
Kini Desy terlihat sangat rajin,dia bahkan beberes rumah tanpa disuruh oleh Cahaya.Sementara Fitri merasa aneh,karena Desy tiba tiba berubah jadi baik dan rajin.
"Desy ini buat kamu,cepetan pakai pakaian ini terus kita pergi kerumah sakit." ucap Cahaya sambil menyerahkan sebuah bag paper berisi baju.
"Ke rumah sakit buat apa sih Bu Cahaya,saya itu baik baik saja." sahut Desy Sambil memandangi tubuhnya.
"Ya mau periksa kandungan kamu lah,aku itu mau mastiin kamu hamil beneran nggak? Kalau sampai kamu bohong aku tidak akan segan segan mengusirmu." ujar Cahaya yang merasa Desy tidak hamil.
"Aduh Bu jangan sekarang ya,aku tuh mau pulang dulu rencananya hari ini."ujar Desy berbohong karena takut kehamilan palsunya terbongkar.
"Ya sudah besok besok kamu harus mau loh." ujar Cahaya.
"Oh ya Desy aku lupa,malam Minggu ini aku sekeluarga mau menginap di rumah kerabat Mami yang ada di puncak kalau kamu pulang pulang saja.Soalnya rumah ini nanti kosong,aku cuma nyuruh tetangga sebelah buat nitip tengok rumah."
"Ya Bu,itu soal gampang.Aku disini saja juga nggak papa." ujarnya
"Ya Sudah kalau begitu,terserah kamu." ucap Cahaya kemudian meninggalkan Desy.
Dari siang Desy yang telah dikasih uang oleh Cahaya segera menuju pasar.
"Na na na"
nyanyian Desy yang baru pulang dari pasar,dan senyum senyum sendiri.
"Cahaya kenapa dengan tuh orang,kok girang banget kayaknya." ucap Fitri yang sedang menonton tv sambil mengemasi pakaian yang akan di bawa.
"Udah mi biarin saja,mungkin dia menang lotre kali." ucap Cahaya kemudian menuju dapur.
Saat hendak mengambil minum,Desy sudah berada di depannya.
__ADS_1
"Kamu ngagetin aja."
"Tau nggak Bu,tadi aku beli bakso di ujung gang sana.Eh masa aku dibilang cantik banget,udah gitu dia nyuruh aku makan bakso sepuasnya.Baru kali ini ada orang yang seperti itu sama aku,coba aja kalau dia nggak item dan tua pasti aku seneng banget." ujar Desy sambil menceritakan pertemuannya dengan Malik.
"Ya ampun aku jadi lupa,dia pasti Malik.Aku harus segera menemuinya,aku kan belum bayar dia." gumam Cahaya yang langsung bergegas pergi.
"Iih Bu Cahaya nggak asik,diajak ngobrol malah pergi."
Sementara Cahaya bergegas menemui Malik,beruntungnya warung baksonya belum tutup.
"Maaf ya bro aku sampai lupa,aku belum bayar kamu.Nihh uang buat kamu,kalau lain kali aku kasih tugas seperti itu lagi kamu mau kan." tanyanya sambil menyerahkan segepok uang yang terbungkus amplop.
"Ya ampun neng,nggak usah dibayar juga nggak papa.Kalau soal itu,tiap hari saya juga mau.Istri aku tuh dah tua dan sakit sakitan udah nggak bisa ngelayanin aku,seandainya saja aku punya anak aku pasti beruntung banget.sahutnya sambil menyerahkan kembali uangnya.
"Uang itu tolong kamu terima,jangan menolak rejeki.Kalau kamu mau,kamu boleh datang setiap malam kekamarnya tapi ingat saat tengah malam dan jangan menimbulkan suara.Ini kunci rumah aku,kamu bisa masuk kapanpun juga.Ya udah ya aku pamit dulu,kebetulan nanti malam semua keluarga mau pergi ada acara,tolong titip rumah aku ya barang kali lewat kesana." ucap Cahaya sambil beranjak pergi.
"Siap bos." ucap Malik sambil melambaikan tangan kearah mobil Cahaya.
"Ayo anak anak cepetan bawa tasnya jangan sampai ada yang tertinggal." ucap Cahaya sambil memperingatkan pada kedua putranya.
"Ya Bu aku sudah siap semua ini."teriak Amar
"Aku juga" ucap Aska tak kalah kencang.
Namun tanpa disadari sebuah tas kecil berisi perlengkapan Salsa di buat mainan olehnya,dan tertinggal.
"Ayo istriku sayang,mi ,Bu Lastri kita berangkat.Anak anak ayo berdoa dulu sebelum berangkat." ucap Bayu kemudian memimpin doa setelah itu melajukan mobilnya.
Saat sampai mereka segera menurunkan barang barang,dan si kecil Salsa yang melihat sebuah prosotan di depan villa segera berlari dan langsung bermain.
__ADS_1
Hingga tengah malam Cahaya baru sadar jika tas Salsa tertinggal.
Dengan berat hati akhirnya Cahaya ditemani suaminya kembali kerumah.
"Kamu tunggu diluar saja biar aku yang ambil tasnya." ucap Cahaya beranjak ke kamar Salsa.
Rupanya tasnya tertinggal di lamar,karena tadi siang Salsa memakannya.
"Kok kaya ada suara seseorang ya,seperti suara Desy." ucap Cahaya berusaha mengintip dan membuka sedikit pintu kamar Desy.
"Ya ampun katanya mau pulang,eh taunya malah lagi asik dikamar.Tapi sama siapa ya,ya sudahlah terserah dia mau sama siapa aja ,yang penting bukan sama suami aku."Ujar Cahaya yang tidak bisa melihat dengan pasti siapa yang menindih tubuh Desy karena kamarnya gelap.
Hingga akhirnya dia kembali ke puncak, dan memberikan Salsa susu.Saat dia hendak pulang, Salsa menangis karena masih betah disana terpaksa pulangnya diundur menjadi Minggu malam.
"Maaf ya mi,Bu Lastri kita jadi pulang malam gini.Habisnya kalian disuruh Senin aja,biar aku dan Bayu pulang duluan eh malah nggak mau."
"Ya nggak papa aku langsung tidur ya ngantuk nih." ucap Lastri menuju kamar.
Sementara Bayu Mengendong Amar dan Aska kekamarnya,karena tidak tega membangunkan mereka yang tengah terlelap.
"Sayang kamu mau kemana kok kebelakang kamar kita kan di depan?" tanya Cahaya yang merasa aneh dengan suaminya.
"Tadi aku mendengar kaya ada suara ******* seseorang di kamar belakang,sebaiknya kita cari tau siapa orangnya." ucap Bayu sambil berjalan kearah belakang.
"Mungkin itu Desy,aduh bisa gawat jika Bayu memergoki mereka berdua,Desy kan taunya yang bersama dia Bayu." gumam Cahaya sambil mengejar suaminya.
"Aduh sayang ngapain kita kesana." ucap Cahaya uang membekap mulut suaminya dan menariknya dari tempat itu.
"Kamu apa apan sih,masa suami sendiri kamu bekap mulutnya" ucap Bayu kesal.
__ADS_1
"Ayolah sayang jangan marah bukan begitu maksud aku,aku cuma pengin di gendong kamu kekamar.Ihh Masa kamu nggak peka ayo buruan." ucap Cahaya sambil melihat kearah suaminya.
...Sementara Bayu malah semakin yakin jika ada yang di sembunyikan istrinya,dan tatapan matanya masih tertuju di kamar Desy....