
Cahaya dan Damar segera kerumah sakit diantar supir Lastri dan menitipkan Amar pada Tari.Sesampainya disana Lastri tengah menggendong Aska diruang ICU.
"Syukurlah kalian datang,ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada kalian." ucap Lastri sambil menyerahkan Aska yang tengah tertidur.
"Sebenarnya siapa yang sakit Bu?" tanya Damar sambil menggendong Aska.
"Tiara sudah meninggal,dan dia ingin mengembalikan Aska pada kalian." sahut Lastri sambil meneteskan air matanya.
"inna Lilahi Wainna ilahi roji'un,meninggal kapan bu?" tanya Cahaya.
"Baru sejam yang lalu dia masih ngobrol denganku.Dia bilang ingin mengembalikan Aska pada kalian,dan dia sangat berterima kasih karena sudah diberi kesempatan merawat Aska." jawab Bu Lastri
"Kami turut bersuka cita atas meninggalnya Tiara.Ibu yang sabar ya,kami pasti akan membantu mengurus jenasah almarhum." ucap Damar.
"Terimakasih Damar,ibu sangat beruntung sekali bertemu kalian!!" ucap Lastri.
Setelah mengurus semua urusan dirumah sakit,jenasah Tiara dibawa pulang dan segera dimakamkan.Anton dan Sisil ikut hadir dalam pemakan Tiara.
"Maaf pak Anton,apa bapak tidak keberatan jika Tari,Damar dan Cahaya beserta kedua anaknya tinggal disini.Saya ini hanya seorang janda yang tidak punya siapa pun lagi di dunia ini." ucap Lastri saat acara tahlilan telah selesai.
"Saya serahkan semua kepada mereka saja." ucap Anton.
"Kalo Damar setuju aku juga setuju." ucap Cahaya.
"Aku juga setuju,tapi sebelumnya aku mau meminta restu sama pak Anton untuk menikahi Cahaya.Apa bapak mengijinkan Cahaya menikah denganku!!" ujar Damar.
"Aku serahkan semuanya pada Cahaya jika dia setuju aku pun ikut setuju.Bagaimana nak apakah kamu mau menikah dengan Damar?" tanya Anton sambil memandang wajah Cahaya.
"Iya yah aku mau." ucap Cahaya sambil menunduk malu.
"Baiklah kalau begitu pernikahannya sebaiknya dilakukan setelah empat puluh hari kepergian Tiara saja,bagaimana menurut kalian?"tanya Anton.
'"Terserah ayah saja." ucap Cahaya.
Kini Cahaya tinggal dirumah Lastri beserta Tari,Amar dan Aska.Sementara Damar masih tinggal dirumah kontrakannya.Anton masih bolak balik ke rumah Lastri Sedangkan Sisil kadang menginap dirumah Lastri
__ADS_1
"Cie cie yang mau jadi penganten kok ngelamun mulu." ucap Sisil menggoda Cahaya.
"Aku lagi kepikiran ibu tiri aku,dia sekarang dimana ya kok aku nggak pernah lihat dia.Padahal kemarin aku lihat kak Sinta." ucap Cahaya.
"Ya juga ya,aku juga pernah lihat kedua kakak kamu tapi ibu kamu dan adik kamu juga ngga pernah lihat" ucap Sisil.
"Muka ibu aku biar diobati pasti nggak bakal sembuh,apa mungkin dia didalam rumah terus.Pisau yang aku gunakan untuk melukai wajahnya menggunakan serbuk berbahaya yang dapat merusak kulit.Jadi sulit jika disembuhkan kecuali melakukan operasi plastik.Itu juga belum tentu berhasil Seratus persen."ucap Cahaya.
"Bisa jadi ibu tiri kamu operasi plastik. Aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya." ucap Sisil.
"Sil tolong bantu aku mencari keberadaan adik aku.Aku juga akan membalaskan dendamku pada Sandra." ucap Cahaya sambil mengepalkan tangannya.
"Tidak perlu nak,biar Allah saja yang akan membalasnya nanti.Ayah juga sudah sembuh dan kamu sebentar lagi akan menikah dengan Damar.Biar ayah yang mencari adik kamu,kamu fokus saja sama pernikahan ini Damar itu orang yang baik,jangan dia siakan kesempatan ini." ucap Anton.
"Ayah kapan ayah datang?" tanya Cahaya yang tidak menyadari keberadaan Anton.
"Ayah sudah cukup lama mendengarkan pembicaraan kalian.Kamu lihat kedua anak kamu begitu dekat dengan Damar dan sering menangis menanyakan dia jika tak kunjung bertemu." ucap Anton sambil melihat kearah jendela,Damar dan kedua cucunya tengah bermain.
"Ya yah,Damar memang sangat baik.Aku beruntung sekali waktu itu ditolong olehnya.Kalaubtidak akuvtidak tau bagaimana nasibku saat ini." ucap Cahaya.
Hari ini rumah Lastri begitu ramai.orang orang sibuk mendekorasi ruangan dan mempersiapkan acara pernikahan.
"Ya ampun Cahaya kamu cantik banget,Damar pasti tambah cinta deh sama kamu." ucap Sisil melihat penampilan Cahaya setelah di make up.
"Ya dong kak Sisil,kak Cahaya kan memang udah cantik di dandanin pasti tambah cantik." ucap Tari yang tersenyum senyum melihat penampilan Cahaya.
"Kamu juga Tari,sekarang muka kamu jadi kelihatan bersih dan cantik." ucap Sisil
"Ya kak,bu Lastri baik banget sudah membiayai operasi wajah aku.Sekarang aku jadi percaya diri jika bertemu teman teman aku." ucap Tari.
"Ayo Sisil acara sudah mau dimulai,tolong bawa Aska dan Amar dan Amar ya."ucap Lastri.
"Ya ampun kalian berdua lucu banget." ucap Sisil sambil menggandeng kedua bocah itu kedepan.
"Ehmmm" ucap Sisil melihat Damar terpaku melihat penampilan Cahaya.
__ADS_1
"Udah jangan liat liatan mulu ayo segera ke depan." ucap Sisil menggoda mereka berdua.
"Saya terima nikah dan kawinnya Cahaya binti Antonio dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai." ucap Damar lantang.
"Bagaimana saksi sah." ucap penghulu.
"sah"ucap para tamu undangan.
"Berhenti,pernikahan ini tidak sah,aku tidak mengijinkan putraku menikah dengannya." ucap seseorang dengan menggunakan kursi roda.
"Ibu."ucap Damar kaget.
"Damar kamu harus ikut ibu pulang sekarang juga." ucap Wanti ibu angkat Damar.
"Tapi Bu,aku sudah menikah dengan Cahaya dan dia sekarang telah sah menjadi istriku.Jika aku pulang maka dia juga harus ikut bersamaku." ucap Damar.
"Tidak ibu tidak Sudi menerima wanita itu sebagai menantuku,aku ingin kamu menikah dengan Anggun." ucap Wanti.
"Mohon maaf Bu aku tidak bisa,aku sudah menikah dengan Cahaya,Dan dia adalah wanita yang paling aku cintai."ucap Damar.
"Kamu jangan lupa Damar,selama ini aku yang sudah membesarkan dan merawat mu jadi kamu harus menuruti semua perintahku.Kalau bukan karena diriku kamu tidak akan menjadi seperti sekarang.Beginikah cara dirimu membalas Bu di padaku." ucap Wanti.
"Aku akan melakukan apapun yang ibu mau,tapi aku tidak akan pernah meninggalkan Cahaya Bu.Sekarang dia tanggung jawabku dan aku akan selalu menjaganya dan melindunginya.Aku tidak akan meninggalkannya."ucap Damar.
"Jika kamu tidak mau menuruti kemauan ibumu,lebih baik aku bunuh diri saja.Hidupku sudah tidak ada artinya lagi." ucapnya sambil menangis dan mengambil pisau dari tasnya.
"Tante jangan."terisak Anggun histeris membuat semua orang menoleh kearahnya.
Darah mengalir dari tangan Wanti,para tamu undangan berteriak.Damar kemudian berlari kearah Wanti yang terkulai lemah di kursi roda.
"Ayo Damar bawa ibumu kerumah sakit." ucap Anggun.
Damar menoleh ke belakang dan melihat Cahaya dan keluarganya.Dia melihat cahaya dan kedua anak kembarnya yang tersenyum padanya.
"Permainan apa lagi yang ibu lakukan padaku,kenapa dia datang disaat hari bahagiaku." gumam Damar sambil meneteskan air matanya.
__ADS_1