Bengkel Cinta

Bengkel Cinta
First


__ADS_3

Happy reading


Kevin menggenggam tangan Sinta menelusuri pasar malam itu. Seperti biasanya Sinta selalu minta jajan entah gulali kapas ataupun yang lain.


Sinta juga tampaknya juga tak mau melepaskan pegangan tangan itu. Dengan senyum mengembang Sinta mulai memakan gulali kapas yang ada di tangan kirinya.


"Mas," ucap Sinta menyuapkan gulali kapas ke mulut Kevin. Kevin menikmati manisnya gulali berwarna pink itu. Apalagi sambil melihat sang pujaan tengah berada di sampingnya tersenyum menikmati suasana di pasar malam.


"Manis kayak kamu," bisik Kevin di telinga Sinta hingga membuat Sinta malu.


"Gemes deh kalau malu malu gini," ucap Kevin mencubit pipi berisi milik Sinta.


"Mass."


"Hahaha," Kevin tertawa sedangkan Sinta merenggut karena ia malu diperlakukan seperti itu oleh laki laki.


Mereka berjalan beriringan hingga pandangan Kevin mengarah pada mesin capit.


"Kesana yuk," ajak Kevin pada Sinta menujuk mesin capit yang banyak dikerubungi anak anak disana.


"Yok dah lah," jawab Sinta.


Mereka berjalan menuju mesin capit itu, kemudian Kevin melepas pegangan tangan itu.


"Neng mau yang mana?" tanya Kevin.


"Yang mana aja, Mas," jawab Sinta menatap banyak boneka dengan banyak macam itu.


Kevin mengangguk, ia berencana ingin mendapatkan boneka itu dan memberikannya pada Sinta. Itung itung sebagai hadiah di pertama mereka jalan.


Kevin tetap mencoba walau sudah berberapa kali gagal, hingga akhirnya satu boneka panda berhasil di dapatkan.


"Yes berhasil neng, buat neng ya bonekanya. Mas masih mau main lagi," ucap Kevin memberikan boneka itu pada Sinta dan dengan senang hati Sinta menerima boneka panda itu.


Lagi dan lagi kevin sudah mengetahui trik memainkan capit boneka itu. Hingga diakhir akhirnya ia mendapatkan banyak boneka hingga membuat Sinta kewalahan memegang boneka itu. Bahkan gulali kapas yang tadi ia makan juga sudah habis.


12 boneka lebih di dapatkan oleh Kevin, Sinta senang mendapatkan banyak boneka itu.


"Mas minta kresek ya," ucap Kevin pada penjaga mesin capit itu.


Penjaga itu memberikan kresek hitam putih itu pada Kevin dan kresek itu dijadikan tempat untuk para boneka uang di dapat tadi.

__ADS_1


"Makasih Mas," ucap Sinta dengan senang. Siapa sih yang gak senang kalau diberi banyak boneka seperti ini.


"Mau yang gede gak, Neng?"


"Mau sih tapi nanti gak bisa bawanya," jawab Sinta.


Kevin mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan oleh Sinta. Laki laki itu mengajak Sinta untuk keluar dari tempat itu dan berkeliling lagi mencari tempat baru untuk bermain.


Keduanya berjalan menatap bianglala yang sedang berputar itu, kemudian keduanya saling pandang kemudian mereka tersenyum seakan tahu apa yang ada dipikiran masing masing.


"Naik."


"Kamu gak takut ketinggian kan, Neng?" tanya Kevin.


"Enggak Mas, malah dulu aku sering manjat pohon jambu di belakang rumah sebelum pohon itu ditebang sama Ayah. Gara gara aku bandel tiap hari disana," jawab Sinta menatap bianglala itu.


"Hahaha ternyata kamu bisa nakal juga ya," ujar Kevin mengelus rambut Sinta.


"Namanya juga pas masih bocah, sekarang aku malu kalau ingat ingat itu," jawab Sinta dengan senyum tipisnya.


Akhirnya mereka mulai naik ke bianglala itu dengan boneka yang di bawa oleh S


Kevin.


"Foto yuk, Neng."


"Ayo Mas, boleh buat nakut nakutin tikus di kamarnya Sinta," jawab Sinta mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi kamera.


"Sini neng duduk di samping Mas," ucap Kevin dan dianggukkan oleh Sinta.


Mereka duduk bersampingan kemudian mengambil berberapa pose mereka. Dekat, mereka duduk sangat dekat hingga membuat tubuh Sinta dan Kevin menempel.


"Anget banget ya Allah," batin Kevin menatap dada Sinta yang sedang menempel di dadanya juga. Hangat hangat gimana gitu di tubuh Kevin.


"Bagus foto fotonya, nanti Sinta kirim ke wa Mas ya," ucap Sinta menatap Kevin. Untungnya Kevin langsung bisa menguasai dirinya.


"Iya Neng."


Sinta itu kembali ke tempat duduknya, Kevin menahannya dan menyuruh Sinta itu tetap duduk di sampingnya.


"Mas belum cerita loh, soal Mas yang temannya Mbak Lika. Kok aku lupa kalau kita udah pernah ketemu dan ngobrol?" tanya Sinta pada Kevin.

__ADS_1


"Mas juga sempat lupa, Neng. Tapi pas lihat postingan Eneng, Mas jadi ingat kalau dulu kita pernah kenalan singkat di tempat nikahannya Lita sama Rendi. Tapi setelah itu Mas sudah lupa neng," jawab Kevin dan dianggukkan oleh Sinta.


"Mas janganlah panggil Sinta dengan sebutan Neng. Walaupun Sinta suka tapi tetap aja ada yang aneh apalagi Sinta bukan warga Betawi."


"Terus neng mau Mas panggil apa?" tanya Kevin.


"Terserah Mas yang penting jangan neng."


"Sayang aja gimana?" tanya Kevin menggoda Sinta.


"Emang Mas Kevin sayang sama Sinta?" tanya Sinta dengan blusing di pipinya yang ketara di mata Kevin.


"Kan Mas dulu sudah bilang, kalau Mas itu sudah sayang sama Neng Sinta yang cantik ini. Perasaan Mas gak bisa dibohongi," ucap Kevin pada Sinta.


"Sinta gak mau pacaran yang akhirnya bakal sakit hati kalau Mas mendua, kalau Mas serius Sinta tunggu di rumah buat ketemu Ayah sama Ibu. Setidaknya jika Mas pergi, Mas bilang sama Ayah dan Ibu," jawab Sinta yang seakan memberikan lampu hijau untuk Kevin.


"Bener Mas boleh meminta kamu pada orang tua kamu. Yah setidaknya sebelum kamu lulus, Mas bisa membuktikan perkataan Mas pada kamu dan kedua orang tua kamu," ucap Kevin dan dianggukkan oleh Sinta.


"Makasih sayang. Besok malam Mas ke rumah ya, walau belum bisa bawa ibu tapi mas ingin silaturahim sama keluarga kamu," ucap Kevin dan dianggukkan oleh Sinta dengan senyum pula.


Kevin kini sedikit berani mulai memeluk tubuh Sinta yang pas di pelukannya. Sinta yang awalnya terkejut itu kini mulai menormalkan dirinya.


Cups.


Mata Sinta membulat saat merasakan hangat dan kenyal di bibir seksoynya.


"Emm."


Tubuhnya lemas macam jelly saat tengkuknya ditahan oleh Kevin. Ciuman itu semakin dalam hingga membuat Sinta hanya bisa menikmati seraya meremas tas kecil yang ia bawa.


"Ahh."


Suara menjijikkan itu keluar dari bibir Sinta, gadis itu tak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Semuanya terjadi begitu cepat hingga membuat Sinta tak tahu harus apa sekarang.


Kevin tersenyum tipis saat mendengar suara itu, ia memang bukan laki laki sholeh tapi ia bisa menjaga Sinta. Selain yang satu ini.


"Hosh hoshh hosh."


"Manis banget sih," bisiknya pada Sina yang membuat kesadaran gadis itu muncul kemudian ia mendorong tubuh Kevin.


"Mas, apa yang udah mas lakukan sama Sinta?" tanya Sinta dengan wajah memerah.

__ADS_1


"Maaf sayang, maaf sudah mencium kamu. Mas janji itu tadi yang terakhir, soal ya gak tahan sama bibir manis kamu setelah makan gulali tadi," jawabnya yang membuat Sinta kesal dan juga marah. Bisa bisanya ia pasrah begitu saja saat Kevin menciumnya.


Bersambung


__ADS_2