
"Permisi bang,boleh duduk bareng mbak nya nggak." ucap Cahaya sambil memainkan rambutnya.
"Sana pergi,jangan ganggu saya." ucap si pria sambil melotot ke arah Cahaya.
"Ya udah gue duduk sini aja." ucap Cahaya yang nekat duduk disebelahnya.
"Disitu kan banyak tempat kosong,kamu duduk situ aja." ucapnya sambil menunjuk bangku didepannya.
"Kalau gue duduk bareng abangnya gimana,boleh nggak?" tanya Cahaya sambil mengedipkan matanya.
"Wah boleh juga nih cewek,mana cantikan dia lagi.Mana menggoda gitu,kalau diliat liat mudaan dia kemana mana." gumamnya dalam hati sambil menjilat bibirnya sendiri.
"Ya udah sana kamu boleh pindah."ucapnya menyuruh wanita yang dipangkunya pindah.
"Nama Lo siapa bang,gue Bunga?" tanya Cahaya setelah kepergian wanita tadi.
"Saya Agus,kamu cantik banget." ucap Agus sambil memandang wajah Cahaya tak henti henti.
"Itu tadi pacarnya bang!" ucap Cahaya.
"Oh bukan,tadi temen aja,Aku belum punya pacar,kamu mau nggak jadi pacar aku." ucap Agus yang terus memandang wajah Cahaya.
"Boleh,kebetulan gue lagi jomblo.Abang mau jadi pacar aku." ucap Cahaya sambil berpura pura genit.
"Ya ampun mimpi apaan aku semalem,ketemu cewek secantik ini." ucap Agus sambil senyum senyum sendiri.
"Woi,kenapa Abang malah senyum senyum sendiri gitu?"tanya Cahaya.
"Habis kamu cantik banget,Abang gak nyangka ini kayak mimpi.Biasanya yang naik bus ini cewe biasa semua,gak ada yang cantik."jawab Agus.
"Emang tiap hari Abang naik bus ini." ucap Cahaya.
"Nggak lah cuma dua hari sekali,melampiaskan hasrat aja.Disini kan yang naik banyak cewe bodoh." ucap Agus.
" Berarti gue bodoh dong bang." ucap Cahaya.
"Ya nggak lah,kamu tuh cantik banget.Masa cewe secantik kamu dibilang bodoh." ucap Agus Sambil tertawa.
"Gimana kalau kita langsung ginian." ucap Agus sambil menunjukan gerakan tangannya.
"Plakkk"
"Loh kok aku ditampar sih,kamu mau aku pake cara kekerasan." ucap Agus sambil menunjukan pisau dari kantong celananya.
"Ya ampun bang gitu aja marah,habis gue tuh gemes sama Abang.Setiap kali gue gemes sama orang tuh maunya nampar.Pacar gue aja Ampe mutusin gue gara gara sering kena tampar.Ya udah kalo abang gak mau biar gue pindah depan aja deh." ucap Cahaya yang hendak berdiri.
"Jangan,aku mau kok nggak papa deh kena tampar cewe cantik kayak kamu aku rela." ucap Agus sambil menahan tangan Cahaya.
"Tapi bang gue tuh bener bener gemes banget sama Abang.Emang kagak napa Abang ditampar lagi?" tanya Cahaya dengan senyum yang menggoda.
"Ya nggak papa aku rela ditampar.Sekarang juga nggak papa." ucap Agus.
"Plakkk"
"Plakkk"
"Plakkk"
__ADS_1
"Akhhh" ujar Agus sambil memegangi pipinya yang merah karena Cahaya menampar cukup kuat.
"Sialan,keras juga nih cewek namparnya.Untung aja cantik kalau nggak udah aku cekik lehernya biar ma*pus sekalian."gumam Agus dalam hati.
"Maaf ya bang namparnya kekencangan habis Abang gemesin sih." ujar Cahaya yang nampak senang.
Para penumpang hanya melirik kearah mereka berdua begitu juga wanita yang ditolongnya.Namun Cahaya tidak menghiraukannya.
"Ya udah kita langsung aja ya ginian,aku udah nggak tahan.Kamu naik diatas biar aku pangku." ucap Agus girang.
"Emang Abang gak bosan diatas mulu." ucap Cahaya dengan gaya yang menggoda
"Maksud kamu gimana?" tanya Agus penasaran.
"Sekarang lo yang diatas belum pernah kan." ucap Cahaya.
"Ya ampun nih cewe,aku bener bener suka cewe kayak gini.Nggak sia sia aku kena tampar empat kali."gumam Agus dalam hati.
"Ya kalau itu aku mau banget." ucap Agus sambil tersenyum.
"Tapi sebelumnya Abang pake ini dulu di senjata Abang." ucap Cahaya sambil mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna kuning dan memberikan padanya.
"Ini apaan neng kok warnanya gini,baunya juga aneh?" tanya Agus yang membuka dan mencium botol pemberian cahaya.
"Oh itu pelumas biar kita mainnya lama,gue aja udah sering make kayak gituan sama cowok gue dan dia malah ketagihan.Kalau Abang kagak mau juga kagak papa,sini biar gue pakai lain kali." ucap Cahaya yang hendak mengambil botolnya.
"Jangan,aku mau bentar ya aku pakai ini dulu."ucap Agus sambil menuangkan ketangan dan mengoleskan ke senjatanya.
"Rasain loh bang siapa suruh main main sama gue.Itu tuh pemberian bang Beni sewaktu dipenjara.Katanya jika pakai itu senjatanya jadi perih dan habis gitu senjata nya udah kagak ada gunanya lagi.Lo udah nggak bisa berbuat maksiat lagi di bus."gumam Cahaya dalam hati.
"Ayo neng aku udah siap,tap kenapa kok perih ya."ujarnya sambil menggaruk miliknya.
"Loh celana kamu belum dibuka sih,kamu ngerjain aku yah,awas kalau sampai bohongin aku biar aku hikkk....leher kamu." ucap Agus sambil memegang pisau ke leher Cahaya.
"Ya ampun Abang ni kagak percayaan banget,kan kita butuh pemanasan dulu bang masa langsung aja.kan nggak enak.":ucap Cahaya.
"Bener juga yah,kamu memang pintar."ucap Agus yang hendak duduk di bangku Cahaya.
"Kok ini makin perih buruan dong neng." ucap Agus.
"Ya bang bentar lagi nih pemanasan dulu."ucap Cahaya sambil membuat suara erangan,sedangkan tangannya mengambil pisau dan pistol mainan dari tasnya.
"Sekarang Abang pilih,pisau ini menusuk leher Abang lebih dalam.Atau pistol ini menembus kepala Abang." ucap Cahaya dengan tangan yang memegang pisau di tangan kanan dan pistol mainan di tangan kiri .
"Kamu jangan macam macam sama saya ya.Awas kamu saya juga punya pisau." ucap Agus yang berusaha mencari pisaunya di saku celananya.
"Percuma saudara Agus saya ini petugas polisi yang menyamar.Anda saya tahan karena sudah menganggu kenyamanan penumpang.Sebaiknya anda segera menyerahkan diri atau pistol ini menembak kepala anda." ucap Cahaya.
"Nggak aku ga mau ditahan." ucap Agus yang segera turun dan loncat dari bus yang sedang berjalan.
"Terimakasih ya mbak,kamu sudah menyelamatkan saya.Kenalkan nama saya Siti." ucapnya sambil mencabut tangan Cahaya.
" Gue bunga,silahkan duduk " ucap Cahaya.
" Mbak hebat yah bisa menghadapi orang seperti tadi." ucap Siti sambil duduk di sebelah Cahaya.
"Kenapa tadi Lo diam aja kagak minta bantuan?" tanya Cahaya sambil memandangi wajah Siti.
__ADS_1
"Saya takut,orang tadi ngancam saya pakai pisau.Saya hanya minta tolong ke ibu itu.Sebenarnya saya males naik bus ini,tapi cuma bus ini yang harganya terjangkau bagi saya." sahut Siti dengan muka yang terlihat sedih.
"Lo ngga usah khawatir orang tadi udah nggak bakal naik bus ini lagi dan gak akan berbuat asusila seperti tadi." ucap Cahaya.
" Memangnya apa yang kamu lakukan kok bisa sih dia sampai ketakutan seperti itu." ucap Siti.
"Ade deh yang jelas dia nggak akan bisa melecehkan orang lagi.Lo mau kemana?"tanya Cahaya.
"Sebenarnya aku tuh mau ke Jakarta,kalau kamu mau kemana?" tanya Siti.
"Gue juga ngga tau mau kemana." Sahut Cahaya yang menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
" Kalau kamu ngga keberatan untuk sementara tinggal bersama aku saja."ucap Siti.
"Hoek"
Tiba tiba Cahaya mual dan perutnya terasa sakit,mukanya juga terlihat pucat
" Kamu nggak papa,ini minum dulu.Aku juga punya minyak kayu putih sebentar ya aku ambilkan." ujar Siti yang menyerahkan minum.
"Terima kasih." ucap Cahaya sambil meminum air yang diberikan Siti
"Ini pakai ini saja,diolesi ke perut.Makanlah roti ini,maaf cuma sedikit." ucap Siti.
"Ya nggak papa terimakasih banyak." ucap Cahaya.
"Seharusnya saya yang berterimakasih sama kamu.Kalau tidak ada kamu nggak tau gimana jadinya." ucap Siti.
Setelah memakan roti dan mengolesi perutnya dengan minyak kayu putih Cahaya tertidur.Dirinya terbangun saat bus yang ditumpanginya tiba di terminal tanah Abang.
"Bunga ayo bangun kita sudah sampai." ucap Siti sambil menepuk pipi Cahaya pelan.
Mereka berdua segera turun dari bus dan mencari angkot menuju kontrakan Siti.Cahaya kini sudah lebih segar dan tidak pucat lagi.Kontrakan Siti cukup jauh sehingga mereka berjalan melalui gang kecil.
Namun saat melewati gang sempit nampak ada dua orang preman menghadang didepannya.Siti yang ketakutan bersembunyi di belakang Cahaya.
"Gawat bunga,itu ada bang Judi sama bang yudi,bagaimana ini aku takut?" tanya Siti sambil berbisik ditelinga Cahaya.
"Udah Lo tenang aja." sahut Cahaya.
"Eh Siti Lo udah balik,bawa temen cantik lagi.Kenalin dong sama kita"Ucap Judi.
"Ya dong Ti,Lo nemu dimana temen cakep kayak gini.Biasanya Lo bawa teman udah tua." ucap Yudi yang memperhatikan Cahaya.
"Kenalin gua bunga." ucap Cahaya menyalami keduanya.
"Ya ampun tangan Lo lembut banget wangi lagi." ucap Judi yang mencium tangannya sendiri.
"Udah udah nggak perlu basa basi serahin serahin duit Lo berdua." ucap Yudi sambil melotot.
"Aduh bang saya kan habis pulang kampung mana ada duit.Tolonglah bang lain kali kalo udah gajian saya kasihkan ke Abang,tolong lepasin kami berdua." ucap Siti ketakutan.
"Boleh,asal temen Lo mau nemenin kita malam ini.Gue bakal lepasin Lo berdua gimana Lo mau?" tanya Judi yang terus memperhatikan Cahaya.
"Jangan bang biar saya aja yang nemenin kalian berdua.Saya rela berapa kali pun saya mau asal jangan temen saya.Kasian bang dia sedang sakit."ucap Siti yang bersujud di kaki Judi.
"Ah kalau Lo gue dah bosen.lo kan mantan kupu malam.Gue pengennya temen Lo." ucap Judi.
__ADS_1
Cahaya dan Siti hanya saling tatap,sementara judi dan Yudi semakin mendekat.