
Cahaya merasa kesal karena adiknya berdiri menghalanginya dan merentangkan kedua tangannya di depan pintu kamar mandi.
"Minggir nggak!!" teriak Cahaya yang sudah sangat kesal,kesabarannya sudah sampai ubun ubun dan siap meledak.Namun tiba tiba handuk yang dikenakan adiknya melorot jatuh kebawah sehingga menampakan tubuhnya yang gendut dan dua buah gunung kembar yang begitu banyak tanda merah.
"Kamu gila ya." ucap Cahaya yang begitu kesal karena adiknya membiarkan auratnya diumbar begitu saja,bahkan bagian bawahnya juga kelihatan.Bayu yang dari tadi hanya diam mematung disuguhi pemandangan gratis di depan matanya.
Cahaya segera mengambil seprai yang sudah acak acakan dan melilitkan ke tubuh adiknya,dia juga mengambil selimut yang tebal dan melilitkan adiknya,sehingga dia tidak bisa bergerak dan tiduran di ranjang.
"Sayang cepetan telefon mami dan papi dan juga ayah,suruh mereka datang kemari secepatnya.Oh iya pak Maman juga suruh pulang secepatnya.Atau kamu mau aku buat seperti itu,tungguin sebentar aku mau kebelakang." ucap Cahaya yang geram karena sedari tadi suaminya terpesona melihat pemandangan gratis.
"Bay tolong bukain,aku akan kasih kamu apapun yang kamu mau." ucap Mentari dengan wajah memelas. Dirinya kesulitan bergerak karena sebelumnya cahaya sudah mengikat kedua tangannya sebelum tubuhnya dililit seprai dan selimut.
"Hallo Mi,cepat kerumah Mentari ya sekarang juga,ini penting." ucap Bayu yang hanya menoleh melihat Mentari dan kemudian menelfon papinya.
"Sudah ditelfon kan Bay!!" ucap Mentari sambil membawa linggis dan kapak,kemudian dia menuju kamar mandi.
"Sayang kok kamu bawa begituan sih?" tanya Bayu yang keheranan.
"Ssssst,jangan berisik.Cepetan ambil tangga di belakang rumah."bisik Cahaya pelan ditelinga suaminya.Bayu kemudian pergi kebelakang tanpa tau tangganya digunakan buat apa.
"Nih sayang." bisik Bayu sambil menyenggol lengan istrinya yang dari tadi melihat ke atas.
Dengan pelan Cahaya menggeser tangga dan menaruhnya di plafon kamar mandi.Kemudian dia memanjatnya sambil menggeser plafon yang sedikit terbuka kemudian menghidupkan lampu ponselnya.
"Oh jadi sembunyi disitu." gumam Cahaya lirih,kemudian mematikan ponselnya dan memasukan ke saku celananya.
"Bay ini ada apaan sih?" tanya Fitri saat sampai disana dan melihat kamar Mentari berantakan serta tengah tertidur di ranjang dengan tubuh tertutup selimut tebal.
__ADS_1
"Mami diem dulu." bisik Bayu sambil menunjuk kearah istrinya yang berada ditangan.
"Kesiniin linggis dan Kampak nya."ucap Cahaya pelan.Bayu kemudian memberikan pada istrinya.
"Papi mau tidur nggak,kalau nggak aku hancurin plafonnya." teriak Cahaya namun tidak ada sahutan apapun dari atas.
"Dukkk
"Dukkk
"Brakkk
Triplek triplek yang ada dikamar mandi berjatuhan,karena Cahaya dengan keras memukul dengan linggis kemudian dengan kampaknya.
"Jika papi tidak mau turun,maka dengan terpaksa Cahaya akan melakukan dengan cara kekerasan.Biar aku naik ke atas,dan jangan harap nyawa papi akan selamat." ucap Cahaya kemudian membanting linggisnya keatas dan mulai memukul satu persatu papan triplek penutup atap kamar mandi.
"Brakkk
"Brakkk
Cahaya segera turun dan menyuruh suaminya mengembalikan tangga ke tempat semula.
"Cahaya papi turunnya gimana?" tanya Ibra yang hanya menggunakan handuk sebatas perut.
"Terserah papi,tadi baiknya gimana.Masa naik bisa turunnya nggak bisa.Ayo cepatan aku tunggu di kamar."ucap Cahaya kemudian menuju kamar.
"Brakkk
__ADS_1
"Bugghh
Ibra terjatuh dari atas,sambil memegangi pantatnya.Kemudian dia berjalan menuju kamar dan ternyata Cahaya sudah menunggunya dan segera menarik Ibra keluar dari kamar.
"Ka kalian disini." ucap Ibra yang begitu kaget saat menyadari bahwa diluar ada istrinya,besannya juga Maman tengah melihat kearahnya.
"Ayah liat kelakuan anak ayah ini dan juga besan ayah.Sekarang aku serahkan kepada kalian saja,jika aku yang memberi keadilan sudah pasti aku akan mencincang tubuh kalian berdua dengan ini." ucap Cahaya sambil menunjukan kampaknya.
Lantas Mentari dan Ibra hanya menunduk ke bawah tanpa berani melihat kearahnya.
"Aku sebagai ayahnya sangat malu melihat kelakuan putri bungsuku,tolong maafkan aku pak Maman.Aku serahkan hukuman putri bungsuku padamu,terserah kamu mau melakukan apapun.Sekarang dia merupakan tanggung jawabmu jadi kamu berhak memberinya hukuman." ucap Anton.
"Tapi yah kami berdua tidak melakukan apapun,ini hanya akal akalan Cahaya saja.Dia ingin memfitnahku,dia iri melihat aku bahagia." ucap Mentari sambil memandang kearah kakaknya.
"Apa kamu bilang,memfitnah Kurang ajar kamu yah.Sini kamu biar aku kasih tau warga semua kelakuan kamu biar warga yang akan mengusir dan mengarak kamu keliling kampung."ucap Cahaya sambil menarik Mentari yang tengah tiduran hingga posisinya berdiri.Sehinggga kain penutup tubuhnya yang bugil terjatuh dan bagian tubuhnya kelihatan.Namun Cahaya tidak menghiraukannya dan tetap menarik paksa keluar.
"Astaghfirullah hal adim" ucap mereka semua sambil menatap kearah Mentari.
"Cukup,Hentikan.. Mohon Maaf pak Anton,saya serahkan istri saya pada bapak saja saya sudah tidak sanggup mengurusinya,saya permisi." ucap Maman sambil berlalu pergi meninggalkan mereka semua.Dirinya begitu kecewa apalagi tadi dia melihat tubuh istrinya yang telan*ang bulat tanpa mengenakan apapun,terlebih lagi ditubuhnya banyak sekali tanda merah.
"Kamu juga mas,aku sangat kecewa padamu." ucap Fitri yang sedari tadi hanya diam,Kini dia juga meninggalkan suaminya.
"Mi aku bisa jelasin semuanya." ucap Ibra yang tadinya hendak berlari kini urung menyadari dia hanya mengenakan handuk.
"Sekarang biar papi yang akan menghukummu.Mulai sekarang semua fasilitas yang papi berikan untukmu akan papi cabut,dan kamu tidak boleh pergi kemana mana tanpa seizin papi.Dan setelah anak ini lahir,papi akan memasukanmu ke pindok.Dan kamu Cahaya,kamu boleh memberikan hukuman untuk adikmu." ucap Anton dingin kemudian menyenderkan badannya disofa sambil memegangi keningnya.
"Apa ya hukuman yang pantas diberikan untuk Mentari." gumamnya dalam hati.
__ADS_1