
Saat Cahaya sadar,dia merasakan sakit dipahanya.Dia berusaha untuk bangun,namun kakinya sulit digerakkan.
"Akhhh sakit bangkit kaki gue.Jangan jangan gue udah mati.Apa ini di alam kubur gelap banget." ujarnya sambil memandang keatas.
"Ah,silau." ucapnya sambil menutup matanya.
"Kakak sudah sadar,syukurlah aku ikut senang.Gimamana keadaan kakak sekarang?" tanya seorang gadis kecil yang mendekati Cahaya sambil membuka pintu.
" Lo siapa,apa Lo pencabut maut tapi kenapa pakaian terlihat Kumal lalu mukanya kenapa begitu, bagaimana dengan janinku apa selamat? Tanyanya sambil memegangi perutnya.
"Apa yang kakak maksud,kakak tadi pingsan di gang sana.Kak Damar yang membawa kemari." Sahut gadis itu.
"Jadi gue belum mati." ucap Cahaya terlihat senang.
"Ya kak belum,maaf terpaksa aku mengganti pakaian kakak.Habisnya celana kakak terkena darah.Paha kakak terkena paku,hanya pakaian itu yang aku punya." ucapnya terlihat sedih.
"Tidak apa apa,Terimakasih banyak karena udah menolong kakak." ucap Cahaya yang berusaha duduk.
"Mari saya bantu kak,kenalkan namaku Tari nama kakak siapa?" Tanyanya sambil membantu Cahaya duduk.
"Namaku bunga,ini rumah Lo?" tanya Cahaya yang melihat sekeliling.
"Iya kak,maaf rumahnya tidak layak huni." ucap Tari.
"Gue pikir ini makam,habisnya gelap atapnya pakai plastik temboknya juga pakai kayu.Kasian banget gue juga bentar lagi bernasib kayak gini.Atau mungkin lebih parah jadi gembel jalanan.Mending gue berpura-pura jadi orang lain aja.Bisa berabe kalau dikejar preman lagi .Tapi apa dia mau nerima gue tinggal disini."gumamnya dalam hati.
"Ya nggak papa kok yan penting bisa ditempati,untuk sementara ini boleh kan kakak nginap disini." ucap Cahaya.
"Iya kak boleh." ucap Tari senang.
"Oh iya kak bunga,ini kak Damar.Dia yang tadi membawa kakak kesini sewaktu pingsan."ucap Tari sambil memperkenalkan mereka berdua saat Damar baru sampai.
"Malam ini kalian tidur didalam,biar aku yang tidur diluar." ucap Damar sambil membawa selimut ke depan.
Cahaya merasa tidak enak,membiarkan Damar tidur diluar.Tapi dia tidak bisa berbuat apa apa,kakinya masih terasa sakit.
Keesokan harinya Cahaya terbangun dan mendengar Tari dan Damar mengobrol diluar.
"Kak nanti siang kita makan apa,uang kita sudah dipakai buat membeli obat dan makan kemarin." ucap Tari.
"Kamu tenang aja dek,nanti pasti ada rezeki.Kamu tolong jagain bunga ya,jangan biarkan dia keluar dulu takut preman yang kemarin nyariin dia lagi."ucap Damar.
" Ya kak,kakak hati hati ya." ucap Tari sambil berjalan masuk.
"Ya ampun ternyata para preman masih nyariin gue.Gue harus ngelakuin sesuatu tapi apa ya!" ucapnya sambil berpikir.
"Kakak sudah baikan.?"tanya Tari.
"Sudah,nih liat gue sudah bisa jalan loh" sahut Cahaya sambil berjalan maju mundur.
"syukurlah kalau begitu." ucap Tari.
"Maaf ya kakak mau tanya muka Lo kenapa kok separuh kaya gitu?" tanya Cahaya.
"Oh ini,dulu keluargaku mengalami kebakaran dan semua meninggal kecuali aku.Lalu aku bertemu kak Damar,dan dia mengganggap aku sebagai adiknya.Padahal semua saudaraku tidak ada yang mau menerima aku karena aku cacat.Beruntungnya aku bertemu kak Damar."ucap Tari sambil menangis.
"Maafin kakak ya,kakak nggak bermaksud mengingatkanmu tentang masa lalu.Memang terkadang keluarga kita menganggap kita sebagai orang lain sedang orang lain menganggap kita sebagai saudara." ucap Cahaya sambil memeluk Tari.
__ADS_1
"Tidak papa kak,aku senang kakak bisa tinggal disini.Aku tidak punya teman,mereka semua tidak mau berteman sama aku." ucap Tari sambil memeluk Cahaya.
"Wah kalau kayak gitu lebih baik gue nyamar aja biar nggak dikejar kejar preman lagi."Tari aja mukanya jelek nggak ada yang mau,berarti muka gue harus jelek dulu."gumam Cahaya lirih sambil tersenyum.
"Tari,kakak kebelakang dulu ya."ucap Cahaya sambil mengambil daster dari tasnya.
"Ya kak." ucap Tari.
"Eh Damar mana cewek yang Lo tolong kemarin.Lo jangan pura pura nggak tau pasti Lo udah menyembunyikan dia kan.Gue yakin Lo yang kemarin mukul kepala gue ampe pingsan.Sekarang bawa cewek itu kemari!!" ucap Japra sambil berteriak diluar.Japra merupakan preman yang paling ditakuti di daerah itu.
"Beneran bang saya nggak tau apa apa,Abang mungkin salah liat." ucap Damar.
"Minggir Lo biar gue cari sendiri.kalau sampai cewek itu ada disini Lo yang bakal gue hajar." ucap Japra yang menyingkirkan Damar dan menerobos masuk ke gubuknya.
"Ada apa ini mas,kok ribut ribut Mase cari siapa?" tanya Cahaya yang dari belakang dengan penampilan berbeda.
"Lo siapa,ngapain disini?" tanya Japra sambil melihat penampilan Cahaya.
"Kenalin Mase,saya itu istrinya mas Damar dari kampung." sahut Cahaya sambil menyodorkan tangannya.
"Apa istrinya Damar?eh Damar Mata Lo rabun ya milih istri penampilannya kayak gini.Lo tuh ganteng mending Lo sama adik gua aja dia kan tergila gila sama Lo.Dari pada sama cewek model kayak gini,tar gue panggil adik gue kemari." ucap Japri sambil meninggalkan gubug Damar karena tidak menemukan apa yang dia cari.
"Maaf ya gue terpaksa bohong dan mengaku jadi calon bini Lo.Tolong ijinin gue tinggal disini gue nggak punya tempat tinggal.Gue gak mau hidup di jalanan."ucap Cahaya sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Iya kak,boleh ya kak bunga tinggal sama kita." rengek Tari.
"Ya terserah kalian berdua,kamu nggak papa kita sempit sempitan disini!!" ucap Damar.
"ya nggak papa gue mau." ucap Cahaya senang.
Malam ini mereka tidur bertiga Tari yang berada di tengah.Cahaya merasa senang meskipun harus desak desakan dan pengap.
Pagi hari Cahaya merasa mual dan muntah muntah.Kehamilannya baru dua bulan sehingga perutnya belum terlihat berisi.
"Damar gue boleh ikut Lo nggak ,gue bosen dirumah Mulu." ucap Cahaya setelah mereka sarapan.
"Nggak usah kamu kan lagi sakit,sebaiknya kamu dirumah saja." ujar Damar sambil membetulkan gerobaknya.
"Lo masih marah ya karena gue ngaku ngaku jadi bini Lo." ucap Cahaya terlihat sedih.
"Nggak kok aku nggak marah,nanti kamu kecapean.Kalau kamu berpenampilan kayak gitu nanti bang Japri bakal bawa kamu pergi." ucap Damar.
"Gue bakal dandan kok kayak kemarin,bentar ya Lo tunggu sini dulu gue mau kebelakang." ucap Cahaya sambil kebelakang mengolesi tubuhnya dengan lumpur serta mengenakan daster yang kemarin dia juga menggunakan tompel palsu di pipinya.
"Nih ada sedikit uang buat Lo,semoga berguna." ucap Cahaya sambil menyodorkan lembaran merah pemberian Andi.
"Nggak usah simpan kamu saja,aku masih ada." ucap Damar.
"Pokoknya Lo harus terima kalau nggak,gue tumpahin gerobak Lo."ucap Cahaya sambil memegangi gerobak.
"Iya iya,ayo ikut aku ke pasar dulu." ucap Damar sambil menggenggam tangan Cahaya.
" Ya ampun kok gue deg degan gini ya,Kalau dilihat lihat Damar ganteng juga ya." gumam Cahaya dalam hati sambil memandang kearahnya.
Damar membeli beberapa daster untuk Cahaya dan sayuran dipasar.Saat ditengah jalan Cahaya melihat pohon mangga yang sedang berbuah lebat.Katena sudah tidak tahan Cahaya naik keatas pohon dan memakannya diatas tanpa sepengetahuan Damar.
Damar yang tengah membeli asbes panik karena kehilangan Cahaya.Dia mencari kesana kemari dari kejauhan melihat Cahaya tengah berada di atas pohon mangga dan bergegas menghampirinya.
__ADS_1
"Eh turun kamu,ngapain kamu disitu kamu pasti nyuri pohon mangga saya ya?" ucap si pemilik pohon sambill membawa sapu.
"Maaf pak,cuma minta dikit." ucap Cahaya dari atas pohon.
"Turun nggak,atau saya lempar kamu pake sapu ini.!!"ucapnya sambil menunjukan sapu yang dibawanya.
"jangan pak Tohar,itu istri saya.Saya mohon maaf atas kelakuan istri saya,saya akan mengganti mangga yang dimakan istri saya " ucap Damar dengan nafas ngos-ngosan.
"Ini istri kamu Mar,aku nggak nyangka kamu udah punya istri.Ya sudah karena kamu istrinya Damar aku ijinin kamu ngambil mangga sepuasnya." ucapnya sambil mengajak Damar masuk kedalam.
"Akhirnya kesampaian juga,makan mangga di pohon." ucap Cahaya sambil memakan mangga dari atas pohon.
Setelah puas memakan mangga,Cahaya turun menemui Damar dan Tohar.
"Loh kok nggak bawa mangga,Damar sama petikan mangga lagi buat dibawa pulang istrimu!!" ucap Tohar.
"Nggak usah pak,terimakasih saya sudah kenyang.Enakan makan diatas pohon rasanya seger." ucap Cahaya.
"Ya udah kami pulang dulu pak Tohar,terimakasih mangganya." ucap Damar sambil menyalami tangan Tohar begitu juga Cahaya.
"Kalau kamu mau petik tinggal petik aja nggak usah sungkan sungkan." ucap Tohar.
"Ya udah permisi pak kami pulang." ucap Damar sambil membawa belanjaan dan menggandeng Cahaya.
"Damar kamu tuh ganteng,kok punya istri jelek begitu,kasihan sekali nasib kamu Mar.Padahal banyak cewek yang ngejar ngejar kamu,pasti mereka semua bakal kecewa." gumam Tohar lirih.
"Kamu kalau mau apapun bilang ya,jangan sungkan." ucap Damar .Cahaya hanya tersenyum dan kembali menggandeng tangan Damar.
Namun saat sampai rumah mereka berdua kaget melihat Tari dengan seorang wanita yang sedang marah marah.
"Damar akhirnya kamu pulang juga kamu dari mana,aku udah nungguin kamu lama." ucap Jeni sambil memeluk Damar.
"Maaf Jeni,tolong hargai aku.Sekarang aku tuh sudah punya istri jadi tolong jangan ganggu kami "ucap Damar sambil melepas pelukan Jeni.
"Kamu pasti bohong,masa istri kamu jelek begitu.Aku nggak percaya,pokoknya aku mau nikah sama kamu titik.Aku juga mau dimadu yang penting kamu harus nikahin aku.Kalau nggak,aku bilangin bang Japra."ucap Jeni.
"Tapi Jeni,istri aku sedang hamil.Aku nggak mungkin bisa nikahin kamu." ucap Damar.
"Nggak boleh dia nggak boleh hamil." ucap Jeni sambil mendorong Cahaya yang hendak terjatuh beruntung Damar segera menangkapnya.
"Jeni kamu apa apaan." ucap Damar kesal.
Namun Jeni tidak menghiraukannya malah meninggalkan mereka berdua.
"Kamu nggak papa kan?" tanya Damar sambil memandang Cahaya yang dibalas dengan gelengan kepala.
"Apa dia tau kalau gue hamil,Dia bakalan marah dan ngusir gue nggak ya." gumam Cahaya dalam hati.
Sementara Damar mendekat dan menatap Cahaya.Cahaya yang ditatap tidak biasa tentu saja ketakutan dan berkeringat dingin.
"Apa dia mau ngusir gue, gara gara mangga tadi,atau jangan jangan gara gara ketahuan hamil. Ya Tuhan gue mau tinggal dimana lagi." gumamnya dalam hati sambil memejamkan matanya karena Damar semakin dekat.
"
"
"
__ADS_1