Benih Yang Tak Diketahui

Benih Yang Tak Diketahui
Melahirkan


__ADS_3

Lastri mengantarkan Cahaya dan Damar sampai depan,karena gubug yang mereka tempati jauh dari jalan raya.Tari yang sudah pulang dari sekolah menunggu di depan pintu.


"Akhirnya kakak pulang juga."ucap Tari sambil memeluk Cahaya.


"Ini ada makanan banyak tolong kamu siapkan ya dek." ucap Damar sambil menyerahkan bungkusan makanan kepada Tari.


Lastri sempat mampir di rumah makan langganan dan membelikan banyak makanan kepada Damar..Setelah selesai makan Tari ijin untuk pergi mengaji.


" Bunga kenapa kamu tidak bilang sebelumnya kepadaku kalau kamu saat ini sedang hamil?"tanya Damar.


"Maaf Gue nggak bermaksud bohongin Lo,jika Lo tau dari awal pasti Lo nggak bakal ngijinin gue tinggal disini.Sebenarnya gue juga berbohong soal identitas.Nama gue Cahaya bukan Bunga dan gue tinggal di daerah sekitar sini.Gue difitnah nyokap tiri gue dan diusir dari rumah.Bahkan bokap gue juga terpisah sekarang nggak tau dimana.Yamg lebih menyedihkan lagi gue nggak tau siapa yang sudah menghamili gue." jelas Cahaya sambil menunduk.


" Kamu nggak usah sedih,aku janji padamu akan menjadi ayah dari anakmu asalkan kamu tidak menggugurkan kanndunganmu.Dan saat anak itu sudah lahir kita akan menikah." ucap Damar sambil menggenggam tangan Cahaya.


"Lo serius,ini bukan mimpi kan." ucap Cahaya.


"Aku janji padamu dan aku akan menganggap anakmu sebagai anakku sendiri.Dulu aku dibesarkan dipanti dan aku diadopsi oleh sebuah keluarga kaya karena mereka sulit mempunyai keturunan.Hingga akhirnya mereka diberi seorang anak perempuan,mereka sangat memanjakan dan menuruti apapun permintaanya.Hingga suatu hari anak gadisnya ditemukan gantung diri di kamar dan dalam keadaan hamil.Sejak saat itu mereka menyalahkan ku,akhirnya aku memutuskan pergi dan meninggalkan mereka.Aku tidak mau hal ini terjadi padamu,aku tau bagaimana perasaanmu hamil tanpa seorang suami pasti sangat menyakitkan." ucap Damar dengan mata berkaca kaca.


 Begitu juga Cahaya yang merasa iba mendengar penjelasan Damar.


***


Kini kandungan Cahaya sudah semakin besar,dia pun kesulitan berjalan.Dia tidak lagi ikut menemani Damar.Mual maupun pusing sudah tidak dirasakan lagi.Damar pun rajin membawa Cahaya ke bidan.


Penghasilan Damar semakin meningkat,beberapa tetangga kadang menyuruhnya membetulkan genteng,memperbaiki pipa yang bocor dan kadang memperbaiki saluran listrik yang padam.


Cahaya kini sudah banyak berubah dan kini berbicara dengan sopan dan berhubungan baik dengan tetangga.Kini dia pindah dan tinggal di kontrakan yang kecil.Kontrakanya jauh dari tempat yang dulu dia tinggali dan dia kini tidak perlu merubah penampilannya.


Kini dia tidak perlu memakai wig dan repot repot mengolesi lumpur ditubuhnya dan menggunakan nama palsu.


"Bang kok perut aku dari semalem mules banget ya." ucap Cahaya yang kini memanggil Damar dengan panggilan bang.


"Apa mungkin kamu akan lahiran." ujar Damar yang memandangi kalender didepannya.


"Tapi kan menurut bidan masih dua Minggu lagi." ucap Cahaya memegangi perutnya yang kini semakin besar.

__ADS_1


"Ya udah,biar hari ini aku libur dulu takut kamu akan melahirkan." ucap Damar.


"Tapi bang ini kan masih lama biar Abang berangkat kerja saja,aku nggak papa kok." ucap Cahaya.


"Ya sudah,kalau ada apa apa biar Tari suruh ketempat pak Anwar aku sedang membetulkan pipa air dirumahnya." ucap Damar.


"Ya bang hati hati ya." ucap Cahaya yang dibalas senyuman dari Damar.


Saat siang Cahaya merasakan mulas yang hebat beruntungnya Damar pulang.Dia segera membawa Cahaya ke bidan namun saat sampai disana ternyata bidan tutup.


Damar sangat panik,dia lalu menuju ke kampung sebelah.Ditengh jalan ketuban Cahaya pecah tiba tiba sebuah mobil berhenti .


"Tin tin"


"Damar,kalian mau kemana?" tanya Lastri sambil membuka jendela mobil.


"Ini bu Lastri istri saya mau melahirkan." sahut Damar sambil yang tengah memapah Cahaya.


"Kalau begitu ayo masuk,kebetulan saya juga mau kerumah sakit." ucap Lastri sambil membukakan pintu mobil.


" Terimakasih Bu Lastri." ucap Damar.


Sesampainya dirumah sakit Damar segera mendaftar.Karena kondisi Cahaya yang telah kehabisan air ketuban maka dokter menyarankan operasi terlebih lagi janin yang ada di perutnya dua maka akan sulit untuk melahirkan normal.


"Bagaimana aku punya uang sebanyak ini untuk biaya operasi." ujar Damar sambil melihat selembar kertas ditangannya.


"Kamu tenang saja,saya yang akan menanggung semua biaya operasi istrimu." ucap Lastri yang berada di belakang Damar.


"Terimakasih Bu,kebaikan ibu pasti akan selalu saya ingat.Dan saya juga berjanji akan mengganti semua biaya operasi istri saya." ucap Damar dengan mata berkaca kaca.


"Kamu tenang saja,kamu tidak perlu pusing memikirkan soal biaya." ucap Lastri yang sama sama tengah menunggu kehadiran Bayu diruang tunggu bersama Damar.


"Bagaimana keadaan cucu dan menantu saya dok?" tanya Lastri pada dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.


"Mohon maaf Bu Lastri saya sudah berusaha semampu saya,tapi Tuhan berkehendak lain.Cucu ibu tidak bisa diselamatkan,dan menantu ibu saat ini masih belum sadar,ibu yang sabar ya." sahut Dokter.

__ADS_1


"Apa cucuku tidak bisa diselamatkan." ucapnya sambil merosot ke lantai.


Bagaimana tidak sedih,ini keempat kalinya menantunya keguguran.Sedangkan putranya telah meninggal lima bulan yang lalu.Harapannya untuk menimang cucu sudah sirna.Damar membantu Bu lastri duduk dan menghiburnya.


" oek oek oek"


Damar yang mendengar suara bayi duakali berturut turut sujud dilantai.


"Alhamdulilah ya Allah Cahaya sudah melahirkan." ucap Damar segera bangkit karena melihat Dokter sudah keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana kondisi anak dan istri saya dok?' tanya Damar.


"Kondisi Bu Cahaya sudah membaik dan boleh dijenguk.Namun ada masalah dengan bayi anda....Salah satu bayi anda mengalami kelainan jantung." ucap Dokter terlihat sedih.


Setelah kepergian Dokter Damar segera masuk keruangan Cahaya.


"Bang liat bayi nya lucu sekali ya,tapi kenapa yang satunya tidak di bawa kesini ya" tanya Cahaya yang sedang membelai wajah putranya yang sedang tertidur.


"Maaf Bu,bayi ibu harus dibawa ketempat khusus bayi ." ucap seorang perawat.


"Ya sus,bisa tolong ambilkan bayiku yang satunya."ucap Cahaya sambil menyerahkan bayinya.


"Maaf Bu,dokter Andre tidak mengijinkan karena putra ibu mengalami kelainan jantung dan saat ini berada diruang inkubator." ucap siperawat yang kemudian pergi membawa bayinya.


"Kamu tenang saja Cahaya,anak kita pasti akan segera sembuh." ucap Damar.


Setelah dirawat selama lima hari akhirnya Cahaya sudah diperbolehkan untuk pulang,sedangkan bayi yang satunya belum diperbolehkan.


"Cahaya kamu sudah bisa pulang hari ini,saya ikut senang.Tapi bolehkah saya meminta tolong padamu." ucap Lastri sambil menggenggam tangan Cahaya.


"Ya Bu katakan saja jangan sungkan,ibu sudah banyak membantu saya."ucap Cahaya.


"Maaf Cahaya kemarin ibu membawa bayimu diruangan Rania saat mendengar suara tangisan bayi Rania sadar dari komanya.Bolehkah ibu merawat salah satu bayimu,saya mohon.Ini demi Rania,dia sudah tiga kali keguguran dan yang keempat kalinya bayinya tidak bisa diselamatkan.Jika keadaan Rania sudah membaik saya janji akan mengembalikan padamu.Tolong pikirkan baik baik Cahaya ini demi bayimu,dan saya berjanji akan merawatnya dan menjaganya seperti cucu saya sendiri." ucap Lastri kemudian meninggalkan ruangan Cahaya.


"Bang ini bagaimana,tadi Bu Lastri kesini dia...'' Cahaya terdiam dan tidak melanjutkan kata katanya.

__ADS_1


"Terserah padamu Cahaya,Abang pasti mendukung semua keputusanmu.Bu Lastri memang sudah banyak membantu kita,dan itu adalah bayimu kamu lah yang lebih berhak.Soal biaya Abang janji akan berusaha mengembalikan biaya operasi kamu." ucap Damar sambil menggenggam tangan Cahaya.


"Ya Allah bagaimana ini,apa aku harus menyerahkan putraku padanya.Dia sudah banyak membantuku selama ini,tetapi aku juga sangat menyayangi bayiku aku tidak mau terpisah darinya." gumam Cahaya lirih.


__ADS_2