
Happy reading
Mereka yang ada di ruangan itu menunggu jawaban dari Sinta. Sinta sedari tadi diam saja dengan raut wajah pucat.
Setelah Ibu Rahma mengutarakan niat mereka tadi, Sinta mendadak terdiam. Tangannya menggenggam tangan Tiara yang ada di sampingnya.
"Sin, ditungguin tuh," bisik Tiara yang membuat Sinta langsung tersadar kemudian memeluk Tiara.
Mereka yang ada disana langsung terkejut dengan respon Sinta. Tak lama terdengar suara isak tangis dari Sinta.
"Kenapa Sin?" ,tanya Tiara dengan terkejut.
"Nak kenapa kamu nangis?" tanya Ayah dan Ibu yang khawatir pada sang putri.
Sinta menujuk ke arah jendela yang membuat mereka langsung menatap ke arah yang ditunjuk oleh Sinta. Tapi mereka tak tahu apa apa, selain Kevin yang memang sedari awal sudah peka dengan hal hal gaib.
Kevin yang melihat sosok hitam di balik kaca itu langsung pamit pada mereka semua yang sedang menenangkan Sinta itu.
Sedangkan Bu Rahma dengan lembut mengelus Sinta yang masih terisak. Walaupun ia tak bisa melihat makhluk halus tapi ia bisa merasakan kehadiran makhluk yang tak kasat mata.
"Sudah gak ada apa apa, Kevin bisa mengatasi ini sendiri. Neng jangan nangis ya," bisik Bu Rahma mengelus punggung tangan Sinta. Si ta hanya mampu mengangguk dalam pelukan sang sahabat.
__ADS_1
Tiara yang mendengar apa yang diucapkan ibunya Kevin itu bingung. Tapi ia hanya diam.
Bu Rahma juga melihat gelang yang diberikan suaminya dulu terpasang di pergelangan tangan Sinta. Berarti Kevin memang sudah sangat serius dengan Sinta.
Bu Rahma bersyukur Kevin ternyata tidak pencinta sesama jenis karena setiap hari bersama laki laki di bengkel.
"Sebenarnya ada apa ini, kenapa Nak Kevin keluar?" tanya Ibu pada mereka.
Nessi yang sedari tadi merengek itu menangis di gendongan sang ayah. Hingga membuat mereka menyuruh Mbak Lika membawa Nessi ke kamar.
Setelah kepergian Nessi dan Mbak Lika, Bang Rendi datang membawa segelas air putih dari dapur.
Sinta meminum air itu, hingga ia lebih tenang saat ini. Ia sudah tak nangis seperti tadi. Tapi tetap saja Sinta masih sesenggukan.
"Tadi, Sinta lihat ada hitam besar di balik jendela itu. Matanya merah Yah. Dia menatap Sinta dengan tatapan tajam, bahkan Sinta tak bisa mengalihkan pandangan Sinta padanya. Yang bisa Sinta lakukan adalah mencengkram tangan Tiara berharap Tiara menyadarkan Sinta," jawab Sinta dengan sesenggukan.
Mereka semua hanya mampu terdiam, terlebih Ayah yang tak terlalu percaya akan hal mistis seperti itu. Ia hanya bisa memenangkan sang putri saat ini.
"Mungkin itu hanya halusinasi kamu aja, Sayang. Udah jangan sedih lagi, Ayah gak mau kamu sakit gara gara ini," ucapnya dengan lembut.
****
__ADS_1
Setelah perginya Kevin tadi, kini sudah setengah jam lebih Kevin keluar belum juga kembali.
Sinta yang khawatir terjadi apa apa pada calonnya itu mulai bangkit dan izin pada mereka untuk keluar.
Merekapun mengizinkan kemudian Sinta berlari menuju luar. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Kevin terkapar di halaman rumah Sinta dengan mulut yang mengeluarkan darah. Sinta tak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi ia sangat khawatir pada Kevin.
"Mas," pekiknya berlari menuju Kevin membuat mereka semua yang mendengar itu langsung keluar dari rumah.
Sinta menjadikan pahanya sebagai bantalan sang pujaan. Sinta mengelus lembut pipi Kevin yang memar.
"Mas kenapa kamu sampai kayak gini?" tanya Sinta pada Kevin yang masih menjaga kesadarannya walau tubuhnya sakit semua.
"Gak apa apa sayang, Mas sudah biasa seperti ini. Jangan khawatir ya," jawabnya dengan lirih.
Ayah yang melihat kondisi sang calon menantu itu langsung memapahnya menuju ruang tamu. Kemudian membaringkannya di sofa.
"Sebenarnya ada apa ini, kenapa Nak Kevin sampai seperti ini?" tanya Ayah yang membuat Kevin dan Ibu terdiam.
Bersambung
__ADS_1