
Happy reading
Setelah mendapat suapan bubur dari Sinta, dan mereka juga sudah mengerjakan sholat magrib berjamaah di rumah itu. Kevin meminta Sinta agar membawanya ke ruang tamu. Ia suntuk di kamar terus. Hanya tiduran saja, biasanya ia akan menonton film dulu jika malam.
"Mas masih sakit, balik ke kamar yuk," ajak Sinta pada Kevin yang sudah menghidupkan televisi dan terpampang drama berbahasa Inggris di layar untungnya ada translatenya di bawah.
"Gak mau, Yank. Mas bosen," jawabnya dengan manja.
Laki laki berusia 26 tahun itu membaringkan tubuhnya di sofa dengan paha mulus Sinta yang menjadi bantal.
"Tapi, mas itu belum sembuh loh," ujar Sinta dengan gemas. Calon suaminya ini sangat keras kepala persis seperti dirinya.
"Biarin, udah ada kamu yang rawat aku," jawabnya masa bodoh. Kevin tak mau kembali ke kamar yang membuatnya makin pusing.
Akhirnya Sinta membiarkan Kevin bermanja di pahanya. Tangannya mengelus lembut rambut Kevin yang sedang menonton televisi.
Hingga keluarlah Bu Rahma dari dapur membawa puding di sebuah wadah. Sinta yang melihat itu menjadi tak enak, ia yang bertamu tapi malah disuguhi seperti ini. Harusnya ia juga ikut bantu bantu baut puding tadi.
"Maaf ya Bu, Sinta ngerepotin Ibu," ucap Sinta pada Bu Rahma. Sekaligus ia malu terpergok sedang memanjakan sang kekasih dengan tidur dipangkuan.
__ADS_1
Bu Rahma yang mendengar itu langsung menggeleng. Ia sama sekali tidak direpotkan apalagi dengan calon mantunya ini.
"Enggak, ibu tak ngerasa di repot kan. Sering sering ya main ke sini. Biar ibu ada temannya," ucap Bu Rahma yang tak heran dengan sikap Kevin yang seperti itu.
Karena mendiang suaminya dulu juga lebih manja daripada Kevin saat sedang sakit. Mungkin itu turunan dari almarhum suaminya.
"In syaa Allah, kalau Sinta sudah selesai ujian pasti Sinta sering main ke sini."
"Harus dong, dek. Mas udah nahan rindu pas kamu sibuk karena ujian, masa pas udah selesai ujian kamu gak mau main kesini?" tanya Kevin dengan nada lirih.
Sinta tersenyum kemudian mencubit hidung sang kekasih. Untung Kevin sudah tak sepusing tadi jadi ia tak begitu kesal dengan Sinta karena hidungnya di cubit.
"Maaf ya sayang. Mas gak mau kamu kepikiran, maafin Mas ya," ucap Kevin mengecup punggung dan telapak tangan Sinta dengan lembut.
Bu Rahma yang melihat itu tersenyum dengan lembut. Ia tak pernah melihat Kevin sebahagia ini saat sakit. Walaupun manja tapi Kevin selalu memancarkan aura sedih dan sendu.
"Gak apa apa, udah kamu marahi aja anak ibu yang ndablek itu. Emang dia itu sama kayak ayahnya dulu. Gak tahu orang lagi khawatir juga," ucap Bu Rahma dengan senyum.
Wanita paruh baya itu tak merasa keberatan dengan adanya sang calon mantu. Bahkan rumahnya kini tampak lebih hidup dari biasanya.
__ADS_1
"Makan malam dulu, ayo. Ibu udah masak sup ayam buat kalian," ajak Ibu yang memang sudah selesai masak.
"Loh kok Ndak bilang Sinta Bu? Kan Sinta bisa bantu," ucap Sinta yang makin tak enak dengan Bu Rahma.
"Gak apa apa, ibu seneng kamu mau kesini. Kamu itu tamu ibu saat ini. Jadi ibu harus menyediakan yang terbaik buat kamu biar kamu gak kapok main kesini," jawabnya yang membuat Kevin tersenyum.
Ibu menerima Sinta dengan baik, memang Kevin tak salah memilih calon istri. Tapi masalahnya Sinta belum mau di ajak menikah saat ini.
"Gak bakalan kapok kok Bu orang ada Kevin disini," jawab Kevin dengan bercanda.
"Terserah kamu aja lah Vin. Ayo ke ruang makan, nanti supnya dingin gak enak," ajak Ibu lagi.
"Tapi Kevin sudah kenyang makan bubur ibu tadi."
"Mas makan lagi, biar cepat sembuh. Nanti Sinta suapin deh biar Mas makan banyak," ucap Sinta dengan lembut.
Akhirnya Kevin menganggukkan kepalanya dan ikut ke meja makan. Karena Sinta mengiming-imingi ingin disuapi.
Bersambung
__ADS_1