Bengkel Cinta

Bengkel Cinta
Mas Montir


__ADS_3

Happy reading


Sampailah Sinta di bengkel sang pujaan hati, niatnya ingin membayar hutang hari ini tapi dengan sesi cicil.


Kevin yang melihat gadis yang mengusik hatinya datang itu langsung mengumbar senyumnya. Sore ini entah kenapa sedikit yang datang ke bengkel hanya 2 motor itupun sudah di tangani oleh ketiga karyawannya.


Sinta berjalan masuk ke dalam bengkel seraya menyapa para montir dengan ramah.


"Mas Ganteng," panggil Sinta yang sudah ada di depan Kevin.


"Iya Neng," jawab Kevin.


Sinta mengambil uang yang ada disaku bajunya. Ayahnya sudah memberikan ia uang 50 ribu untuk membayar perbaikan motornya tadi pagi.


"Mau bayar utang, tapi 10 ribu dulu ya. Biar Sinta bisa kesini tiap hari," ucap Sinta memberikan uang 50 ribu itu pada Kevin.


"Lah kok gitu neng? Besok kan sabtu, SMA gak masuk kan besok?" tanya Kevin pada Sinta. Kevin tetap menerima uang itu dan memberikan kembalian 40 ribu seperti yang diinginkan Sinta.


"Soalnya nanti kalau dilunasi sekarang, Sinta gak ada alasan buat kesini dong. Masa iya Sinta harus rusakin motor dulu kalau mau kesini?" tanya Sinta dengan santainya. Hal itu membuat orang yang ada disana tersenyum tak terkecuali Kevin yang memang sedari awal menaruh rasa suka pada Sinta.


Sikap Sinta yang apa adanya membuat mereka tak bosan apalagi tingkah yang tak dibuat buat.


"Oh jadi neng Sinta mau kesini tiap hari?" tanya Kevin mengambilkan minum untuk Sinta.


Sinta pun menerima dengan senang hati, apalagi ia memang sedang haus karena panasnya siang ini. Walau sekarang sudah sore sih.


"Makasih Mas," ucap Sinta tulus tanpa ada yang dibuat buat.


"Sama sama."


Sinta meminum air mineral itu dengan rakusnya walau ia hanya bisa menampung air itu seperempat dari botol saja.


"Sinta itu mau kesini tiap hari buat ketemu mas ganteng juga tiap hari," ucap Sinta menutup botol minuman yang tadi ia minum.


Kevin tak bisa menyembunyikan senyum manisnya. Sebenarnya ia ingin setiap hari melihat Sinta selalu ada disampingnya tiap hari. Tak bisa dipungkiri Kevin senang jika Sinta ada di bengkel.

__ADS_1


"Neng Sinta boleh kok tiap hari kesini, lagian gak ada yang larang. Bahkan Abang Kevin juga pastinya bakal seneng tiap hari neng ada disini," bulan Kevin yang menjawab tapi Dani. Laki laki berusia 20 tahun itu sangat peka dangan bosnya.


"Benar Mas? Sinta boleh tiap hari kesini?" tanya Sinta pada Kevin yang mengangguk. Ia tak melarang Sinta untuk datang kesini tiap hari bahkan dengan adanya Sinta ia bisa sekalian PDKT begitu pikir Kevin.


"Boleh kok neng, selagi gak ngeganggu sekolahnya Eneng. Kan udah mau lulus, harus banyak yang harus disiapkan dan harus belajar," ucap Kevin mengelus pucuk kepala Sinta dengan pelan. Sontak hal itu membuat wajah Sinta langsung memerah.


Cuittt wiwww


Ehem ehemm


Suara kicauan para montir yang melihat tingkah manis Kevin itu langsung memenuhi bengkel itu.


Ahh rasanya Sinta ingin ngumpet di lubang semut jika seperti ini. Malunya itu sangat sangat sangat membuat ia tak berani menatap mata Kevin.


"Jangan hiraukan, mereka emang gitu," ucap Kevin pada Sinta. Kevin tak mau Sinta sampai malu dan parahnya malah tak mau lagi kebengkel.


"Iya Mas. Tapi emang gak apa apa kan aku kesini lagi?" tanya Sinta. Entah sudah berapa kali Sinta bertanya seperti itu hingga membuat Kevin hanya bisa mengangguk lagi sebagai jawaban.


Memang gadis itu sangat mengagumi sosok Kevin tapi ia juga tak mau jika Kevin risih dengan adanya dirinya disana.


"Ya sudah kalau gitu, Sinta akan tiap hari kesini."


"Udah sih tadi siang pas istirahat pertama," jawab Sinta dengan jujurnya.


"Mau makan bakso gak? Mumpung disana masih buka," tawar Kevin menujuk warung bakso yang ada seberang bengkel.


"Mau mas. Sinta mah demen apa aja yang penting ada micinnya," jawab Sinta dengan senyum.


"Ya udah yuk, Mas traktir kamu," ajak Kevin bangkit dari duduknya dan mengajak Sinta untuk makan bersama.


"Tapi mas mas yang lain gimana?" tanya Sinta pada Kevin. Sinta menatap para montir yang masih berkutat dengan sepeda.


"Kalian mau bakso gak?" tanya Kevin pada mereka.


"Mau bos mau," jawab mereka.

__ADS_1


"Oke nanti gue suruh anaknya pak mamang buat antar kesini."


Sinta yang mendengar itu langsung berkata.


"Kalau bisa diantar ke sini kenapa kita yang harus kesana?" tanya Sinta dengan polosnya.


"Biar kita bisa makan dengan tenang, dah yuk," ajaknya. Kevin menarik tangan putih milik Sinta dengan lembut meninggalkan mereka semua yang ada di bengkel.


"Kayaknya bos beneran suka deh sama anak SMA itu," ucap Udin pada mereka.


"Iya, gue bisa ngerasain Bang Kevin yang sangat senang saat Sinta tadi kesini," jawab Dani.


"Semoga mereka jodoh, cuma itu yang bisa kita doain."


"Lah nanti cuma gue dong yang jomblo."


Mereka yang mendengar ucapan Dani itu hanya terkekeh.


"Lu masih muda banget buat tahu yang namanya nikah, cari duit dulu yang banyak biar bisa beli mahar buat calon istri lu," ucap Sapri pada Dani.


Sebagai yang paling tua ia hanya bisa menasehati para adik adiknya tahu tentang sulitnya pernikahan itu. Nikah tanpa cinta juga hambar, tapi nikah tanpa duit itu juga sangat sulit. Karena saat ini apa apa harus ada duitnya. Bukan begitu reader?


"Lah emang nikah sulit ya, Bang. Kan cuma enak enak doang apa susahnya sih?" tanya Dani dengan wajah bingung. Memang diusianya yang baru 20 tahun ia belum tahu banyak tentang pernikahan yang ada dipikiran anak itu hanya enak enak saja.


"Ma*amu iku cuma enak enak, perjuangan Abang dulu buat pertahananin pernikahan itu sulit. Apalagi saat itu keuangan Abang dan Mpok lu itu lagi sulit. Apalagi adanya anak, hutang dimana mana. Untung ada Ayahnya Kevin yang mau nerima Abang kerja disini dan memberikan modal buat Mpok lu itu bukan warung disamping bengkelnya," ujar Sapri menatap istrinya yang sedang melayani pembeli.


Perjuangan mereka dulu sangatlah sulit sebelum saat ini tiba. Apalagi anaknya dulu sakit sakitan karena tak memiliki banyak uang untuk berobat.


"Intinya nikah tanpa cinta dan duit itu gak akan berjalan. Emang kalau beras habis bisa makan cinta?" tanya Udin yang memang sudah merasakan pahitnya nikah muda bersama sang istri.


"Oalah gitu to bang. Ya sudah deh, Dani bakal kumpulin duit biar bisa punya rumah yang bagus buat emak dan calon istri Dani nanti," ucap Dani dengan semangat.


Mereka asik berbincang sampai lupa dengan adanya pelanggan disana.


"Mas udah belum motor saya?" tanya pelanggan yang memang sedari tadi menunggu motornya selesai.

__ADS_1


"Eh bapak, sudah ini. Totalnya 85 ribu aja."


Bersambung


__ADS_2