Bengkel Cinta

Bengkel Cinta
Malam Minggu


__ADS_3

Happy reading


Kini Sinta dan Kevin sedang menikmati malam mingguan dengan menaiki sepeda motor. Apalagi Sinta yang tampak malu malu memeluk pinggangnya.


"Mas kita mau kemana?" tanya Sinta yang sedang duduk di jok belakang motor sport hitam milik Kevin dengan tangan yang memegang pinggang Kevin.


"Pasar malam mau? Katanya ada pasar malam hari ini," jawab Kevin dengan nada sedikit keras agar terdengar.


"Mauuu."


"Pegangan yang kenceng ya, Neng. Mas mau ngebut," ucap Kevin dan dianggukkan oleh Sinta. Gadis itu memeluk pinggan Kevin lebih erat saat motor sport itu bergerak lebih cepat.


Sedangkan Kevin yang dipeluk itu langsung tersenyum di balik helm full face miliknya. Malam Minggu yang paling berkesan ya malam ini, ia bisa jalan bersama orang yang membuat dirinya jatuh hati.


Sinta dengan ragu ragu mulai meletakkan dagunya di pundak Kevin agar ia bisa melihat ke depan.


Apa seperti ini rasanya malam mingguan? Hanya jalan jalan naik motor saja sudah membuat jantungnya dag dig dug. Banyak sih sebenarnya yang mengajak Sinta malam mingguan tapi gadis itu menolak dengan alasan ada acara. Tapi kenapa jika Kevin yang ajak langsung mau. Entahlah itu hanya dia yang tahu.


Tak lama sampailah mereka di pasar malam, gadis itu turun dari motor setelah Kevin memarkirkan motornya.


Kevin membantu Sinta melepaskan helm yang dipakai itu. Walaupun Kevin tahu Sinta bisa membukanya sendiri, tapi ia hanya ingin Sinta tak kesusahan.


"Mas aku bisa buka sendiri loh tadi," ucap Sinta dengan cemberut. Jujur ia malu dilihat orang orang yang berada di parkiran itu.


"Mas cuma mau bantu, mas juga tahu kalau neng bisa melepas helm sendiri," jawab Kevin merapikan rambut Sinta yang berantakan.


Lagi lagi perlakuan Kevin pada Sinta membuat Sinta malu sekaligus senang. Sedangkan para kaum yang melihat betapa so sweet pasangan itu langsung meminta kekasihnya juga ikut sweet agar tidak kalah saing.


"Udah cantik, sekarang ayo masuk. Tapi kita makan dulu ya, kamu belum makan malam kan?" tanya Kevin dan dijawab gelengan oleh Sinta pertanda ia belum makan.


Memang tadi ia sempat ikut membantu di dapur tapi pas Kevin sampai tadi masih tahap menggoreng. Jadi ia belum bisa makan, masa iya disuruh makan mentahan?

__ADS_1


"Mau makan apa neng?" tanya Kevin pada Sinta.


Jujur ini kali pertama Kevin ke pasar malam, padahal teman temannya dulu sering mengajak Kevin ke pasar malam tapi selalu ditolak oleh Kevin.


"Emm jajan aja yuk Mas. Nanti juga kenyang sendiri," ucap Sinta pada Kevin. Ia masih malas untuk makan nasi.


"Terserah Eneng aja, Mas ngikut. Sekalian nikmati waktu luang. Apalagi kamu besok pasti sudah sibuk lagi belajar buat ujian dan segala macamnya."


"Iya Mas, maaf ya kalau nanti Sinta sedikit gak ada waktu. Sinta usahakan deh buat kasih kabar Mas Kevin," ucap Sinta dengan senyum dan dianggukkan oleh Kevin.


Kevin dan Sinta bergandengan tangan masuk ke pasar malam. Dan rencana mereka akan ingin berburu makanan disini. Pada dasarnya Sinta suka jajan jadi tak heran jika gadis itu menginginkan jajan di pasar malam.


Kevin pun bisa maklum, lagipula hanya membelikan jajanan yang pasti tak akan habis 500 ribu itu tak akan membuat tabungannya nikah berkurang banyak. Sinta juga tak seperti wanita yang pernah ia temui, jajannya ke mall beli barang barang branded yang harganya selangit itu.


Mereka melihat tukang bakso bakar yang sedang mengipasi bakso itu. Aroma bakar bakar membuat Sinta pingin hingga akhirnya Kevin membelikan 20 tusuk bakso untuk mereka berdua.


"Mas kita duduk di kursi itu yuk, sambil makan," ucap Sinta menujuk bangku yang terbuat dari semen.


Kevin mengangguk dan mengajak Sinta duduk disana.


"Apa aja."


Akhirnya Kevin pamit untuk beli minum dulu, sedangkan Sinta menunggu seraya menatap Kevin yang sudah berjalan meninggalkannya untuk membeli minum.


Tak lama Kevin kembali dengan minuman di kedua tangannya. Kevin memberikan minuman itu pada Sinta dan duduk di tempatnya.


"Makasih Mas." Sinta mengambilnya dan dianggukkan oleh Kevin.


"Kenapa gak dimakan?"


"Nunggu mas kesini lagi," jawab Sinta mengambil bakso bakar dengan saos sambal dan kecap itu.

__ADS_1


Kevin juga mengambil bakso bakal itu kemudian memakannya. Rasa pedas, dan gurih itu menyatu dalam mulutnya. Apalagi dinikmati saat masih panas.


"Harusnya neng cantik makan dulu aja gak apa apa," ucap Kevin dengan senyum yang dijawab gelengan oleh Sinta.


"Mas."


"Iya neng."


"Sinta morotin duit Mas ya?" tanya Sinta pada Kevin.


Kevin yang sedang makan itu langsung menghentikan makannya kemudian ia menatap Sinta dengan tatapan bingung.


"Morotin gimana?" tanya Kevin dengan lembut seraya mengusap saos yang ada di sudut bibir Sinta.


"Sinta kan sering jajan, dan Mas yang selalu beliin buat Sinta. Apalagi Sinta kalau jajan suka kalap, pasti uang Mas Kevin terkuras banyak ya," ucap Sinta dengan pelan bahkan suaranya nyaris hilang.


"Enggak kok Neng. Lagian uang Mas in syaa Allah cukup kalau buat jajan kamu aja. Yang penting kan gak mahal mahal banget. Jajan kamu ini masih di tahap wajar. Lagian mas seneng kalau Eneng mau jalan sama Mas gini. Kalau masalah uang udah gak usah dipikir. Rezeki bisa datang dari mana aja," ucap Kevin dengan lembutnya mengelus rambut Sinta.


"Jangan mikirin uang lagi ya. Selagi kamu senang, Mas juga ikut senang. Apalagi kalau soal makan, Mas gak mau ngungkit. Ya neng sayang, jangan merasa kamu morotin Abang," lanjut Kevin yang membuat Sinta tersenyum.


Gadis 18 tahun itu tampak menikmati usapan dari Kevin. Ia bisa leleh jika Kevin seperti ini terus, apalagi Sinta dan Kevin pada dasarnya sudah dekat.


"Habisin dulu baksonya, habis itu kita keliling lagi. Siapa tahu ada yang lebih menarik dari jajan dan wahana disini," ucap Kevin dan dianggukkan oleh Sinta.


Mereka menghabiskan makanan mereka yang masih tersisa berberpa tusuk. Saking enaknya bakso bakar itu membuat keduanya lupa jika sudah hampir habis.


"Alhamdulillah."


Bakso yang mereka makan sudah habis, Sinta dan Kevin meminum minuman yang di bawakan oleh Kevin tadi.


Rasa dingin itu mengalir ke tenggorokannya. Setalah itu mereka melanjutkan berkeliling mencari jajan dan juga ingin mencoba wahana yang ada disana. Kevin ingin sekali melihat senyum dan tawa Sinta tiap harinya. Bahkan jika ia harus kehilangan banyak duit ia juga tak begitu peduli. Baginya rezeki itu sudah diatur sama yang di atas tinggal gimana kita nyari dan mempergunakannya.

__ADS_1


Bersambung


Minal aidzin wal faizin semua. Tya minta maaf apabila selama Tya jadi penulis ada salah sama kalian🙏


__ADS_2