
Dengan berat hati akhirnya Cahaya mengikhlaskan bayinya dirawat Lastri.Mengingat bayinya butuh perawatan khusus dan memerlukan biaya yang banyak.
Damar dan Cahaya memberi nama Amar Rizki samudra,berharap anaknya mendapat rejeki seluas samudra.Dia juga membuat acara pemberian nama dan akikahan putranya,dibantu Lastri dan pembantunya membagikan makanan pada tetangga.
"Cahaya ada sesuatu untukmu,saya harap kamu mau menerimanyau" ucap Lastri sambil mengeluarkan barang barang dari mobil.
Ada banyak perlengkapan bayi pakaian,sepatu topi,sabun bahkan tempat mandi bayi dan selimut juga ada semuanya komplit.
"Tapi ini terlalu banyak Bu,sebaiknya ibu bawa pulang saja." ucap Cahaya melihat banyak barang dikeluarkan dari dalam mobil.
"Tidak Cahaya,saya sengaja membelikan ini semua khusus untuk putramu.Saya juga membeli yang sama untuk Azka.Saya sangat berterima kasih padamu karena sudah mengijinkan merawat Azka.Rania kini kembali tersenyum,dan itu membuat saya cukup bahagia.Walaupun mungkin umurnya tidak lama lagi,saya hanya ingin melihat dia bahagia di sisa umurnya.Sebenarnya dokter tidak mengijinkan Rania memiliki bayi namun dia tetap memaksa.Hingga kesehatannya semakin menurun,dari dulu dia sangat menginginkan seorang bayi dirumahnya.Saya pamit dulu ya Cahaya seringlah main ke rumahku pasti kamu juga merindukan bayimu kan.Kamu tidak perlu khawatir tentang Azka dia pasti akan baik baik saja." ucap Lastri sambil memeluk Cahaya.
Setelah kepergian Lastri,Cahaya membereskan barang barang pemberiannya.Para tetangga berdatangan untuk melihat bayinya.
"Ya ampun Cahaya anak kamu ganteng banget,mirip ya sama ayahnya." ucap Narti sambil menimang Amar.
" Ya loh mirip banget,lalu dimana anak kamu yang satunya ?" tanya Surti tetangga depan rumah.
"Dirawat saudara,kebetulan dia seorang dokter.Anak saya punya penyakit jadi lebih baik dia yang merawat.Jika sudah sembuh pasti akan tinggal disini." ucap Cahaya.
"Wah aku tuh iri sama kalian berdua loh udah ganteng dan cantik.Punya anak kembar lagi,aku aja pingin punya anak nggak dikasih kasih.Padahal umur aku udah kepala empat." ucapnya sedih.
"Sudah sudah jangan sedih mending kamu gendong ini anak Sarah biar kamu ketularan." ucap Narti sambil menyodorkan bayinya.
"Tampannya kamu sayang jadi gemes,bolehkan Cahaya kalau aku sering main disini.Rasanya aku tuh nggak mau pinginnya disini terus tapi bentar lagi suami aku pulang.Ya udah aku permisi pulang dulu ya takut suami aku marah." ucap Datoh sambil mencium bayinya.
"Bang kenapa kok bayinya mirip Abang ya." ucap Cahaya sambil menggendong bayinya setelah kepergian pata tetangga.
"Mungkin karena waktu hamil kamu ngelihatin aku terus jadinya anaknya mirip sama aku." ucap Damar.
"Masa iya sih,perasaan aku nggak ngeliatin kamu.Dasar kamu nya aja yang kegeeran." ucapnya Cahaya sewot.
Kini Cahaya sudah bisa memandikannya bayinya.Biasanya Damar yang memandikannya.Dia sangat menyayangi Amar,bahkan sebelum dan sesudah berangkat kerja pasti selalu menggendongnya terlebih dahulu.
"Wah lucu sekali anaknya ya mba,ini anaknya mas Damar ya"ucap salah seorang ibu yang sedang ikut posyandu.
"Iya Bu saya istrinya,dari mana ibu tau ?' tanya Cahaya merasa heran karena ada orang yang mengenalnya.
__ADS_1
"Kemarin Damar kerja ditempat saya katanya dia bilang istrinya habis melahirkan dia seneng banget.Saat aku liat bayi ini mirip sama dia jadi aku pikir ini pasti anaknya.Senangnya jadi kalian berdua,suamiku juga dulu gitu waktu punya anak pertama sampe bela belain pulang kerumah makan siang biar ketemu terus anaknya katanya kangen.Padahal tempat kerjanya kan jauh." ucapnya sambil memandangi Amar.
"Bu Dina enak,lah anak saya malah hampir di cerai suaminya gata gara anaknya nggak mirip dengannya.Untung waktu itu tes DNA dan hasilnya positif kalau itu anaknya." ucap Desi sambil menggendong cucunya.
"Memangnya Kalau mirip pasti itu anaknya ya bu."ucap salah seorang ibu yang ikut posyandu.
" Ya iyalah,kecuali saudara atau kerabatnya,memangnya kenapa?" tanya Desi.
"Cucu saya mirip suami saya,jangan jangan ini anaknya." ucapnya sambil memandangi wajah cucunya.
"Bisa jadi tuh,suami kamu menghamili anaknya sendiri sekarang kan banyak yang seperti itu." ucap Ranti si tukang gosip.
"Sudah jangan diperdebatkan kamu juga Ranti jaga tuh mulut kamu jangan ember.Ya jelas mirip suami kamu kan kakeknya,lagian anak kamu kan punya suami dan dia tinggal sama suaminya" ucap Desi.
"Duh gantengnya,memang benar ini mirip Damar dia kan ayahnya.Masa mirip orang lain yang ada nanti Damar marah malah nuduh istrinya selingkuh." ucap Desi yang memegang pipi Amat yang montok.
Setelah perbincangan di posyandu Cahaya jadi kepikiran tentang ucapan Desi.
"Bang tolong Abang jujur,apa benar bahwa sebenarnya kamu yang sudah menghamili aku? "tanya Cahaya saat melihat kepulangan Damar.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu,demi Allah aku tidak pernah menyentuh wanita manapun.Kan sudah aku bilang mungkin hanya kebetulan." ucap Damar.
'Maaf aku tidak bermaksud seperti itu."ucap Cahaya.
"Sudahlah pasti kamu kecapean,biar Amar sama Tari aku mau kebelakang dulu." ucap Damar kemudian ke kamar mandi.
"Apa mungkin yang dikatakannya benar,ah aku jadi pusing memikirkan hal itu." ucapnya sambil merebahkan diri diatas kasur.
Paginya Damar mengajak Cahaya kepasar,Amar ditemani Tari.
"Sini belanjaannya pasti berat." ucap Damar sambil mengambil belanjaan dat Cahaya dan menaruhnya di motor.
"Abang nggak beli apa apa lagi.' ucap Cahaya.
"Nggak sepertinya sudah semua,ayo kita pulang takut Amar nangis." ucap Damar yang hendak memasukan kunci kedalam motornya.
"Hey Damar apa kabar,akhirnya aku ketemu kamu lagi." sapa Diman yang tengah menggandeng seorang wanita.
__ADS_1
"Baik kang,itu siapa yang bersama akang?" tanya Damar sambil menunjuk wanita yang bergelayut manja di lengan Diman.
"Kenalin ini calon istri aku yang keempat nanya Dewi cantik kan." ujar Diman sombong.
"Apa calon istri kamu." ucap Cahaya sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Iya,ini calon istri aku.Kamu siapa cantik banget kalah sama Dewi kenalin dong Mar.Siapa tau di mau jadi istri aku." ucap Diman sambil memandangi Cahaya.
"Ih akang katanya mau nikahin aku gimana sih." ucap Dewi sambil menghentakkan kakinya.
"Kan akang istrinya udah banyak,aku tuh maunya jadi istri satu satunya." ucap Cahaya sambil memandangi Dewi.
"Aku bersedia menceraikan istriku asal kamu mau menikah denganku."ucap Diman mendekati Cahaya.
"Tapi maaf ya kang saya sudah punya suami,ini suami saya" ucap Cahaya sambil memeluk tangan Damar.
"Kamu tuh dibohongin Damar itu sudah menikah sama cewek jelek bertompel mending sama saya saja,saya bakal kasih berapapun asal kamu mau menikah dengan saya.Dari pada sama Damar yang miskin." ucap Diman tersenyum mengejek.
"Kalau kamu menikah sama dia nggak papa,saya juga mau kok sama kamu biar miskin nggak papa yang penting cakep Nggak kaya dia udah tua dan tidak perkasa lagi ngomongnya doang gede." ucap Dewi yang mencoba mendekati Damar.
"Oh jadi Lo mau sama laki gue." ucap Cahaya sambil mendekati Dewi.
"Nggak Aya aku cuma bercanda,habis kamu selalu beruntung dibanding aku." ucap Dewi ketakutan dan menarik tangan Diman meninggalkan tempat itu.
Sementara Damar mematung melihat tingkah laku Cahaya tadi.
"Ayo bang,ngapain sih malah bengong.Tadi katanya takut Amar nangis." ucap Cahaya yang melihat Damar diam.
"Maaf,aku tadi kaget melihat kamu seperti itu.Kamu pasti naksir aku ya,diam diam kamu suka sama aku.Pantesan anak kamu mirip aku orang kamu cinta berat sama aku,pakai nuduh aku yang menghamili kamu pasti itu hanya akal akalan kamu biar kita cepet menikah ya kan."ucap Damar sambil mengedipkan matanya.
"Ihh kamu apaan sih." ucap Cahaya sambil mencubit perut Damar.
"auww sakit." ucap Damar dengan suara yang dibuat buat.
"Aya,akhirnya aku ketemu kamu." ucap seseorang sambil berteriak.
Cahaya menoleh kebelakang dan langsung memeluknya.
__ADS_1
"Ngapain kamu disini pakai pakaian seperti itu lagi.Jangan jangan kamu mau menyakiti Cahaya ya." ucapnya sambil menarik cahaya menjauh dari Damar.