Benih Yang Tak Diketahui

Benih Yang Tak Diketahui
Bertemu Ayah


__ADS_3

"Sisil apa yang kamu lakukan dia itu Damar,dia yang selama ini sudah menolongku." Ucap Cahaya melepaskan pegangan tangan Damar.


"Kamu tau Aya dia itu Bayu Permana pengusaha terkenal.Dan dia akan menikah dengan Gea Anastasya wanita yang angkuh dan galak.Kamu jangan tertipu dengan penampilannya seperti ini,dia pasti sedang menyamar." ucap Sisil berbisik ditelinga Cahaya.


"Mungkin kamu salah orang,dia itu Damar bukan seperti yang kamu sebutkan tadi." ucap Cahaya.


"Baiklah kali ini aku percaya padamu. Aya aku tuh nyari kamu nggak pernah ketemu.Kamu sekarang banyak berubah ya.Aku juga turut prihatin atas kejadian yang menimpa kamu,maafkan aku waktu itu aku sedang pulang kampung." ucap Sisil sambil melihat penampilan Cahaya.


Kini Cahaya mengenakan daster dan berpenampilan sederhana namun masih terlihat cantik.Dan terlihat lebih keibuan.Cahaya mengajak ,Sisil kerumahnya.


"Masuk Sil,bentar ya aku bantuin Damar membawa belanjaan ke dalam dulu ya." ucap Cahaya sambil meninggalkan Sisil.


"Udah ini biar aku saja,kamu buatkan minum buat temen kamu.Maaf ya aku nggak bisa nemenin tadi pak Amir menelfon katanya butuh bantuan buat betulin pipa dirumahnya." ucap Damar menaruh belanjaan dan segera pergi.


"Minum dulu Sil,maaf ya adanya cuma ini."ucap Cahaya sambil membawakan teh dan pisang goreng yang dia buat sebelum berangkat ke pasar.


"Aya aku tuh nggak bohong,aku pernah liat dia sebelumnya di tempat Gea.Aku pernah bekerja disana,dan aku melihat Bayu bersama Gea." ucap Sisil meyakinkan Cahaya.


" Sudahlah sil mungkin itu hanya mirip saja.Tadi katanya kamu percaya padaku." ucap Cahaya.


"Ya aku nggak akan bahas itu lagi.Gimana dengan kandungan kamu,apa kamu menggugurkannya!" tanya Sisil melihat perut Cahaya.


"Ya nggak lah Sil aku nggak sejahat itu,anakku sudah lahir mungkin dia sedang diajak jalan jalan Tari." jawab Cahaya.


'"Oh iya aku hampir lupa,kemarin aku ketemu ayah kamu.Dan dia bercerita banyak tentang kamu,dua sangat merindukan kamu." ucap Sisil.


"Kamu ketemu ayah dimana,bagaimana keadaannya" tanya Cahaya dengan mata berbinar.


"Ayah kamu baik,saat ini tengah melakukan terapi dan mungkin sebentar lagi dia bisa jalan.Sekarang ini dia tinggal dengan bulek kamu." ucap Sisil.


"Syukurlah,aku senang ayah dalam keadaan baik.Kapan aku bisa bertemu dengannya?" tanya Cahaya.


"Mungkin dalam beberapa bulan ini dia tidak bisa kerimahku.Nanti jika ayah kamu ke tempatku pasti aku akan mengajaknya kemari." jawab Sisil.


"Kak ini Amar nangis mungkin dua haus." ucap Tari dari arah depan.


"Sini mungkin dia lapar." ucap Cahaya sambil membawa Amar masuk dan memberinya asi.


"Tari kenalin ini teman kakak namanya Sisil." ucap Cahaya.


Lalu mereka berjabat tangan,kemudian Tari masuk ke dalam.


"Ya ampun Aya aku nggak nyangka kamu bisa berubah seperti ini.Kami bisa beruntung memiliki anak sedangkan aku tidak akan pernah bisa punya anak." ucap Sisil sambil bersedih.

__ADS_1


"Kata siapa kamu tidak punya anak,kan kamu belum menikah."ucap Cahaya


"Sebenarnya waktu aku pulang kampung aku dipaksa menikah.Aku langsung hamil,tapi sayang aku keguguran,karena kejadian itu membuat rahimku terpaksa diangkat dan aku tidak akan bisa memiliki anak." ucap Sisil sambil meneteskan air mata.


"Aku turut prihatin dengan nasib kamu Sil,kamu yang sabar ya.Kamu boleh kok menganggap anak aku seperti anak kamu sendiri."ucap Cahaya.


"Terimakasih Aya,kamu memang sahabat aku yang paling baik.Anak kamu ganteng banget lucu lagi tapi kok mirip Damar ya." ujar Sisil sambil menimang Amar.


"Mungkin cuma kebetulan saja." ucap Cahaya.


Setelah menidurkan Amar di kamar Cahaya memasak di dapur dibantu Sisil dan Tari.


"Bentar lagi Damar pasti pulang,ayo Tari bantu kakak membawa makanan ini ke depan kita makan sama sama." ucap Cahaya sambil membawa nasi kedepan.


"Kak Damar sudah pulang ayo kita makan sama sama kak." ucap Tari yang melihat Damar sudah berdiri di depan pintu.


"Wah Aya masakan kamu enak ya,aku nggak nyangka kamu bisa masak seenak ini." ujar Sisil sambil menghabiskan makanannya.


"Ya dong siapa dulu yang ngajarin Abang Damar." ucap Cahaya sambil memandang kearah Damar.


"Aya aku pulang dulu ya,besok aku main lagi." ucap Sisil sambil memeluk Cahaya.


 ***


"Bang aku kangen sama Aska,besok kita kesana kamu bisa kan nemenin aku." ucap Cahaya sambil meletakan kopi panas dimeja.


"Kenapa harus besok,sekarang saja kebetulan aku tidak ada kerjaan.Biar Tari yang menjaga Amar.kamu siap siap saja sana aku tunggu di depan ya." ucap Damar kemudian membawa kopinya ke teras


"Maaf mas apa betul ini rumahnya Cahaya?" tanya Anton yang dari tadi memperhatikan Damar.


"Ya benar,sebentar saya panggil dulu,silahkan duduk pak." ucap Damar kemudian bergegas masuk.


"Ayah,aku kangen ayah.Sekarang


ayah sudah bisa jalan lagi,Aya seneng banget." ucap Cahaya sambil memeluk Anton.


"Ayah juga kangen kamu nak,akhirnya ayah bisa bertemu denganmu lagi." ucap Anton sambil memeluk Cahaya.


"Ayah kenalin ini Damar,dia yang selama ini sudah membantu aku." ucap Cahaya sambil memperkenalkan Damar.


Setelah saling memperkenalkan diri dan mengobrol.Tiba tiba Amar terbangun dan menangis.


"Ini Cahaya Amar bangun." ucap Damar sambil menggendong Amar.

__ADS_1


"Wah cucu kakek sudah bangun,ganteng banget." ujar Anton sambil mengambil Amar dari gendongan Damar dan memangkunya.


"Sisil tidak ikut yah." ucap Cahaya.


"Tidak ,sebenarnya dia mau kesini tapi tadi ada telfon dan dia buru buru pergi." ujar Anton.


"Ayah pulang dulu besok ayah kesini lagi " ujar Anton sambil memeluk Cahaya.


"Nak Damar tolong titip Aya ya,terimakasih banyak karena kamu sudah banyak membantu putriku." ucap Anton.


"Ya yah,pasti Damar akan menjaga Cahaya dengan baik." ucap Damar sambil mengantar Anton sampai pintu.


"Aduh Pampers Amar habis sebaiknya beli dulu mumpung masih sore.Tari titip Amar sebentar ya,kakak mau ke warung dulu." ucap Cahaya sambil mengambil uang di lemari.


Karena sudah sore Cahaya bergegas ke warung yang tidak jauh dari rumahnya.Tetapi sampai sana ternyata habis.Dengan berat hati Cahaya menuju warung di gang sempit belakang rumah.


"Untung disitu masih ada,tapi disini sepi sekali." ucap Cahaya sambil memandangi jalan yang sama sekali tidak ada orang lewat.


"Wah ada cewek cantik nih,bagi duit dong.Sepertinya aku pernah melihat kamu tapi dimana ya..." ucapnya sambil mengigat ingat.


"Maaf mungkin kamu salah orang."ucap Cahaya.


"Aku ingat,kamu cewek yang di bus itu.Kebetulan sekali aku bertemu kamu,gara gara kamu sekarang aku tidak bisa menjadi lelaki normal dan aku tidak jadi menikah dengan pacar aku.Sekarang aku bisa membalaskan dendam ku." ucap Agus.


"Mungkin kamu salah liat,coba liat penampilanku aku ini bukan wanita yang kamu maksud." ucap Cahaya yang berusaha mengelabuhi Agus.


"Aku tidak bodoh,walaupun penampilan kamu sudah berubah tapi aku masih mengingat wajahmu.Gara gara kamu aku jadi impoten dan sekarang kamu akan merasakan akibatnya." ucap Agus yang berhasil menyeret tangan Cahaya.


"Lepasin,aku bakal teriak yang kenceng." ucap Cahaya.


" Teriak aja sepuas kamu,disini ngga bakal ada orang lewat.Kamu tunggu disini dulu,aku bakal panggil teman aku buat bersenang senang."ucap Agus sambil menyumpal mulut Cahaya.


"Ya Allah bagaimana ini,mana sudah gelap kalau Amar nangis bagaimana?Aku tidak bisa berbuat apa apa,sungguh tragis nasibku jika aku harus meninggal dengan cara seperti ini."gumam Cahaya dalam hati setelah kepergian Agus.


"Nih bang orangnya buat dia kapok,gara gara dia aku gagal menikah dan aku mengalami impotensi." ucap Agus sambil menunjuk Cahaya.


Cahaya hanya menunduk dan berdoa sambil memejamkan matanya tanpa melakukan apapun karena kaki dan tangannya diikat.Sementara Agus datang membawa dua temannya.


"Ini cewek yang kamu maksud,buka semua ikatannya." ucap seseorang yang suaranya tidak asing bagi Cahaya.


"Wah cantik juga,kamu pinter Gus." ucap Bowo teman yang dibawa Agus.


"Itu beneran bang Komar,apa dia masih mengenaliku.Dulu aku bertemu hanya sebentar di penjara karena dia keburu dibebaskan.Apa dia kembali pada kebiasaannya yang suka memperkosa wanita!!"gumam Cahaya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2