
Happy reading
Kevin dan Sinta berjalan menuju warung bakso yang terkenal enak di daerah itu. Dengan tangan yang bergandengan layaknya orang yang akan menyebrang jalan. Tapi memang iya sih kedua orang itu ingin menyeberang agar sampai di warung tempat mereka makan bakso nanti.
"Neng hati hati banyak kendaraan," ucap Kevin memegang tangan Sinta.
Sinta yang tangannya di pegang itu langsung terdiam, ini adalah pertama kalinya tangannya dipegang oleh lawan jenis yang bukan keluarga dan kerabatnya.
"Cuma gak mau Neng kenapa napa. Nanti kalau neng celaka siapa yang bersalah? Aku neng," ucap Kevin yang seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Sinta.
Mereka berdua menyebrang jalan raya itu dengan tangan saling bergandengan. Sinta juga menikmati pegangan tangan kekar itu.
"Arghh rasanya gue pengen terbang, tangan Mas Kevin kok keker gini sih. Ahh jadi pengen gue remes otot tangannya ini," batin Sinta dengan tatapan menatap tangan Kevin yang menggenggam tangannya.
Kevin tak kalah deg degannya dengan Sinta, laki laki itu sekuat tenaga agar tak terlihat salting saat berada di dekat Sinta.
Sampailah mereka di warung bakso itu, dengan langkah pelannya mereka masuk ke warung yang sedikit ramai itu kemudian mengambil tempat duduk.
"Mau bakso apa Neng?" tanya Kevin.
"Mas Kevin mau bakso yang apa?" tanya Sinta balik. Jujur saja semua bakso ia suka jadi ia hanya bertanya pada Kevin.
"Bakso urat enak kayaknya," ucap Kevin pada Sinta.
"Ya sudah bakso urat aja," jawab Sinta dengan santai hingga membuat Kevin mengangguk.
"Bang bakso uratnya 6 ya, yang 4 tolong taruh di bengkel. Itu punya anak anak nah yang 2 makan disini," ucap Kevin pada penjual bakso.
"Siap kang Kepin. Oh ya yang disebelah itu, pacarnya ya Kang?" tanya tukang bakso yang memang kenal dengan Kevin. Apalagi Kevin adalah pelanggan setia di warung itu.
"Bukan pacar bang tapi calon istri. Doain ya," jawab Kevin yang lagi lagi sukses membuat Sinta senyum malu. Bahkan wajah gadis itu sudah sangat merah dibuatnya.
"Pasti saya doakan yang terbaik buat Mas Kepin dan Mbak..."
"Sinta."
__ADS_1
"Iya sama mbak Sinta, semoga hubungannya langgeng sampai maut memisahkan," doa penjual bakso itu meracik bakso yang dipesan Kevin.
"Aamiin."
"Mas kenapa ngomong gitu? Sinta kan malu jadinya, kita kan gak ada hubungan apa apa," ucap Sinta dengan lirih. Jujur memandang wajah Kevin ia masih belum sanggup.
"Emang Eneng mau kalau kita ada hubungan apa apa?" tanya Kevin yang terdengar sangat ambigu untuk Sinta.
"Maksudnya gimana Mas?"
"Ya kamu mau apa enggak kalau Mas nikahi gitu? Kan kita juga sama sama gak mau pacaran," ucap Kevin yang membuat Sinta makin malu.
Sinta tak tahu Kevin serius apa tidak, tapi Sinta cukup senang dengan ucapan itu.
"Mas kalau mau bercanda jangan gini Mas. Nanti kalau Sinta baper mas gak mau tanggung jawab lagi," ucap Sinta memalingkan wajahnya ke lain arah. Ia tak mau Kevin tahu jika ia sedang blusing.
"Mas gak bencanda, Neng. Mas ingin hubungan kita lebih dari teman," ucapnya tanpa ragu.
"Hahah mas bercanda aja."
Kevin yang merasa Sinta tak percaya padanya itu langsung memegang pundak Sinta dengan lembut hingga pandangan mereka saling bertemu.
Kini Sinta baru percaya, gadis itu hanya bisa menelan ludahnya karena tatapan Kevin itu sangat menusuk.
"Mas serius ngomong tadi?"
"Serius neng cantik. Mas sendiri gak tahu kenapa langsung sreg sama kamu," ucap Kevin pada Sinta. Laki laki itu tak bohong apalagi usianya juga sudah matang untuk menikah membuat ia tak mau main main soal pernikahan.
"Sinta gak tahu mau jawab apa mas. Kita jalani aja dulu kayak gini, Sinta gak mau gegabah memutuskan. Apalagi Sinta kan masih sekolah belum lulus juga."
"Jadi kamu ngasih mas kesempatan untuk mengejar kamu?" tanya Kevin dengan binar diwajahnya. Tak apa Sinta belum mau memutuskan pertanyaannya tadi. Yang penting Sinta mau memberinya kesempatan untuk membuktikan rasa cintanya pada Sinta.
Sinta mengangguk, lagipula ia juga sudah terlanjur mengagumi Kevin. Lagian gengsi kali kalau langsung diterima. Apalagi mereka tak mau pacaran.
Perempuan apa dia kalau diginiin mau mau aja. Sinta punya harga diri tinggi untuk menerima sesuatu yang nanti akan berdampak pada hidupnya. Lagian Sinta tak mau dikatakan murahan karena dengan gampangnya menerima Kevin.
__ADS_1
Sinta juga ingin melihat perjuangan Kevin untuk mendapatkan dirinya.
"Terima kasih, jadi setelah ini Mas udah gak perlu malu dan takut untuk telepon kamu ya."
"Hehehe iya mas."
"Tapi beneran kamu gak ada pacar kan neng? Nanti kalau Mas di labrak pacar kamu, mas gak mau jadi perusak hubungan orang," tanya Kevin yang membuat Sinta menggeleng.
"Sinta gak ada pacar ataupun cowok yang lagi deket Mas. Kalaupun ada itu ya Mas Kevin sendiri," jawab Sinta jujur.
"Syukurlah kalau begitu."
Mereka melanjutkan berbincang ringan seraya menunggu bakso yang mereka pesan. Tak lama bakso yang mereka pesan tadi datang. Sinta yang melihat bakso besar itu dengan adanya bawang goreng di atasnya. Asap yang mengepul dari kuah itu makin membuat cacing di perut Sinta mengreog.
"Wah enak banget baunya," ucap Sinta yang mendapat elusan di kepala dari Kevin.
"Suka banget yang bermicin."
"Makanan kalau gak ada micinnya gak enak, Mas. Bagi Sinta micin itu segalanya," jawab Sinta mengambil saus dan kecap.
Kevin senang karena Sinta bisa nyaman dengannya saat ini. Apalagi ini adalah pertemuan kedua mereka. Masih sangat singkat untuk saling memahami sifat dan karakter masing masing.
"Sambal mana Mas?" tanya Sinta mencari sambal disana.
Kevin yang tidak melihat sambal di meja itu langsung meminta pak penjual bakso dan meminta sambal.
"Jangan banyak banyak, nanti sakit perut."
"Iya Mas."
Sinta mengambil 4 sendok sambal dan mencampurkannya ke mangkuknya yang berisi bakso dan macam macamnya.
"Gak pedes gak enak mas kalau bakso tuh," ucap Sinta yang membuat Kevin bergidik melihat kuah yang sudah menjadi merah itu.
Keduanya menikmati bakso urat itu dengan lahap, berbeda dengan Sinta yang makan bakso dengan kuah yang sangat pedas. Kevin lebih memilih untuk yang tidak terlalu pedas, hanya setengah sendok sambal yang dicampurkan ke baksonya tadi.
__ADS_1
"Jangan cepat cepat, Neng. Nanti keselek, wong Mas juga gak minta kok. Nanti kalau neng masih kurang nambah aja gak apa apa," ucap Kevin dan dianggukkan oleh Sinta.
Bersambung