
Happy reading
Kedua laki laki itu saling pandang kemudian Dani dengan pelan menggeleng. Karena Dani tahu pasti ini hanya akal akalan Nike agar bisa dekat dengan Kevin.
"Sorry gak bisa, kaki lu kan sakit jadi jangan dipaksain buat jalan jauh. Apalagi ikut cari motor gue," jawab Kevin yang sepertinya paham kode Dani.
"Tapi."
"Dan panggilin taksi," ucap Kevin dan dianggukkan oleh Dani.
Dani langsung mencari taksi yang ada di jalan itu kemudian setelah mendapatkan taksi, Kevin menyuruh Nike untuk masuk dan memberitahukan kepada Pak sopir itu untuk membawa Nike ke rumah sakit atau puskesmas terdekat.
Akhirnya dengan berat hati Nike meninggalkan Dani dan Kevin karena tak ingin kebohongannya tentang sakit kakinya terbongkar.
Kini kembali pada Dani dan Kevin yang mencari motor tua milik sang ayah. Kevin sepertinya lupa jika ia belum sarapan hari ini, jam sudah menunjukkan pukul 01.00 siang tapi belum ada petunjuk tentang motor yang hilang itu.
"Bos udah lama kita cari tapi gak ketemu gimana?" tanya Dani yang kini sedang duduk di atas motor.
__ADS_1
"Gue juga bingung, gue gak mau kenang kenangan ayah hilang gitu aja. Rencananya motor itu mau gue kasih buat Sinta karena sejak awal Sinta suka sama motor itu. Ibu juga udah setuju," ucap Kevin yang kini merasa gagal.
"Terus gimana bang, kita cari lagi atau udah stop aja? Atau kita lapor polisi aja bang?" tanya Dani seraya memberi ide untuk lapor polisi.
"Gak usah lapor polisi, Dan. Makin ribet urusannya nanti, gue gak mau pas acara nikah gue tiba tiba ada polisi. Kita pulang aja. Kalau masih rezeki nanti juga balik lagi," jawab Kevin yang kini sudah mulai pasrah.
Kemudian mereka kembali naik ke atas motor dan pulang ke rumah Kevin, posisinya saat ini adalah Kevin berada di belakang sedangkan Dani menyetir di depan.
Dalam perjalanan mereka hanya terdiam, Dani yang sama lelahnya itu hanya diam seraya menjalankan motornya menuju kediaman Kevin yang sudah berubah.
Akhirnya setelah beberapa saat mengendarai motor akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah Kevin. Kevin yang turun terlebih dahulu itu menyerahkan helm yang ia pakai pada Dani.
"Hari ini mau antar mamak ke toko, Bang. Rencana tadi mau bantu bantu sampai siang tapi malah ada musibah ini. Jadi maaf ya bang gak bisa bantu bantu, besok in sya Allah gue bakal kesini," ucap Dani yang merasa tak enak dengan Kevin.
"Santai aja, gue yang harusnya makasih karena lu udah mau bantu gue cari motor bokap gue."
"Iya bang. Ya udah gue pulang dulu ya, takut mati mamak marah karena ia mau ambil uang gajinya selama kerja di toko," pamit Dani dan dianggukkan oleh Kevin.
__ADS_1
Setelah itu Dani kembali menghidupkan motornya dan meninggalkan area rumah Kevin. Kevin yang melihat Dani sudah meninggalkan kediamannya itu langsung berjalan masuk ke dalam rumah saya menyapa orang-orang yang bekerja di sana.
Ternyata sudah banyak kerabat keluarganya yang datang, entah itu kerabat dari ibu atau bahkan dari alm ayah.
Seorang gadis kecil berusia 6 tahun berlari ke arah Kevin dan memeluknya. Itu adalah anak dari sepupunya, ternyata sudah sebesar ini anak sepupunya itu.
"Om darimana aja?" tanya Laila dengan polosnya.
"Dari luar, Laila. Kangen sama om ya, ayo masuk. Om mau nyapa yang lain," ajak Kevin dan dianggukkan oleh Laila.
Keduanya masuk ke dalam rumah dengan gandengan tangan. Laila memang sangat dekat dengan Kevin hingga tak jarang kalau mereka jalan bersama seperti anak dan ayah.
Kevin menyapa para kerabatnya dan berbincang sebentar. Sebelum akhirnya ia pamit masuk ke dalam kamar dengan alasan istirahat
"Maaf sayang aku gak bisa hadiahkan motor itu buat kamu," ucap Kevin pada sebuah foto di kamarnya itu.
Ingin rasanya Kevin menelepon atau bertemu Sinta, tapi semua itu harus ia tahan karena pingitan ini.
__ADS_1
Bersambung