
Happy reading
Dalam perjalanan mereka berdua hanya diam, dibenak Sinta masih terdapat banyak tanda tanya apalagi melihat pasangan itu meninggal dengan kondisi sedang berhubungan badan. Nauzubillah mindalik.
"Mas kok aku takut ya."
"Gak usah takut, kan kita gak ngapa ngapain," ucap Kevin mengelus punggung tangan Sinta yang berada di atas pahanya.
"Gak ngapa ngapain apa, tadi kamu nakal loh. Kalau penunggu disana marah gimana?" tanya Sinta sedikit jengkel pada Kevin.
Kevin hanya tersenyum, laki laki itu mengambil air yang ada di mobil itu dan memberikannya pada Sinta.
"Jangan ngaco kalau ngomong, gak apa apa kok sayang. Kita tadi cuma pelukan aja, walau sedikit kelewatan. Kita gak kayak mereka berdua tadi."
Sebenarnya tempat yang digunakan kedua orang tadi berhubungan adalah tempat yang sedikit angker. Banyak penunggu disana yang tak terima tempat tinggal mereka dijadikan tempat berbuat mes*m.
Tapi Kevin tak akan memberitahu hal ini pada Sinta. Yang ada calon istrinya nanti malah parno sendiri dibuatnya.
Hening
Keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing masing, tapi tangan keduanya tetap bertaut seakan tak ingin kehilangan kehangatan tangan itu.
"Masih lama ya mas?"
"Enggak sayang, mungkin berapa menit lagi sampai," jawab Kevin yang memang sudah menyiapkan semua yang diperlukan mereka nanti disini.
Akhirnya setelah berberapa saat mengendarai mobil itu, Kevin sampai di penginapan yang cukup sederhana disana tapi mah terkesan mewah dengan miniatur miniatur antik di luarnya.
Mereka berdua keluar dari mobil itu hanya membawa tas ransel Sinta dan juga tas kecil mereka. Kevin memutuskan untuk mengambil dua kamar tapi.
"Maaf, kang. Kamarnya tinggal 1, karena hari ini banyak yang berkunjung ke bukit dan menginap disini," ucap pemilik penginapan dengan jujur.
Kevin yang melihatnya Sinta sudah lelah itu akhirnya mengambil satu kamar yang tersisa. Pikir Kevin ia bisa saja nanti tidur di sofa atau kursi yang ada di kamar sedangkan Sinta biar tidur di kasur.
__ADS_1
Setelah mendapat kunci, mereka berdua berjalan menuju kamar yang di tunjuk oleh pemilik penginapan.
"Maaf ya sayang, penginapan ini tinggal satu kamar. Kamu tenang aja Mas bisa tidur di kursi atau sofa kok nanti," ucap Kevin dengan senyum.
"Iya Mas. Sinta juga udah capek banget. Mau cepat mandi dan tidur," jawab Sinta tak mau menyalahkan Kevin.
Bagaimana lagi, wong mau cari penginapan lagi juga udah malam banget. Sinta jadi teringat dengan kejadian tadi di bukit. Mungkin akan menjadi berita harian di koran.
Mereka berdua masuk ke kamar itu dan sialnya, Kevin tak menemukan sofa ataupun kursi disana. Hanya ada meja rias, lemari, gantungan, Karus yang muat untuk dua orang dan juga nakas saja.
"Mas aku mau mandi dulu gak apa apa kan?" tanya Sinta pada Kevin. Kevin hanya mampu mengangguk seraya mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.
Sinta berjalan menuju kamar mandi membawa pakaiannya, Sinta tak mau ada adegan seperti yang di novel novel kalau ia tak bawa baju ganti.
Setalah 15 menit Sinta di kamar mandi, gadis itu keluar dengan pakaian tidurnya. Piyama tidur dengan celana pendek itu mampu membuat Kevin panas dingin. Apalagi tadi siang ia bisa merasakan bagaimana empuk nya pepaya milik sang kekasih.
"Buruan mandi mas, habis itu kita cari makan deket sini."
Cups
"Dasar mas Kevin."
Sinta tak sengaja melihat ke arah ponsel Kevin yang masih menyala. Saat ia dekati ternyata itu adalah pesan dari Udin.
"Inalillahi wa innailaihi raji'un, Nurmala meninggal," gumam Sinta yang kini malah takut untuk keluar dari kamar.
Gadis itu membawa ponsel Kevin ke atas ranjang dan menarik selimut sampai batas dada.
Masih ingat dibenaknya saat ia dan Kevin lamaran dulu. Ada hal hal ganjil yang membuat Kevin sakit sakit. Kini Nurmala meninggal dengan penyakit yang tidak wajah. Nauzubillah.
Ceklek
"Loh, katanya mau keluar cari makan. Kok malah ndekem di kasur?" tanya Kevin keluar dari kamar mandi hanya memakai kolor saja. Membiarkan dadanya terekspos membuat Sinta malu.
__ADS_1
"Mas kenapa gak pake baju sih?" ,tanya Sinta dengan malu menutup matanya dengan tangannya sendiri.
"Lupa yank. Ini mau pakai baju kok," jawabnya mengambil kaosnya di dalam tas Sinta. Tapi tak langsung ia pakai.
Laki laki itu mendekat ke arah Sinta kemudian duduk di samping Sinta dengan keadaan tel***ang dada.
"Sudah sayang buka mata kamu," ucapnya dengan jahil.
Dengan cepat Sinta membuka matanya dan sontak ia berteriak.
"Aaa....ammm."
Teriakannya langsung di tahan oleh tangan Kevin yang tak mau tetangga kamar mereka terganggu.
"Jangan teriak nanti orang orang mikir yang enggak enggak lagi," ucap Kevin melepaskan bekapannya dari bibir Sinta.
"Mas juga kenapa gak pake kaosnya?" tanya Sinta dengan ketus. Tapi terlihat menggemaskan di mata Kevin.
Dengan tawa kecil, Kevin langsung memakai kaosnya di depan Sinta. Kemudian memeluk tubuh kekasihnya yang sangat hangat itu.
"Mas Nurmala meninggal ya?"
"Kamu tahu?"
"Dari ponsel Mas tadi. Maaf Sinta baca pesan dari Bang Udin."
"Iya gak apa apa, aku juga baru dapat kabar ini. Semoga Nur di tempatkan di tempat yang baik."
"Aku jadi takut keluar, kita pesan makan aja ya mas. Gak perlu keluar," ucap Sinta dan dianggukkan oleh Kevin.
Bersambung
Siap siap dengan semua modis Kevin setelah ini.
__ADS_1