Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Retaknya Sebuah Persahabatan


__ADS_3

"Bagaimana kalau Kamu coba ungkapin perasaanmu ke Kak Raja?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Vika.


Fany terlihat berpikir, ia malu. Selama ini dia tidak pernah menyukai lawan jenis secara terang-terangan. Biasanya ia hanya sekedar kagum dalam diam. Gadis manis itu tidak mau fokusnya terbelah ketika mengungkapkan perasaan, dan berakhir dengan menjalin sebuah hubungan yang biasa disebut pacaran.


"Aku tidak yakin, Vik."


"Semua balik lagi ke Kamu, Fan. Mau tetap mencintai dalam diam, atau mengungkapkan perasaanmu agar lega."


"Nanti deh, aku cari waktu yang pas."


Beberapa hari setelah percakapan itu, akhirnya Fany memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya. Fany akan menghubungi Raja untuk bertemu. Tapi sebelumnya Ia meminta saran dari Vika.


"Kamu nggak salah Fan, minta saran ke aku?" tanya Vika.


"Aku bener-bener nol mengenai masalah mengungkapkan perasaan," ucap Fany lesu.


"Tapi, aku juga belum pernah begitu. Hehe," ucap Vika sembari menampilkan deretan gigi putihnya.


"Baiklah. Tapi paling tidak carikan aku tempat yang pas buat menyatakan perasaan, ya?" pinta Fany.


"Oke, sebelumnya apa kau mengetahui satu hal yang kak Raja sukai?" tanya Vika.


"Dia ... suka kopi, dia bisa dibilang pecandu cafein. Kak Raja bilang bisa minum kopi 3-4 kali sehari," ucap Fany.


"Aiihhh, kasian sekali lambungnya!" seru Vika.


"Kalau begitu, ajak saja dia ngopi. Bukannya minggu ini ada soft opening 'Kopikita'?" usul Vika.


"Baiklah, aku coba hubungi kak Raja dulu."


Kemudian Fany mulai mengirimkan pesan kepada Raja. Sesekali Fany tersenyum sendiri. Tiba-tiba jemarinya berhenti menari diatas layar ponsel, Fany melompat kegirangan.


"Gimana?" tanya Vika antusias.


"Mau! Kak Raja mau meluangkan waktu untuk bertemu!" seru Fany.


"Wah, satu langkah sudah terlewati. Mudah-mudahan hasilnya bagus ya, Fan!" ujar Vika.


Fany mengamini ucapan Vika dengan sungguh-sungguh. Ya, gadis itu sangat berharap bisa memiliki hubungan dengan Raja.


.


.


.


Sore itu, Fany sedang duduk di sebuah kedai kopi yang baru saja buka beberapa hari lalu. Berulang kali ia melihat ke arah cermin kecil untuk sekedar memastikan riasannya stay on.


Sambil menunggu Raja datang, Fany menikmati alunan musik jaz milik Frank Sinatra yang dinyanyikan ulang oleh The Macaron Project. Sesekali ia ikut bersenandung.


Jantungnya berdegup semakin kencang saat melihat Raja memasuki kedai. Pria itu tampak gagah dalam balutan kemeja hijau tua bermotif kotak. Ia mengenakan celana berbahan denim berwarna soft blue.


"Sudah lama menunggu?" tanya Raja.


"Be-belum, Kak." Fany menjawab dengan gugup.


Raja menarik kursi lalu duduk diatasnya. Lelaki itu melemparkan senyum mematikannya kepada Fany.


Berdebar? Jangan ditanya. Jantung Fany berdebar dengan irama yang tidak beraturan. Jemarinya saling meremas satu sama lain karena gugup.


"Ada hal penting apa, Fan?" tanya Raja langsung pada intinya. Tentu saja hal itu membuat Fany gelagapan.


"Ah, a-anu ... i-itu .... " otak Fany mendadak g*blok.


Raja yang kebingungan melihat tingkah gadis manis dihadapannya itu tersenyum geli.

__ADS_1


"Kamu ini kenapa?" ucap Raja sambil terkekeh.


"Hehe, sebenernya Fany mau bicara satu hal yang mungkin bukan hal penting untuk Kak Raja." Fany menghela nafasnya sebelum melanjutkan pembicaraannya.


"Jadi sebenarnya ... Fany ... su-suka sama Kak Raja," ucap Fany dengan nada gugup.


Sedetik, dua detik, tiga detik, Raja terdiam tetapi tak lama lelaki dengan jambang tipis itu tertawa lepas.


"Fan, Kamu sedang bercanda?" tanya Raja sambil memegangi perutnya yang hampir kram karena terbahak.


"K-kak ..., " ucap Fany terbata.


Matanya sudah mulai berair. Mungkin beberapa saat lagi air matanya akan tumpah. Melihat ekspresi Fany yang mendung, Raja menghentikan tawanya. Lelaki itu mendekati Fany. Ia berusaha meraih bahu gadis manis di depannya, tapi Fany menepis tangan Raja.


Akhirnya air mata meluncur menuruni wajah manis Fany, ia mulai terisak. Raja mulai melontarkan permintaan maaf berulang kali. Namun, hal itu tidak membuat tangis Fany reda.


"Ma-maaf Kak Raja bilang? Kakak menganggap perasaanku ini sebuah lelucon?"


"Bukan begitu, Fan. Aku .... "


"Jadi maksud Kakak selama ini apa? Selalu ramah dan perhatian kepadaku. Di chat ataupun saat bertemu di outlet, Kak Raja selalu membuatku berdebar."


Raja tertegun. Ia tak menyangka sudah membuat seseorang terbawa perasaan sedalam ini. Padahal niatnya hanya ingin menghargai Fany.


"Jadi, kenapa Kak Raja begitu sering membeli sepatu di outlet tempat aku bekerja?"


"Itu karena ..... " ucapan Raja menggantung.


"Apa mungkin Kak Raja hanya ingin melihat seseorang? Siapa dia? Loli?"


"Siapa Loli?" tanya Raja bingung.


"Oh, aku sudah tahu!" Seketika Fany bangkit dari kursinya.


"Tolong, Kak Raja berhenti menampakkan wajah di sekitar toko. Jika ingin menemuinya, jangan dihadapanku!" seru Fany kemudian beranjak pergi.


"Kau, jahat sekali," lirih Fany.


.


.


.


Sejak hari itu, Fany bersikap begitu dingin terhadap Vika. Ia hanya berbicara seperlunya kepada sahabatnya itu.


Vika yang mulai merasa aneh akhirnya bertanya kepada Fany.


"Fan, bisa bicara sebentar?" tanya Vika saat Fany sedang membersihkan hambalan kaca.


"Apa?"


"Kuperhatikan, beberapa hari ini sikapmu sangat aneh. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Vika.


"Tidak," jawab Fany singkat.


"Bohong!" ucap Vika dengan nada sedikit tinggi.


"Bohong? Vik, apa kamu sengaja melakukan ini padaku? Apa kau sengaja ingin mempermalukanku?" ucap Fany dengan nada dingin dan tatapan penuh amarah.


"Tunjukkan kesalahanku dimana, Fan! Agar aku mengerti!" bentak Vika.


"Kamu sengaja kan menyuruhku menyatakan perasaan pada Kak Raja?"


"A-aku hanya ingin Kamu melakukan apa yang seharusnya. Mengungkapkan perasaan apakah sebuah dosa besar sehingga membuatmu marah padaku?"

__ADS_1


"Hah! Bukankah sedari awal Kamu sudah menyadari bahwa orang yang disukai Kak Raja bukan Aku?"


"Maksudmu?"


"Halah! Jangan pura-pura bodoh, Vik!"


"Sungguh, aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan!" teriak Vika frustasi.


"Asal Kau tahu, Kak Raja bukan menyukaiku. Tapi dia menyukaimu!" seru Fany sambil tersenyum sinis.


"Apa?" Vika benar-benar tidak tahu apa yang sedang Fany bicarakan.


"Sudah puas sekarang? Aku menyesal telah mengenalmu! Ternyata Kamu perempuan munafik!" seru Fany.


Tanpa disadari mereka kini tengah menjadi pusat perhatian seisi toko. Sampai-sampai Bu Sofia maju untuk melerai kedua sahabat itu.


"Kalian ini kenapa? Tolong, bekerjalah secara profesional!"


Vika dan Fany masih saling melemparkan tatapan tajam. Bahkan kini mata Vika mulai memerah karena menahan amarah dan kesedihan secara bersamaan.


"Kalian bukan anak kecil! Selesaikan semuanya dengan kepala dingin, jangan bawa masalah pribadi di tempat kerja. Paham?"


Kedua perempuan itu masih menunjukkan urat kemarahannya masing-masing.


Perang dingin kedua sahabat itu berlanjut hingga berminggu-minggu. Sampai akhirnya Loli menunjukkan sebuah amplop coklat kepada Vika.


"Apa ini?" tanya Vika sambil membuka amplop itu.


Mengetahui isi dari amplop coklat itu, mata Vika melotot. Ia memandang Loli yang melemparkan tatapan dingin kepadanya.


"Sebenarnya ada masalah apa diantara kalian berdua?" tanya Loli.


"Ini salah paham, dimana Fany?"


"Dia baru saja keluar dari ruangan Bu Sofia."


Vika bergegas mencari sosok Fany. Ya, amplop cokelat itu berisi surat pengunduran diri Fany. Ia harus segera menahan Fany. Perempuan cantik itu tidak ingin Fany sampai harus resign hanya demi menghindarinya.


Setelah mencari Fany hingga keluar toko, akhirnya Vika melihat Fany. Sahabatnya itu tengah berjalan gontai menuju lift.


"Fany!" teriak Vika.


Mendengar namanya dipanggil, Fany menghentikan langkahnya. Badannya berbalik memandang Vika yang tengah berlari menghampirinya. Setelah sampai di depan Fany, Vika mengatur napasnya sebelum berbicara.


"Tolong dengarkan aku, jangan pergi. Jika memang ingin menghindariku, biarkan aku saja yang keluar dari pekerjaan ini!" seru Vika sambil menyobek surat pengunduran diri yang masih berada dalam tangannya.


"Tidak perlu, aku sudah mendapatkan pekerjaan di tempat lain."


"Fan, aku mohon," ucap Vika sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.


"Keputusanku sudah bulat," ucap Fany sambil melangkah pergi meninggalkan Vika.


"Baiklah jika itu keputusanmu. Mengenai kak Raja, aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya."


"Hah! Aku masih tidak percaya!"


"Percayalah padaku untuk terakhir kalinya!" pinta Vika.


"Nggak! Siapapun akan tahu jika kalian memiliki perasaan yang sama, ketika melihat kalian bersama!"


"Kau salah Fany! Sebenarnya aku .... "


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2