
"Aya tolong lepaskan pisau itu,kamu jangan bunuh diri aku akan selalu membantumu.Ingat Aya anak anakmu masih kecil mereka masih membutuhkanmu." ucap Sisil sambil mendekati Cahaya.
"Siapa yang mau bunuh diri,kamu ngaco ya kebanyakan nonton Drakor jadi gini otaknya sengklek." ucap Cahaya sambil menaruh pisaunya.
"Itu kenapa kamu memegangi pisau tadi." ucap Sisil.
"Oh itu,buat ntar malem lah.Aku mau merampok toko mas yang berada di dekat pasar sana.Ya udah ya aku pergi dulu mau nyari teman buat ikut merampok."ucap Cahaya kemudian pergi.
Karena khawatir akan tingkah laku sahabatnya Sisil memutuskan untuk menyusulnya,namun saat didepan gerbang rumah cahaya dia berpapasan dengan Bayu.
"Gawat Damar,cepetan kamu kejar Cahaya sana." ucap Sisil sambil mendorong Bayu.
"Aku itu Bayu bukan Damar,memangnya Cahaya kemana harus dikejar." ucap Bayu keheranan.
"Tadi dia ngeluarin pisau aku pikir dia mau bunuh diri.Tapi ternyata tidak, dia mau merampok dan dia sedang mencari teman untuk membantunya merampok."ucap Sisil.
"Nggak mungkin lah masa cewek secantik dia merampok kamu bercanda saja.Mana berani dia merampok." ucap Bayu.
"Kamu ini dibilangin nggak percaya,aku tuh sahabatan sama dia sudah lama dan aku tau betul kelakuannya.Kalau dia sedang ada masalah apapun akan dia lakukan tanpa memikirkan akibatnya." ucap Sisil kesal.
"Memang aku akui dia cewek yang berani,tapi kamu tenang saja nyari teman buat merampok itu pasti susah." ucap Bayu.
"Aduh kamu ini dibilangin ngeyel,Cahaya itu pernah dipenjara jadi dengan mudah dia menemukan orang yang bisa membantunya."teriak Sisil kesal kemudian pergi.
"Pernah dipenjara,pantas saja kelakuannya seperti itu.Ini semua salahku,seharusnya aku memberikan uang lima ratus juta itu padanya.Pasti dia kecewa sampai berbuat hal senekad ini apa lagi semalem aku telah menodainya." gumam Bayu kemudian berlari mengejar Sisil.
"Hay tunggu, ayo kita cari Cahaya sama sama." teriak Bayu yang berlari kearah Sisil.
"Kamu liat kan Cahaya nggak bawa mobil,berarti dia pergi ke gang sempit sana.Disana banyak mantan napi yang tinggal disana." ucap Cahaya menunjuk ke sebuah gang kecil.
__ADS_1
"Ya sudah kita kesana saja." ucap Bayu.
"Aku nggak berani,dia sana banyak preman.Memangnya kamu berani,ya sudah lebih baik kita tunggu di rumah saja lagian Cahaya beraksinya nanti malam.Kita cari ide supaya menggagalkan rencananya." ucap Sisil kemudian berbalik.
"Tadi katanya mau kesana,ya udah aku mau pulang dulu." ucap Bayu sambil menuju mobilnya.
Bayu segera menuju ke rumah dan mengambil uang.Dia mempunyai simpanan uang yang hendak dijadikan mas kawin pernikahannya dengan Indah.
"Kalian berdua ngapain disini?"Tanya Bayu saat berada di teras rumah Cahaya.
"Kita temennya neng Cahaya Bang." ucap Salah satu dari mereka.
"Mungkin ini teman Cahaya yang mau diajak merampok." gumam Bayu dalam hati.
"Eh kampret ngapain kamu kesini." tanya Cahaya sinis.
"Cahaya aku mohon urungkan niat kamu buat merampok,bagaimana kalau nanti kamu tertangkap.Kasian kedua anak kamu mereka masih kecil.Aku janji padamu aku akan menuruti semua permintaan kamu.Ini aku sudah bawa uang seperti yang kamu minta bahkan aku lebihin sedikit."ujar Bayu sambil membuka kopernya.
"Aku nggak mau tekad aku sudah bulat malam ini aku mau merampok.Kemarin aku ngemis ngemis ke kamu dicuekin.' ujar Cahaya sambil memalingkan wajahnya.
"Aku tuh sudah terlanjur cinta banget sama kamu,maksud aku anak anak kamu.Aku akan melakukan apapun untuk kamu,aku juga bersedia menjadi ayah dari kedua anak kamu.Besok kita langsung menikah saja tidak usah menunggu waktu lama."ucap Bayu.
"Kamu pikir menikah itu gampang,aku ini masih punya suami.Kamu sudah menodai pernikahanku dengan Damar,bagaimana jika dia tau apa yang sudah kita lakukan.Kamu memang benar benar keterlaluan,aku benci sama kamu sudah pergi sana." ucap Cahaya.
"Aku berani bersumpah,malam itu kamu yang menggodaku kamu sendiri yang berpakaian seperti itu dan tiba tiba memeluk dan menciumku.Kalau tidak percaya nih liat videonya." ucap Bayu sambil membuka ponselnya
Didalam vidio terlihat Cahaya tengah berada di atas tubuh Bayu dalam keadaan telanjang.
"Pasti ini bohong." teriak Cahaya sambil membanting ponsel yang berada ditangan Bayu.
__ADS_1
"Brakkk"ponsel Bayu jatuh dan retak.
"Ponselku rusak,padahal aku baru saja membelinya sebulan yang lalu." ucap Bayu sambil memunguti ponselnya.
"Kamu keterlaluan kamu lebih mementingkan ponsel itu dari pada harga diriku.Pokoknya aku nggak terima,kamu harus bertanggung jawab padaku.Minggir aku mau pergi,urusan kita nanti saja ada hal lain yang lebih penting." ucap Cahaya yang mendorong Bayu.
"Aku akan bertanggung jawab,tapi tolong kamu jangan merampok.Ini uangnya buat kamu semua,jika kurang aku masih ada dirumah."ucap Bayu yang menahan tubuh Cahaya.
"Apa aku terima saja uangnya,kalau dipikir pikir hasil merampok belum tentu sebanyak ini." gumam Cahaya dalam hati.
"Baik aku terima tapi ada dua syarat lagi yang harus kami penuhi.Yang pertama teman aku sudah menunggu di depan aku tidak enak jika mengusirnya." ucap Cahaya pelan.
"Oh itu masalah gampang biar aku yang mengatasi." ucap Bayu kemudian pergi kedepan.
"Maaf ya bang Cahayanya tiba tiba sakit perut kalian pulang saja ya.Ini ada sepuluh juta buat kalian bagi dua." ucap Bayu sambil menyodorkan segepok uang.
"Ya udah lah nggak papa,sebenarnya tadi aku juga nggak mau merampok udah mau tobat.Mau jadi orang baik tapi Cahaya memaksa jadi nggak enak.Kalau begini aku jadi deh tobatnya.Makasih ya bang semoga rejeki Abang lancar."
"Amin.' ujar Bayu kemudian meninggalkan mereka.
"Meraka sudah pada pulang,apa syarat keduanya." tanya Bayu.
"Kamu harus beliin aku rumah yang besar dan mewah untuk aku dan anak aku tinggal." ucap Cahaya .
"Ya ampun ini cewek, lama lama aku bangkrut.Bida habis duit tabungan aku."gumam Bayu dalam hati.
"Oke itu masalah gampang,nanti jika papi sama kakek aku pulang dari London aku beliin kamu rumah." ucap Bayu.
"Ah kelamaan,kamu pasti bohong bilang saja nggak mampu.Minggir kalau kamu nggak mau aku juga bisa merampok sendiri." ucap Cahaya yang hendak mendorong Bayu.
__ADS_1
Dengan sigap Bayu menangkisnya tangan Cahaya dan mereka berdua terjatuh.Mereka berdua saling pandang cukup lama.
"Ngapain kamu pegang pegang istri aku." teriak Damar sambil mendorong tubuh Bayu.