
Happy reading
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Kevin yang tadi pulang langsung tidur itu merasa perutnya mulai sakit.
Ya baru ingat jika dari kemarin malam ia belum memakan walau satu suap nasi. Pagi tadi Ia juga tak sempat sarapan apalagi siang tadi karena ia langsung ke kamar dan tidur.
Ya masih sedih atas kehilangan motor ayahnya yang nanti akan diberikan kepada Sinta sebagai hadiah pernikahan mereka.
"Sst gue baru ingat kalau gue belum makan," gumam Kevin berlalu menuju kamar mandi tak mengindahkan rasa sakit di perutnya.
Setelah selesai mandi dia kembali ke tempat tidur, males rasanya untuk keluar dari kamar kalau ia sakit. Di saat seperti ini Kevin ingin selalu mengabarkan apa yang terjadi padanya pada Sinta. Tapi ia harus tahan selama 3 hari lagi.
Tok! Tok! Tok!
"Bang, ini Ibu."
"Masuk Bu," jawab Kevin yang sudah berbaring dengan selimut yang menutup tubuh Kevin hingga ke dada.
Bu Rahma masuk ke dalam gambar membawa mangkuk yang berisi bubur. Sepertinya ikatan batik antara ibu dan anak ini sangat parah karena tanpa di beri tahu itu langsung tahu jika anak nya itu sedang sakit.
Wajah pucat Kevin tak luput dari pandangan Bu Rahma, wanita paruh baya itu langsung duduk di kasur Sang putra kemudian meletakkan bubur itu di pahanya.
"Udah gak usah dipikirin soal motor itu, mungkin emang bukan rezeki kita jika motor itu hilang," ucap Bu Rahma mengelus wajah Kevin dengan lembut.
__ADS_1
"Tapi rencananya Kevin ingin memberikan motor itu pada Sinta sebagai hadiah pernikahan, Bu. Sinta sangat menyukai motor tua bapak," jawab Kevin dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Sinta pasti paham, kamu tak boleh sakit sayang. 3 hari lagi kamu menikah, gak mungkin kamu mengucapkan ijab qobul saat sakit?" tanya Bu Rahma yang dijawab gelengan oleh Kevin.
"Sekarang kamu makan dulu hmmm. Kevin gak boleh sakit karena mau nikah, nanti kalau kamu sakit siapa yang ijab kabul?" tanya Bu Rahma.
Akhirnya dengan bujukan Bu Rahma, Kevin mau makan bubur yang di bawa oleh Bu Rahma itu. Kevin memiliki riwayat sakit maag sejak umur 20 tahun karena Kevin dulu sering mengabaikan waktu makannya.
Bahkan tak jarang Bu Rahma harus membawa Kevin ke rumah sakit karena maagnya kambuh.
Dengan telaten Bu Rahma menyuapi Kevin dengan bubur yang masih hangat itu. Walau Kevin harus menahan sakit karena perutnya terisi dengan bubur itu tapi Kevin harus tetap makan jika tidak lebih parah sakitnya.
"Udah bu. Kevin kenyang," ucap Kevin dengan pelan.
Bu Rahma mengangguk kemudian meletakkan bubur yang masih tersisa itu di nakas tempat tidur Kevin. Kemudian Bu Rahma mengambil obat yang ada di kotak obat dan memberikannya pada Kevin.
"Cepat sembuh ya sayang."
"Iya Bu makasih."
Setelah mengucapkan itu Bu Rahma mengelus wajah Kevin dengan lembut sebelum akhirnya keluar dari kamar itu.
Kevin yang terpengaruh obat itu langsung memejamkan matanya dan tidur. Kevin berharap besok sudah hari pernikahannya dengan Sinta jadi ia tak perlu menahan rindu seperti ini.
__ADS_1
***
Sedangkan di rumah Sinta, gadis yang tadi siang baru selesai perawatan itu tiba-tiba menangis di dalam kamarnya. Entah apa yang terjadi pada Sinta hingga membuat Gadis itu menangis hingga sesegukan.
"Hihhh aku hiks kenapa sih, kok nangis?" tanya Sinta pada dirinya sendiri.
Sinta sendiri bingung Kenapa ia bisa menangis sampai seperti ini. Apa karena ia selalu rindu dengan Kevin atau apa?
Kemudian Sinta mengambil foto prewedding kemarin yang sudah sempat ia cetak.
"Kamu kenapa sih, Mas. Aku kangen sama kamu," gumamnya seraya menatap foto itu.
Tanpa Sinta tahu bahwa mbak Lika dan Bang Rendy melihat dan mendengar semua yang dilakukan Sinta.
"Sampai segitunya ya mas?"
"Kan kita dulu juga gitu, dek. Mas sampai masuk rumah sakit gara gara dipingit. Mungkin orang melihat Mas lebay tapi memang itu kenyataannya."
Mbak itu tersenyum kemudian menutup kembali pintu kamar itu.
"Ayo ke kamar, Nessi tadi udah di bawa kerabat ibu jadi kita punya waktu buat jenguk adiknya Nessi."
"Dasar kamu."
__ADS_1
Akhirnya keduanya berlalu meninggalkan kamar Sina menuju kamar mereka sendiri.
Bersambung