
Happy reading
Waktu yang tidak banyak itu mereka gunakan untuk menyapa tamu tamu dan kerabat yang datang.
Sedari tadi Kevin tak melepaskan genggaman tangannya pada Sinta yang di hena dengan sangat cantik.
"Iya iya yang sudah sah gak mau lepas," goda Satriya. Sepupu Sinta yang masih kuliah, laki laki itu gemar sekali menggoda pasangan yang baru menikah.
"Namanya juga pengantin baru, gak kayak lu jomblo abadi," jawab Sinta dengan sinis. Sedari dulu memang kedua orang ini tak pernah akur, ada saja yang diributkan.
Saat ini mereka sudah duduk di kursi pengantin itu. Memang tak banyak yang datang ke acaranya ini hanya orang orang yang diundang saja dan juga kerabat.
"Awas aja kalau gue udah punya cewek, gue pamerin ke kalian," ucap Satria yang selalu kalah jika berdebat dengan Sinta.
Sedangkan dari arah pintu, Tiara datang bersama Jaka yang memakai pakaian batik couple. Mereka berdua tampak serasi, jangan lupakan tangan yang selalu bergandengan.
Jaka yang melihat Kevin itu hanya tersenyum, tentu ia tahu siapa Kevin karena laki laki itu adalah laki laki yang diincar oleh Nurmala kemarin.
"Sahabat gue udah married, padahal ijazah juga belum keluar. Emang dah ngebet banget ya lu," ucap Tiara memeluk tubuh Sinta yang sedikit tinggi karena memakai sepatu hak tinggi.
"Bukan gue yang mau nikah cepet, tapi nih," jawab Sinta menujuk Kevin dengan telunjuknya.
__ADS_1
"Niat baik harus disegerakan. Terima kasih sudah datang," ucap Kevin pada mereka.
Keempatnya mulai berbincang, apalagi Tiara dan Sinta adalah sahabat yang sudah sangat lama jadi bisa lama mereka berbicara. Bahkan tak ada habisnya menurut Kevin dan Jaka.
"Sayang, ayo turun. Udah lama loh kita disini, kasihan yang pada nunggu."
Tiara yang diajak oleh sang tunangan itu menangguk, kemudian memberikan kado yang ia bawa tadi.
"Jangan lupa nanti malam dipakai awas aja kalau enggak," bisik Tiara dan dianggukkan oleh Sinta.
Setelah Tiara dan Jaka Turun, kini hanya tinggal Sinta dan Kevin yang ada di atas pelaminan itu. Untungnya juga sudah foto bersama pengantin mereka.
"Mas seneng gak nikah sama aku?" tanya Sinta pada Kevin yang kini duduk disampingnya.
"Motor?" tanya Sinta seraya memikirkan sesuatu.
"Iya, motor tua yang ada di bengkel itu hilang. Aku sama Dani udah cari kemana mana tapi gak ketemu juga," jawab Kevin yang kini sedih lagi jika mengingat motornya yang belum ketemu.
Kemudian Sinta mengingat sesuatu yang membuat ia langsung mengajak sang suami untuk ikut bersamanya. Untungnya sudah tak ada yang mau bersalaman lagi, dan juga mereka sudah foto bersama tadi.
"Mau kemana yank?" tanya Kevin.
__ADS_1
"Udah ikut aja," jawab Sinta menarik tangan Kevin ke garasi.
"Loh itu, kok ada disana sayang? Kamu dapat dimana?" tanya Kevin pada Sinta dengan tatapan terkejut. Tak mungkin Sinta yang mencuri motornya kan?
"Jadi ceritanya kemarin saat aku pulang dari salon baut perawatan sama Mbak Lika, aku lihat motor ini dipinggir jalan. Aku kan hapal banget sama motor warisan dari ayah kamu itu, bahkan aku ingin banget kan sama motor ini. Nah aku bawa deh pulang, untungnya gak ada yang mergokin. Kan gak epik kalau seorang calon pengantin nyolong motor."
"Tapi kok bisa sih motor itu hilang dari bengkel? Bukannya udah digembok ya?" tanya Sinta dengan penasaran.
"Aku juga gak tahu sayang, tapi syukurlah ternyata memang masih rezeki. Karena motor ini niatnya memang mau aku berikan untukmu sebagai hadiah pernikahan," ucap dengan senyum tipisnya kemudian memeluk tubuh Sinta dari belakang walaupun sedikit terganggu dengan riasan di rambut Sinta.
"Kita ngamar yuk istirahat, nanti kita juga harus ke rumah aku resepsi. Lelahnya bakal double sayang," ajak Kevin dan dianggukkan oleh Sinta.
"Nanti kita bawa motor itu ya," pinta Sinta menatap Kevin.
"Naik mobil sayang, kalau naik motor nanti ada apa apam dijalan. Mungkin besok atau lusa, kita ambil motornya."
Keduanya mulai berjalan menuju kamar Sinta. Mereka juga pamit pada orang tua dan kerabat disana.
"Istirahat yang bener, jangan yang lain. Nanti sore kalian masih harus ke rumah Kevin dan resepsi."
"Iya."
__ADS_1
Bersambung