru bangun.
Lihat nanti ya Mas. Soalnya aku harus bersih bersih kamar dulu.
Mas Montir Ganteng
Kok baru bangun? Emang gak sholat subuh tadi?
__ADS_1
Oalah mau bebersih dulu.
Anda
Sholat subuh tadi terus tidur. Dah ya mas mau cuci muka dulu. Mas semangat kerjanya.
Mas Montir Ganteng
Iya dek. Sekalian mandi biar gak bau asem.
Anda
Hehehe lihat aja nanti.
Setelah itu Sinta menutup ponselnya kemudian meletakkannya di nakas. Yah, setiap hari Minggu Sinta akan menata ulang kamarnya agar lebih tapi. Jika biasa Sinta hanya akan melipat selimutnya saja maka hari Minggu selimut itu harus ganti dengan yang bersih.
"Saatnya bebersih," gumamnya turun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
****
Sedangkan di sisi lain, sahabat Sinta yaitu Tiara sedang menghadapi situasi yang sangat sangat tak ia sukai saat ini.
"Tiara masih kecil, gak mau nikah dulu," ucap Tiara yang mendengar ucapan kedua orangtuanya.
"Tolong turuti keinginan Mama Nak. Mama dan orang tua laki laki itu sudah berjanji menikahkan kalian. Apalagi ini juga wasiat Nenek kamu yang udah meninggal," ucap Mama Tiara dengan melas.
"Tapi Tiara masih sekolah. Mana belum lulus, kan Tiara mau ke Korea habis SMA," ucap Tiara dengan cemberut. Ia tak mau menikah muda apalagi dengan orang yang tidak ia kenal.
"Kamu bisa honeymoon ke Korea kok sayang. Kalau perlu kamu Mama belikan tiketnya," ucap Mama dengan penuh permohonan.
Tiara yang mendengar itu langsung membulatkan matanya. Tiket ke Korea? Gratis? Tapi ia harus menikah dengan laki laki pilihannya.
"Tiara boleh tahu ciri ciri calonnya gak, Mah? Walaupun Tiara ini ngebet pengen ke Korea tapi kalau di suruh nikah sama om om ogah banget Tiara," ucap Tiara dengan nada yang sedikit lunak.
"Ganteng sayang, dia juga sudah bekerja. Kalau sama oppa oppa Korea kamu itu juga sudah 11 12 kok."
"Mama gak bohong kan?"
Tampaknya Tiara belum begitu percaya pada sang ibu. Akhirnya Tiara menatap Papanya sang sedari tadi hanya mengamati kedua orang yang ia cintai itu.
"Pa, papa tahu orang yang dikatakan Mama? Beneran ganteng apa enggak Pa?" tanya Tiara pada Papanya.
__ADS_1
"Terakhir Papa lihat sih udah kelihatan tampan, Nak. Kalau sekarang Papa gak tahu. Mungkin tetap tampan," jawab papa dengan jujur. Pasalnya ia belum lagi melihat laki laki yang akan menjadi menantunya sejak 10 tahun silam.
Tiara akhirnya menimbang kembali keinginan sang Mama. Dan juga wasiat dari sang Nenek.
"Tiara belum bisa jawab sekarang, lagipula ini terlalu mendadak buat Tiara."
Mama yang mendengar jawaban dari sang putri itu hanya bisa tersenyum. Sepertinya mereka masih memiliki kesempatan untuk membuat Tiara mengiyakan apa yang diinginkannya.
Jujur saja ia tak bisa menolak keinginan sang ibu dulu. Bahkan ia sudah terikat janji dengan calon besannya ini yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
"Kamu bisa pikirkan lagi, dan yah nanti Mama kirimkan fotonya sama kamu," ujar Mama dengan senang.
"Ya, tapi Mama gak boleh maksa kalau aku nolak. Tapi aku akan berusaha untuk menimbang permintaan Mama," ucap Tiara dengan senyum.
Selama ini memang orang tuanya tak pernah meminta apapun pada dirinya. Dan ini adalah permintaan kedua orang tuanya yang cukup serius.
"Oke, sayang Mama dan Papa harap kamu bisa menerima perjodohan ini ya. Kamu boleh lanjutin nontonnya. Mama sama Papa mau keluar dulu," ucap Mama pada Sang putri.
"Iya."
Papa yang melihat itu tersenyum tipis kemudian papa mengelus lembut rambut sang putri.
"Papa dan mama sayang sama kamu, Nak. Jangan pernah berpikir karena perjodohan ini, kamu beranggapan jika Mama dan Papa tidak sayang sama kamu ya," ucap Papa dengan lembut.
Ya memang kepribadian Mama dan Papa itu berbeda, dan apesnya lagi kenapa ia malah keturunan sifatnya Mama yang agak sengklekan.
Setelah kedua orang tuanya pergi dari kamarnya, Tiara langsung mengambil ponselnya dan tujuan utamanya adalah menelepon Sinta dan meminta pendapat dari sang sahabat yang paling bisa diandalkan jika seperti ini. Sangat sangat mendesak.
Tak lama ia memencet nomor telepon Sinta, suara Sinta terdengar dari balik telepon.
"Kenapa pagi pagi telepon? Gue lagi sibuk beres beres kamar," ucap Sinta tanpa ba bi bu.
"Gue mau minta saran sama, Lu. Tapi nanti aja deh, gue langsung ke rumah lu. Gue gak bisa lewat telepon doang."
"Oke gue tunggu, kalau bisa bawain martabak manis ya. Yang spesial toping," jawab Sinta yang malah mereques makanan dari Tiara.
"Eh dah belum juga gue barangkat, udah minta minta aja lu."
"Gak apa apa. Gue pengen makan martabak."
Tiara sudah tak heran lagi dengan keinginan sang sahabat itu. Sinta memang senang meminta jajan daripada barang barang yang sekiranya tidak berguna. Beda lagi dengannya yang malah membeli barang barang tak berguna dan melupakan jajannya.
__ADS_1
Bahkan Tiara memiliki 7 lightstick di kamarnya, yang tentu saja harganya berbeda beda. Memang dasarnya Tiara demen nonton konser.
Bersambung