
"Ya ampun bang,mas,kak maafin gue." ucap Cahaya merasa tidak enak.
"Tubuh kamu berat banget,cepetan turun." ucapnya sambil meringis.
"Maaf ya,pasti sakit banget.Sini biar aku obati." ucap Cahaya yang sudah turun dari tubuhnya.
"Udah nggak papa cuma lecet dikit Lain kali hati hati.Kamu baru pertama kali kerja ya?" tanyanya sambil memperhatikan penampilan Cahaya.
Memang penampilannya sudah sedikit berubah.Dia kini memakai celana pendek namun masih robek sedikit.Serta sudah mengecet rambutnya dengan warna pirang.
"Iya mas,kenalin saya bunga.Saya dari Semarang,masnya anaknya bu Sarah ya."ucap Cahaya.
"Ya aku Andi,tapi kalau aku liat kamu kayaknya bukan orang jawa deh.Dari penampilan kamu aja udah beda.setahu aku orang Jawa itu rajin dan penampilannya rapi." ucap Andi.
"Abang ini bisa saja.Saya juga rajin dan rapi." ujar Cahaya sambil memperlihatkan penampilannya.
"Rajin apaan itu masa ngepel jalannya maju.Terus rambut kamu juga pirang,celana kamu juga robek." ujar Andi sambil menunjuk celana yang di pakai Cahaya.
"Oh ini masse,Jadi ceritanya gini saya tuh jalan eh malah dikejar anjing ya jadinya saya kepleset celananya kecantol paku.Kalo rambut saya ini,biasalah anak muda kalau udah lulus sekolah rambutnya diwarnai biar gaya." ucap Cahaya sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Terus kenapa ngepelnya maju." ucap Andi.
"Kalau itu,,,bukannya ngepel itu maju ya." ucap Cahaya cengengesan.
"Ayo ikut aku." ucap Andi yang menarik tangan Cahaya.
Dia mengajari Cahaya mengepel dan membersihkan bekas tumpahan air tadi.Juga mengajari Cahaya mencuci pakaian.
"Ternyata cape juga ya jadi pembantu,ini gimana njemurnya ya aduh bingung gue ."Ucap Cahaya sambil melihat seember pakaian yang belum dijemur.
"Kenapa ngga bisa njemurnya,sini biar aku bantuin."ucap Andi.
Cahaya hanya menurut saja katana merasa malu.
__ADS_1
Tak terasa sudah dua Minggu Cahaya bekerja dirumah Sarah.Cahaya merasa betah walaupun Dedi selalu melihatnya dengan tatapan aneh.Apalagi Andi begitu baik dan selalu membantunya dan mengajari memasak.
"Bunga,hari ini aku pergi ke tempat eyang aku di Sukabumi kamu nggak papa kan aku tinggal." ucap Andi sambil mengemasi barang yang akan dia bawa.
"Emang Mase perginya mau berapa lama to?" tanya Cahaya yang bergaya seperti orang Jawa.
"Paling cuma dua hari,kamu baik baik dirumah ya.Kalau Dedi macem macem pukul saja pakai kayu atau apa.Iniada duit buat pegangan kamu." ucap Andi sambil menyerahkan kan uang pada Cahaya.
"Nggak usah mas,buat pegangan masnya aja." ucap Cahaya menolak.
Namun Andi terus memaksa hingga akhirnya Cahaya menerima.Setelah kepergian Andi ke Sukabumi tingkah laku Dedi makin aneh dan selalu memperhatikan Cahaya.
"Bunga pijitin saya dong,badanku pegel banget nih." ucap Dedi.
"Maaf ya mas,saya nggak bisa mijit.Jika pingin dipijit biar nanti saya panggilkan tukang urut saja." ucap Cahaya.
"Dasar babu aja belagu,ya udah sana bikinin saya jus jeruk cepetan ya gak pake lama." ucap Dedi.
Lalu Cahaya membuat jus jeruk yang banyak.Dia meminumnya hingga habis ,hanya menyisakan satu gelas saja.
"Ya udah Lo boleh pergi." ucap Dedi.
Lalu Dedi memasukan obat tidur pada jus jeruknya kemudian memanggil Cahaya.
"Bunga sini kamu,jus apaan nih rasanya kok gini cepat buat lagi yang baru." ucap Dedi.
Tanpa menjawab Cahaya membuat lagi jusnya dan meletakan disebelah jus yang tadi.
"Tunggu,itu kamu minum aku kan punya yang baru." ucap Dedi.
"Ya,nih saya minum.Sekarang sudah malem saya mau tidur.Jangan nyuruh nyuruh lagi saya cape." ucap Cahaya sambil menuju kamarnya.
"Karena dia sudah minum lebih baik aku siap siap dulu,pasti dia sudah tidur.Kali ini pasti aku puas diakan dari kampung pasti masih orisinil.Tapi aku haus mending minum dulu." ujarnya sambil meminum jusnya.
__ADS_1
Saat terbangun dia merasa kepalanya pusing dan dia segera melihat jam.
"Sial aku ketiduran,atau jangan jangan minumannya ketuker.Besok kan Andi sudah pulang aku kan nggak bisa ngapa ngapain.Mending sekarang saja mumpung Andi belum pulang ibu juga belum pulang." ujarnya sambil bergegas mencari Cahaya.
"Eh bunga,ngepel nya jangan pakai itu tapi sambil jongkok."Ucap Dedi.
"Tapi kan ada ini mas." ucap Cahaya sambil menunjukan alat pelnya.
"Udah Cepetan tinggal ngepel doang." ucap Dedi sambil melotot.
Cahaya lalu mengepel sambil jongkok.
"Ya ampun gini amat ya jadi pembantu." ucapnya bergegas menyelesaikan pekerjaannya.
Saat sehabis mandi dia terkejut karena Dedi Sudah berada di dalam kamarnya,beruntung dia sudah berpakaian dikamar mandi.
"Abang ngapain disini." ucap Cahaya kaget.
"Udah deh kamu gak usah sok polos,kamu mau dapat duit banyak kan.Sekarang ayo kita senang senang dijamin kamu bakal ketagihan .Aku akan bayar berapapun yang kamu mau dari pada kamu jadi pembantu." ucap Dodi sambil membuka bajunya.
Cahaya memukul Dodi dengan gagang sapu dan segera berlari mengambil tasnya.Namun kaki Cahaya ditahan oleh tangan Dodi yang kini tergeletak dibawah. Cahaya menginjak tangan satunya dengan kakinya hingga tangan Dodi terlepas.
Cahaya keluar dari rumah itu sambil berlari disusul Dodi yang berjalan pincang.
"Cewek sialan sini Lo." ucap Dodi yang terus mengejarnya.
Karena merasa sudah cukup jauh dan Cahaya sudah merasa tidak sanggup berlari.Dia duduk bersender pada sebuah tembok di gang kecil.Namun tak di sangka ada dua pria yang tengah mabuk menghampirinya.
"Wah ada mangsa baru nih,cantik lagi " ucap kedua pria itu sbil berjalan mendekat.
Cahaya segera berdiri dan berlari namun gang itu ternyata buntu.Dia begitu panik sehingga dirinya terjatuh dan mengenai kayu.Tiba tiba dia merasa kepalanya pusing dan pahanya merasa perih.Darah mengalir di pahanya,celana yang dia gunakan terlihat merah.
"Ya Allah tolong lindungilah ayah dimanapun beliau berada.Jika harus mati sekarang hamba ikhlas ya Allah tolong ampunilah segala dosa dos a hamba.Jika bayi ini selamat hamba akan merawatnya maafkan hamba karena kemarin berusaha menggugurkannya." ucapnya sambil menahan perih karena darahnya terus mengalir.
__ADS_1
"Brakkk"
Terdengar suara seseorang yang sedang memukul,namun penglihatan Cahaya samar kemudian dia tidak ingat apa apa lagi.