
Happy reading
Setalah makanan yang di pesan Kevin datang keduanya kini sedang memakan malam malam mereka.
"Mas kok bisa sih Nurmala meninggal?" tanya Sinta setelah menghabiskan makanannya.
"Udah takdirnya buat dia meninggal," ucapnya dengan santai.
"Iya juga sih tapi gimana perasaan kedua orang tuanya ya mas."
"Yang pasti sedih sayang. Orang tua mana sih yang mau anaknya meninggal dahulu?"
Sinta mengangguk kemudian membuang sampah makanan itu di tempat sampah. Kevinpun demikian.
"Sayang mas ikut tidur di kasur ya, kan disini gak ada sofa. Selimut juga cuma satu, Mas gak mungkin kan tidur di lantai," ucap Kevin yang memang tak ada kasur lantai atau apalah itu.
Sekalian kalau bisa modus kenapa enggak begitulah pikiran Kevin.
"Tapi mas gak akan apa-apain Sinta kan?" tanya Sinta dengan waspada.
Walau bagaimanapun Kevin ini laki laki normal yang pasti akan tergoda dengan dirinya. Apalagi mereka satu kama sekarang.
Kevin yang Mendengar itu langsung menangguk.
"Mas gak akan nakal kok janji, tapi gak tahu kalau khilaf," jawab Kevin dengan senyum. Hingga membuat Sinta berdecak kesal. Kevin ini memang tak bisa dipegang omongannya.
Sinta mengambil guling dan meletakkannya di tengah tengah sebagai pembatas.
__ADS_1
"Mas Kevin gak boleh lewatin guling ini," ucap Sinta dengan tegas.
"Masa gak boleh peluk kamu sih yank?" tanya Kevin dengan cemberut.
Padahal ini adalah kesempatannya untuk bermanja manja dengan Sinta. Maksudnya bermanja itu memeluk tubuh Sinta saat tidur gitu.
"Enggak Mas."
"Ayo bobok," ucap Sinta menarik selimut yang lumayan tipis tak seperti selimut biasa yang ada di penginapan.
"Yank."
"Tidur mas. Sinta capek," ucapnya dengan pelan.
Tampaknya gadis itu sudah sangat lelah hingga tak menunggu Kevin untuk tidur.
"Sayang."
"Yank."
Hening, tidak ada jawaban dari Sinta yang membuat Kevin yakin jika gadisnya itu sudah terlelap.
"Bu, Yah, Kevin pingin kawin," ujar Kevin dengan pelan.
Rasanya jika sudah tidur berdua seperti ini membuat ia ingin sekali ia menyentuh lebih daripada pelukan saja.
Kevin tetap terjaga hingga berberapa saat kemudian tercetus sebuah ide yang membuat ia ingin sekali mewujudkannya.
__ADS_1
"Setelah pulang dari sini aku akan mengatakan semuanya," gumamnya dengan senyum manisnya.
Sinta yang sedang terlelap itu mulai memiringkan kepalanya menghadap Kevin dengan mata terpejam. Kevin pun dengan sigap langsung menyingkirkan guling yang menjadi pembatas tidur mereka.
Laki laki itu dengan pelan laki laki memeluk tubuh Sinta. Hingga dada yang tadi ia mainkan menempel di dadanya.
"Shittt ni cewek gue yang memang menggoda, apa memang iman gue yang sangat tipis," gumam Kevin menatap dua gunung kembar yang mungkin akan menjadi kesukaan ya.
Tangan nakal Kevin mulai dimasukkannya ke dalam baju sang kekasih dengan lembut tangan itu mulai mengelus permukaan perut sang kekasih.
"Emhhh."
Kevin tertawa pelan menatap wajah sang kekasih.
"Gemes deh yank, pengen aku kawinin saat ini juga. Tapi aku juga ingat batasan," ucap Kevin melepaskan pengait bra sang kekasih.
Ctek
"Sayang maafkan mas ya, aku cuma mau menikmati si kembar tipis tipis," ucap Kevin dengan senyum manisnya mulai membuka kancing baju sang kekasih.
"Maaf ya sayang, besok pagi kamu gak boleh marahin aku ya," ucapnya lagi sebelum memulai aktifitas menyenangkan itu.
"Masshh."
Kevin menghentikan aktivitasnya kemudian menatap sang kekasih yang masih terlelap. Apa Sinta sedang memimpikannya.
"Emmhhh."
__ADS_1
Kevin men*us* seperti seorang bayi dengan tangan satunya yang meremat salah satunya. Hingga terlelap dengan nyamanya disamping sang kekasih.
Bersambung