Bengkel Cinta

Bengkel Cinta
Temen Bobrok


__ADS_3

Happy reading


Mas Montir Ganteng


Bangung neng udah pagi.


Anda


Iya mas ini udah bangun mau mandi.


Entah dari kapan Sinta mengubah nama kontak itu, tapi yang pasti Sinta langsung tersenyum melihat pesan itu.


Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara jika seperti ini. Pagi pagi udah ada yang chat disuruh bangun. Walau tanpa disuruh pun Sinta pasti akan bangun.


Setelah itu Sinta meletakkan ponselnya di kasur kemudian ia berlari menuju kamar mandi. Rencananya hari ini ia akan curhat pada sahabatnya jika ia sudah menemukan cowok yang sesuai dengan kriteria cowok idamannya.


Setalah selesai mandi dan bersiap, Sinta tak lupa memasukkan parfum, lipblam, dan bedak padat ke dalam tasnya. Niatnya ingin dandan dulu sebelum ketemu Mas Montir.


Dengan cepat Sinta langsung berlari ke arah meja makan dan bergabung dengan keluarganya.


"Cerah banget itu muka, habis dapat lotre?" tanya Bang Rendi yang sedang memangku sang putri yang tak mau jauh darinya sejak tadi.


"Hoihh ini malah lebih daripada lotre, Sinta habis memang undian. Bukan lotre lagi," jawab Sinta dengan kocak. Bahkan gadis itu senantiasa menarik senyum indah di wajahnya.


"Kenapa nih anak ayah? Gak biasa biasanya kamu kayak gini. Biasanya juga harus ibu bangunkan dulu baru bangun?" tanya Ayah yang sudah siap dengan pakaian kerjanya.


Ya ayah adalah salah satu manajer pemasaran yang bekerja di salah satu perusahaan. Sedangkan ibu hanya ibu rumah tangga biasa yang kadang menerima orderan kue.


Sedangkan Bang Rendi adalah seorang sekretaris dari sang ayah. Walau begitu mereka tetap bersikap profesional karena mereka kerja.


Kalau mbak Lika dulunya adalah pramugari yang terpincut dengan ketampanan Bang Rendi. Bang Rendi yang hendak keluar kota itu juga terpesona dengan pramugari cantik yang melayaninya saat itu.


Hingga mereka berkenalan dan akhirnya menikah dan memiliki anak yang cantik bersama Nessi Putri.


Oke back to meja makan.


"Adek udah ada yang bangunin yah," ujar Mbak Lika dengan muka jahilnya.


"Siapa yang bangunin? Pacar kamu?" tanya ibu yang sedari tadi diam mendengarkan perdebatan yang terjadi di meja makan itu.

__ADS_1


"Pacar? Bukan lah Bu. Sinta gak mau pacaran, bikin bodoh aja. Kalau ada yang ngajak nikah ya ayok aja," jawab Sinta dengan jujur.


"Kamu mau nikah muda?" tanya Ayah dengan wajah terkejutnya.


"Ya enggak gitu yah. Kan Sinta bilang kalau ada. Wong saat ini aja Sinta belum ada orang yang serius sama Sinta. Lagian pacaran dosa," ujar Sinta dengan wajah polos polos ******.


Sinta berbicara seperti itu seperti dia tak punya dosa saja. Karena tanpa diketahui orang tuanya Sinta pernah menonton bo*** dengan akun fake. Tentu bersama sahabat yang bobrok itu. Tapi tenang bang Rendi juga pernah Sinta pergoki sedang menonton itu kok.


"Kamu gak ada niatan buat kuliah?" tanya Bang Rendi dengan muka seriusnya. Karena di antara Bang Rendi dan Sinta hanya Sinta yang ogah ogahan buat kuliah sedangkan bang Rendi dulu sangat ngebet ingin kuliah.


"Emang harus ya kuliah?" tanya Sinta dengan muka polosnya. Karena bagi Sinta yang penting punya duit banyak dan kita hidup bahagia.


Lah kalau kuliah kita harus siapin otak dengan kapasitas banyak GB buat mikirin tugas kuliah dan juga kudu siapin mental buat skripsi yang entah kapan selesainya seperti abangnya dulu.


"Kuliah itu gak wajib tapi alangkah baiknya kamu kuliah biar masa depan kamu tertata," ujar Ibu dengan lembut menasehati anak bungsunya ini.


"Nanti deh Sinta pikirin buat kuliah apa enggak," jawab Sinta yang dianggukkan oleh mereka.


"Ayah sama Ibu dukung apapun keputusan kamu, ayah juga masih sanggup buat biayain kuliah kamu," jawab Ayah dengan tangan yang sudah mulai meminum kopi buatan sang istri tercinta.


"Siap."


****


Dengan mengendarai motor metik warisan entah milik siapa di rumah, Sinta melajukan kendaraannya roda dua itu ke sekolah SMA yang sudah 3 tahun ini menampungnya.


Sudah dapat dipastikan Sinta akan telat jika ia tidak ngebut saat ini. Apalagi kondisi jalan yang sedikit licin membuat Sinta harus ekstra hati-hati.


Hingga sampailah Sinta di sekolah pukul 7 lebih 5 menit, padahal tadi ia sudah berusaha untuk ngebut bahkan sampai menghiraukan orang yang mengumpatinya.


"Sialan udah menerima umpatan di jalan, sampai sekolah masih harus denger omelan dari pak Rayan," gumam Sinta memarkirkan motornya.


Ia melihat pak satpam yang sedang mengatur anak anak yang telat itu. Kemudian saat pak satpam lengah Sinta berlari lewat parkiran belakang hingga akhirnya ia sampai di kantin.


"Woy napa lu lari lari?"


"Telat gue, untung bisa kabur."


"Astaga gak biasanya lu telat."

__ADS_1


"Biasa dapat ceramah dulu dari rumah."


Tiara, sahabat Sinta yang paling baik. Karena memang Sinta hanya memiliki satu sahabat yaitu Tiara. Mereka sudah bersahabat sejak SMP bahkan mereka sering di katakan kembar karena kemana mana selalu bersama.


"Sebelum lu ngomong, gue mau lu temenin gue nanti beli tiket buat nonton konsernya Abang Agust. Gak ada penolakan dan lu juga harus temenin gue lihat tanggal 26-28 Mei nanti."


"Masih lama 26 Mei mah. Nanti gue ada urusan dulu," jawab Sinta.


"Tapi gue mau lu temenin gue nanti."


Tiara yang memang sangat fans para artis Korea itu selalu ingin up date setiap artis yang sedang naik daun.


"Haiss ya udah nanti deh kalau ada waktu gue temenin lu. Tapi kalau enggak gue gak bisa, gue ada urusan."


"Urusan apa sih Sin? Selain nemenin gue beli tiket?" tanya Tiara dengan wajah tertekuknya.


"Mau bayar hutang ke mas ganteng. Bahkan bagi gue mas ganteng ini lebih tampan dari oppa oppa Korea lu itu," ucap Sinta dengan sombongnya.


"Emang siapa sih?"


"Mas montir yang benerin motor gue kemarin. Gila Ra, kemarin gue jalan jauh sambil dorong motor tapi pas sampai bengkel gue ketemu sama pangeran gue yang paling ganteng," ucap Sinta mulai bercerita.


"Halahh gak ada yang bisa nyaingin Taehyung sama Jeamin di hati gue, kalau pun ada nanti nomor tiga selain mereka," ujar Tiara dengan suara meledeknya.


Pada dasarnya anak KPop sejati, gak ada yang bisa nyaingin para idol K-Pop walaupun suaminya sendiri nanti.


"Iya deh terserah lu, yang penting calon masa depan gue udah ada di depan mata," ujar Sinta dengan senyum mengembang.


Tiara hanya bisa mengangguk, karena sahabatnya ini memang jarang suka dengan laki laki padahal banyak yang mengejar Sinta selama ini tapi Sinta selalu menolak.


Pas udah sendiri bilangnya "kenapa gak ada yang mau sama gue, gue juga gak jelek jelek amat."


Buls*it


Tiara tahu betul sahabatnya itu.


Tapi ia juga senang Sinta bisa menemukan laki laki yang diidamkannya selama ini.


"Pokoknya nanti lu harus temenin gue beli tiket dulu. Kan bayar utang bisa besok," ujar Tiara yang hanya dianggukkan oleh Sinta.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2