
Happy reading
Setalah memberikan bingkisan yang diberikan oleh Kevin tadi pada orang tuanya. Sinta berlalu menuju kamarnya, tapi saat ia melewati kamar sang Abang dan kakak iparnya Sinta mendengar suara suara setan dari sana. Padahal dalam kamar itu ada kedap suara tapi kok masih kedengeran.
"Ahh mas mass."
"Tahan sayang, kan udah biasa mas masukin kok sekarang merintih?"
"Sakit loh, besar banget itu aahh. Gelii!!"
"Gak sayang, udah kamu jangan teriak kasihan anak kita nanti kebangun."
"Kamu gak kasihan sama anak kamu yang ada di perut aku hah?"
"Ya kan dijengukin ayahnya."
"Mas ihhh."
Sinta yang mendengar suara itu langsung mempercepat langkahnya menuju kamar. Sinta memang bukan gadis polos yang tak tahu apa yang dilakukan oleh kedua kakaknya. Ia sering kali mengumpat karena mendengar suara suara itu.
"Dasar kakak laknat, harusnya kan mereka hidupin peredam suara agar gak kedengarannya suara suara gitu. Terus gimana kalau Nessi denger kan bahaya. Dia masih kecil," gumamnya berlalu menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan memakai skincare.
Jangan salah Sinta tak pernah meminta uang pada orang tuanya untuk membeli rangkaian skincare yang harganya tak main main itu baginya. Sinta menyisihkan sedikit uang jajannya setiap hari hingga ia bisa membeli apa yang dia inginkan tanpa minta orang tuanya lagi. Selain uang jajan.
Setelah selesai melakukan perawatan pada wajahnya, Sinta kembali ke kamar dan membaringkan tubuhnya di kasur. Ia menatap pergelangan tangannya yang terdapat gelang pemberian Kevin tadi.
Sebenarnya Sinta masih bingung kenapa tiba tiba Kevin memberikan gelang ini padanya. Tapi ia senang karena ini pemberian pertama dari Kevin selain makanan dan boneka yang di dapat tadi.
__ADS_1
Membicarakan boneka Sinta baru ingat jika ia memiliki banyak boneka di sudut ruangan kamarnya. Sinta juga sudah mengirim foto foto mereka tadi di pasar malam pada Kevin.
"Besok aja deh, sekalian buat main Nessi," gumamnya menutup matanya. Sesuai apa yang di katakan oleh Kevin tadi masuk rumah langsung tidur.
****
Sedangkan Kevin sendiri sudah berada di depan rumahnya. Ia segera masuk ke dalam rumah dan mengambil sesuatu dari laci kamarnya.
"Untung masih ada. Makasih, Yah. Semoga ini membantu Kevin dan Sinta," gumamnya menatap gelang yang sama seperti milik Sinta tadi.
Couple? Entahlah gelang itu hanya ada dua. Ayah Kevin dulu memberikan gelang itu di hari ulang tahunnya. Ayah berharap kedua gelang itu nanti berguna untuk anaknya. Karena di dunia kita gak tahu sifat sifat orang kan.
Tok! Tok! Tok!
"Kepin udah pulang nak?" tanya Ibu dari luar kamar. Entahlah kenapa Ibu sangat susah memanggil ia dengan kata Kevin bukan Kepin. Maklumlah lidah Jawa V jadi P.
Kevin berjalan menuju pintu kamarnya kemudian membuka pintu kamar itu.
"Calon mantu ibu mana? Kok gak dibawa pulang?" tanya Ibu dengan senyum khas di wajah tuanya. Ya tadi sebelum berangkat Kevin bilang pada ibu ingin mengajak calon mantu ibu jalan jalan.
"Ya dibalikin lah, Bu. Wong dia masih punya rumah. Lagian Kevin ndak berani bawa kesini. Udah malam gak baik dilihat orang orang."
Ibu mengangguk kemudian kembali tersenyum.
"Besok kan hari Minggu, ajaklah dia kesini. Main sama ibu, ibu mau ajarin dia bikin kue."
"In syaa Allah kalau dia ada waktu ya Bu."
__ADS_1
Kevin tahu Ibunya ini sangat kesepian di rumah, tapi bagimana lagi ibunya tak mau menikah setelah ditinggal ayahnya. Bahkan ibunya hanya memiliki dia sebagai anaknya. Maka dari itu ibu meminta Kevin untuk segera menikah dan mempunyai anak.
"Oh ya sudah kalau begitu, kamu bebersih dulu habis itu langsung tidur. Udah malam," ucap Ibu dengan lembut.
"Iya Bu."
Kevin masuk ke dalam kamar begitupun dengan sang ibu yang sudah masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Entah apa yang dipikirkan oleh Kevin tapi laki laki itu tampaknya sedang banyak pikiran. Bebersih saja tak sampai 5 menit saking cepatnya.
Ting!
Ting!
Ting!
Ting!
Deretan pesan masuk ke ponsel Kevin hingga membuat laki laki itu langsung membuka ponselnya dan melihat banyak kiriman Foto dari Sinta. Hingga Kevin mendapatkan satu foto Sinta yang sedang tidur, mungkin Sinta salah kirim.
"Manisnya kalau lagi tidur gini, pengen tak bawa pulang buat teman bobo," gumam Kevin membayangkan jika mereka nanti sudah menjadi suami istri.
"Bakal anget tiap hari ini kasur," ucapnya lagi melempar handuk yang ada di kepalanya ke sofa yang ada di kamar itu.
Setelah itu Kevin langsung membaringkan badannya di kasur dan melihat foto foto yang dikirim Sinta tadi. Ia menjadikan satu wallpaper di hpnya. Yang mana saat Sinta sedang tidur, rasanya manis saja menjadikan foto sang gadis sebagai wallpaper.
Setelah puas memandangi foto Sinta di ponselnya, Kevin langsung memejamkan matanya dengan ponselnya yang berada di dada laki laki itu. Kemudian Kevin terlelap dan berharap bisa bertemu Sinta di alam mimpi.
__ADS_1
Siapa tahu di mimpi mereka sudah menikah. Anjaii!!!
Bersambung