
Ternyata begitu banyak obat kuat yang berada dalam koper Ibra salah satunya sildenafil.Bahkan yang lebih parah lagi banyak foto foto tidak pantas dalam kopernya.
"Aku mau kita bercerai bang." ucap Fitri sambil menahan air matanya yang hampir saja terjatuh,dengan cepat dia mendongakkan wajahnya keatas.
"Sayang tolong jangan lakukan ini,Papi janji tidak Kan mengulanginya lagi.Papi khilaf tolong maafkan papi." ucap Ibra sambil bersujud dan memeluk kaki istrinya.
"Sekarang katakan,apa benar kamu yang sudah menghamili Mentari?" tanya Fitri sambil memalingkan wajahnya.
"Aku cuma sekali mi,jadi tidak mungkin hamil.Lagi pula papi memakai pengaman,tolong mi maafkan papi,papi janji akan berubah.Kita sudah tua kasihan anak anak jika kita bertengkar." sahut Ibra yang masih memegangi kaki istrinya.
Namun Fitri tidak percaya begitu saja terhadap ucapan suaminya,dia mendorong suaminya kemudian masuk ke kamar.Dia yakin sekali kalau suaminya sering menemui Mentari.Selama beberapa hari Fitri selalu mendiamkan suaminya,dan berusaha untuk memaafkannya.
***
Hari pernikahan Mentari dilaksanakan hari ini dikediaman pak Maman dan hanya dihadiri kerabat terdekat saja.Karena dilakukan secara sederhana tanpa pesta hantu syukuran kecil kecilan.
Mereka tinggal tidak jauh dari rumah yang Cahaya tempati hanya berjarak berapa blok saja.
"Kak,tolong pasangin gas rumahku dong.Aku mau masak tapi gasnya habis!!"ucap Mentari yang kini sudah berada dibelakang kakaknya yang tengah memasak.
"Aduh ini lagi tanggung,bentar lagi anak anak bangun.Hari ini ada acara di sekolah,tunggu aku selesai masak dulu ya." sahut Cahaya tanpa menoleh ke arah adiknya.Daay ini dia tengah fokus memasak.
"Ah kelamaan,aku beli saja." ucap Mentari sambil melihat ke sekeliling kemudian pergi kedepan.
"Tunggu biar aku yang pasangin." ucap Ibra sambil memandangi Mentari seolah ingin menerkamnya. Sepagi ini dia sudah berdandan cantik dan mengenakan pakaian seksi setinggi lutut dengan belahan dada yang terbuka.
"Ihh om Ibra,ngagetin aja.Om semakin ganteng saja." ucap Mentari sambil tersenyum menggoda.
"Kebetulan ada om Ibra,aku lagi pengin banget nih.Dari pada sama bandot tua itu,mending sama dia saja.Anaknya nggak dapat bokapnya juga nggak papa lah."gumam Mentari dalam hati.
__ADS_1
Kemudian Ibra mengekori kerumahnya,padahal saat ini dia sudah berpakaian rapi dan hendak kekantor.Ibra langsung memasangkan selang regulatornya,padahal dirumahnya dia tidak pernah mau membantu istrinya.
"Om ini kopinya,atau om mau yang lain.kalau mau kita kekamar aja om,mumpung suami aku nggak ada dirumah." ucap Mentari yang hanya mengenakan handuk setinggi lutut.Ibra hanya menelan salivanya kemudian mengekori Mentari kekamarnya.Ibra juga mendatangi Mentari setiap tengah malam,setelah semua keluarga terlelap.
ini bukan pertama kalinya Mentari memasukan pria lain kekamarnya,sebelumnya dia juga membawa teman kampusnya menginap dirumahnya saat suaminya pergi.
Semenjak menikah bersama Maman yang hanya seorang tukang kebun,Mentari memilih berpisah kamar.Dia merasa malu menikahi pria yang umurnya lebih tua dari ayahnya.Bahkan dia menganggap suaminya sebagai pembantu dan selalu menyuruh mengerjakan pekerjaan rumah setelah pulang bekerja.
Maman yang kini selalu pulang malam,bahkan sering tidak pulang membuat tingkah Mentari semakin menjadi jadi.Padahal usia kehamilannya kini menginjak empat bulan.
Akhir akhir ini Fitri juga merasakan hal aneh pada suaminya.Suaminya yang biasanya selalu bermanja manja padanya kini bersikap cuek dan dingin.Terlebih lagi mereka saat ini pisah ranjang sehingga memudahkan suaminya bebas pergi melakukan apapun.
"Aku mau mengantar mangga ketempat Mentari,kemarin dia bilang pengin mangga." gumam Cahaya sambil memasukan beberapa buah mangga muda kedalam kantong kresek.Setlaah itu dia berpamitan pada ibu mertuanya dan menuju rumah adiknya.
"Ini seperti sepatu Papi,Masa iya sepatu Papi disini.Pak Maman mana mungkin pakai sepatu,nanti aku tanyakan saja pada Mentari." gumamnya lirih sambil mengatur sepatu yang tergeletak dibelakang pot bunga.Rumah Mentari memang banyak ditumbuhi bunga bunga samping dan depan rumah,apalagi Suaminya seorang tukang kebun.Rumah yang tadinya terlihat tidak menarik kini disulap menjadi taman yang menarik dan indah serta air mancur kecil di tengah taman.Walaupun kecil tapi terlihat menarik dan indah dipandang mata.
"Apa sepagi ini sudah pergi,atau jangan jangan masih tidur ini kan hari Minggu.Pasti sedang berduaan dengan suaminya,sebaiknya aku taruh saja mangga ini lewat pintu belakang saja.ucapnya kemudian menuju pinta belakang yang kebetulan tidak di kunci.Dia segera menaruh mangganya dimeja,namun dia mendengar suara ******* seseorang dari kamar belakang.Karena penasaran dia mendekati kamar itu dan menempelkan telinganya.
"Ya ampun Mentari ini kan jam sepuluh pagi,sudahlah mungkin bawaan hormon dia kan sedang hamil jadi wajar saja jika begitu.Yang penting dengan suaminya bukan suami orang."ucapnya kemudian berjalan pulang kerumahnya.
"Sayang kamu dari mana saja?" tanya Bayu yang sedang bermain dengan Salsa di teras.
"Dari rumah Mentari nganterin mangga." ucap Cahaya kemudian ikut duduk diteras.
"Aku lupa, kemarin sore aku ketemu pak Maman dia bilang supaya kamu menemaninya tidur soalnya pak Maman bilang ada pekerjaan yang harus diselesaikan." ucap Bayu sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Jadi pak Maman tidak dirumah,jadi siapa dong yang bersama Mentari,jangan jangan papi." gumam Cahaya dalam hati.
"Kamu kenapa sayang,kok mukanya gitu?" tanya Bayu yang melihat wajah istrinya pucat.
__ADS_1
"Nggak papa sayang ,cuma pusing mungkin kecapean.Aku kemar dulu ya sayang." sahut Cahaya sambil mencium kening putrinya.Kemudian dia masuk ke kamar dan menyenderkan tubuhnya diranjang.
Bayu yang melihat keanehan istrinya segera menemuinya di kamar dan menitipkan Salsa pada kedua putranya yang tengah bermain.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Bayu lembut sambil membelai rambut istrinya.
"Aku nggak papa,Bay papi sekarang dimana?"tanya balik Cahaya
"Papi lagi kerumah teman kantornya dari kemarin,katanya temannya sakit.Jadi dia menginap disana." sahut Bayu.
"Sayang ayo kita kerumah Mentari,aku tadi lihat sepatu Papi disana ayo buruan." ucap Cahaya sambil menarik tangan suaminya.
"Sepatu seperti papi itu banyak sayang." ucap Bayu.Namun Istrinya tidak menghiraukannya,Bayu hanya menurut dan mengikuti istrinya sampai dirumah iparnya.
"Tuh sepatunya masih ada,udah jangan berisik." ucap Cahaya kemudian mengendap endap ke kamar Mentari diikuti Bayu dibelakangnya.Telinga ditempelkan ke pintu,namun tidak mendengar suara apapun.
"Mentari buka pintunya cepetan ,kalau nggak aku dobrak pintunya sekarang juga." teriak Cahaya sambil menggedor gedor pintu.
Hening...
"Buruan,aku hitung sampai tiga.Kalau nggak dibuka aku dobrak ya." teriaknya penuh emosi sambil mengepalkan kedua tangannya.
Kriettt
"Ih kakak apaan sih." ucap Mentari dengan rambut acak acakan dan hanya mengenakan handuk.Serta banyak sekali tanda merah dibagian dada dan lehernya.
"Minggir,dimana laki laki yang barusan menidurimu" ucap Cahaya sambil menyingkirkan adiknya yang berdiri di depan pintu dan menerobos masuk.
Kamar begitu berantakan dengan pakaian dalam yang berserakan dimana mana.Dia segera menuju ke kamar mandi,namun adiknya menghalanginya di depan Pintu kamar mandi.
__ADS_1