
Happy reading!
Tak terasa hari sudah pagi, sejak pukul 04.00 pagi Sinta sudah disuruh bangun dan berhias di kamarnya. Begitupun Kevin yang sudah disuruh bangun dan mempersiapkan diri untuk ijab kabul.
Ijab kabul dimulai pukul 08.00 pagi ini, Sinta dan Kevin sama sama deg degan walau berada di kamar yang berbeda.
"Bang, dulu lu nikah sama Lika juga gini ya?" tanya Kevin yang sudah memakai baju yang disiapkan untuk ijab qobul pagi ini.
Sedangkan pukul 12.00 siang nanti mereka langsung berangkat ke kediaman Kevin untuk melangsungkan resepsi pernikahan sampai pukul 08.00 malam.
Bang Rendi yang duduk seraya memangku putri cantiknya itu hanya terkekeh melihat kegugupan calon adik iparnya ini.
"Semua pasangan yang akan nikah memang begini, Vin. Bukan cuma gue aja, tapi Papa gue, mertua gue, alm ayah lu semua memang begini."
"Ya Allah bang, gue gugup ini malah buat lucon."
"Ayah, Omnya napa? Kenapa Ness pusing," tanya Nessi dengan polosnya.
Sedari tadi gadis kecil itu mengamati Apa yang dilakukan oleh Kevin. Mondar-mandir di depannya yang membuat kepala Nessi pusing.
"Om kamu lagi gugup sayang," jawab Bang Rendi mengelus lembut rambut putrinya yang sudah di kepang dua.
Istrinya tadi pagi pagi sudah disibukkan dengan putrinya yang meminta untuk rambutnya di kepang seperti anak anak yang dia tonton di tup tup. Untungnya Lika adalah ibu yang baik jadi wanita itu menuruti keinginan sang Putri.
"Udah gak apa apa, pasti lancar kok. Udah hapalkan nama istri dan ayah Sinta? Jangan lupa mahar yang akan kamu kasih," ucap Bang Rendi yang dianggukkan oleh Kevin.
Mengingat kata mahar Kevin langsung teringat akan permintaan calon istrinya sebelum membuat bingkai mahar.
__ADS_1
Calon istrinya itu meminta mahar yang mengingatkan akan tanggal bulan dan tahun pernikahan mereka hari ini.
"Btw adik gue minta mahar apaan?" tanya Bang Rendi.
"Biar jadi rahasia dulu, nanti lu juga tahu," jawab Kevin kini cucu kembali di kasur bersama Bang Rendi.
"Pelit amat."
"Biarin."
Mereka berdua layaknya kakak dan adik. Agar menghilangkan rasa gugupnya Kevin mengajak main Nessi hingga dirinya dipanggil oleh sang ibu.
****
Dan di sinilah Kevin sekarang di depan penghulu dan calon mertuanya. Tak lupa ada kakek dan juga Bang Rendi di sisi kanan dan kiri bangku itu sebagai saksi.
Mbak Lika yang memang sengaja turun itu kembali lagi ke kamar Sinta dan memanggil adik iparnya untuk keluar dari kamar.
"Mbak gue gugup banget nih, gimana ya nanti."
"Udah dibawa santai aja, kamu cukup diam dan mendengarkan apa yang nanti dikatakan ayah, pak penghulu dan suami kamu," jawab Mbak Lita menggandeng tangan adik iparnya yang sangat cantik dengan balutan kebaya berwarna putih itu.
"Beneran cuma gitu?" tanya Sinta dan dianggukkan oleh Mbak Lika.
Tentu saja bukan hanya itu, tapi Mbak nikahannya ingin membuat adiknya itu rileks, serileks, rileksnya. Agar tak membuat Kevin ikut gugup saat mengucapkan ijab kabul.
Mereka berdua keluar dari kamar itu hingga menjadi tatapan para tamu dan juga kerabat yang hadir di rumah itu. Tak terkecuali Kevin ya memang sangat menunggu dan ingin melihat kekasih hatinya itu.
__ADS_1
"Cantik banget," batin Kevin menatap sang calon istri.
Cinta sudah sampai di depan penghulu itu dan duduk di samping Kevin. Sinta belum berani membuka bibirnya, tapi tatapannya beradu dengan mata Kevin yang memancarkan rindu.
"Bisa dimulai acaranya?"
"Bisa pak."
Ijab kabul pun dimulai, Ayah Anto mulai menjabat tangan sang calon mantu yang ada di depannya. Laki-laki berubah yaitu menatap mahar yang ada di depannya kemudian menganggukkan kepalanya.
"Bismillahirrahmanirrahim saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Kevin Rianto bin almarhum Bapak Sutrisno dengan putri saya Sinta Anggraini binti Anto Susilo dengan mas kawin uang tunai sebesar 10.062.023 dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Sinta Anggraini binti Anto Susilo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi."
"SAH!"
"Alhamdulillah."
Lega sudah perasaan Kevin setelah mengucapkan ijab qobul tersebut. Wanita gadis yang ada di sampingnya kini sudah resmi menjadi istri sah Kevin Rianto.
Laki-laki itu menatap Sinta yang ada di sampingnya dengan senyum manis. Sinta pun menoleh ke arah Kevin dan tersenyum, mereka mengaminkan apa yang didoakan oleh Pak penghulu.
Penghulu itu menyuruh Sinta untuk mencium punggung tangan Kevin dan dibalas kecupan di kening Sinta dengan lembut. Tak lupa Kevin mengucapkan beberapa doa seraya mengecup kening Sinta.
"Kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri...bla bla bla."
__ADS_1
Bersambung