Bengkel Cinta

Bengkel Cinta
Kedatangan Keluarga Kevin


__ADS_3

Happy reading


Malam pun tiba, keluarga Sinta kini sudah sibuk sejak sore karena kedatangan keluarga Kevin nanti. Walau hanya Ibunya Kevin dan Kevin sendiri saja.


Karena kerabat dari Kevin jauh semua dari Jakarta dan tak mungkin mereka kesana dalam waktu 1 hari.


Kini Sinta sedang berada di kamar ditemani oleh Ibu.


"Anak ibu udah cantik aja sih, senang ya yang mau disamperin sama calon?" tanya Ibu seraya menggoda Sinta yang sudah cantik dengan kebaya brokat yang tadi ia beli dengan Kevin.


"Ibu apaan sih. Sinta biasa aja, jangan godain Sinta kayak gitu," ujar Sinta yang malu plus deg degan.


Ia tak pernah sedeg degan ini sebelumnya, oleh sebab itu ia sedikit berkeringat saat ini.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk."


Ceklek


Tiara masuk ke dalam kamar, ya Sinta mengundang Tiara untuk datang sebagai saksi jika dia ingin dilamar orang. Apalagi Tiara adalah sahabatnya yang paling baik. Dan Tiara langsung mengiyakan. Tiara tak menyangka jika Sinta akan lamaran secepat itu padahal mereka baru saja selesai ujian praktek. Belum lagi nanti ujian tulisnya.

__ADS_1


"OMG OMG OMG lu cantik banget, Say. Nih udah pantes jadi bini," cerocos Tiara setalah menyalami sang ibu Sinta.


"Heran deh, padahal kan gue yang dijodohin kok lu yang tunangan dulu sih gak adil ini namanya," ucap Tiara dengan senyum menatap Sinta yang duduk di meja rias.


"Namanya juga rencana Tuhan, kita gak tahu. Tapi gue deg degan banget ini gimana?" tanya Sinta dengan grogi.


Ibu yang melihat kedekatan dua sahabat itu hanya tersenyum. Merasa senang karena putrinya memiliki sahabat yang baik seperti Tiara walau sedikit sengklek.


"Ibu keluar dulu ya, gak enak sama keluarga kakak ipar kamu," ucap ibu pada mereka.


"Iya Bu," jawab keduanya.


Kini tinggalah Tiara dan Sinta di kamar itu, Tiara yang melihat ada yang kurang dari riasan Sinta itu langsung mengambil sesuatu di dalam tasnya.


"Softlens."


"Gak mau gue. Apa apaan pake softlens segala, perih mata gue," tolak Sinta dengan keras. Ia paling tidak bisa jika di suruh untuk memakai softlens.


"Biar lu tambah cantik, Say. Nuh gue udah beli yang abu abu silver kiyowo kan?" ucapnya memperlihatkan softlens yang berwarna abu abu itu.


"Bagus tapi gue gak suka," ucapnya dengan muka tak bisa dibantah.

__ADS_1


Akhirnya Tiara pasrah, ia tak mau memaksa Sinta untuk memakai softlens barunya. Padahal kan itu ia khusus beli untuk Sinta.


"Sinta, Tiara, keluarga Nak Kevin sudah datang. Ayo keluar," ujar Ibu pada mereka yang masih di dalam kamar.


Tiara dan Sinta yang mendengar itu langsung saling pandang. Sinta yang makin gugup langsung menggenggam tangan sang sahabat.


"Tenang tenang, rileks semua bakal baik baik aja," bisiknya dengan tenang.


Walau bagaimanapun ia sebagai sahabat harus memenangkan Sinta yang sedang gugup. Kalau enggak mungkin nanti saat ia lamaran nanti, Sinta pasti tak mau menenangkannya.


Keduanya bergandengan tangan keluar dari kamar menuju ruang tamu dan tatapan Sinta dan Kevin saling bertemu tak sampai 1 detik Sinta langsung menundukkan pandangannya.


Ia sempat melihat wanita paruh baya yang sedang tersenyum kearahnya tadi. Ia yakin itu adalah ibu dari Kevin.


Sinta dan Kevin duduk di sofa yang tersisa, kemudian ayah membuka pembicaraan mereka.


"Bu Rahma, ini anak kedua saya namanya Sinta. Kalau yang sebelah sana itu namanya Tiara dia sahabat Sinta," ucap Ayah memperkenalkan Sinta dan Tiara.


"Iya pak, Kevin sudah banyak cerita soal nak Sinta. Cantik sesuai apa yang dikatakan oleh Kevin," jawab Bu Rahma pada mereka.


Mereka selesai tahap perkenalan, mereka mulai ke inti acara malam ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2