Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Gara-gara Miki


__ADS_3

Mata Vika terbelalak mendapati dada liat Mahen dihadapannya. Aroma musk yang sedari tadi diendusnya bukanlah milik Gong Yo. Bukan!


Reflek perempuan itu menjerit, Mahen pun ikut terjaga akibatnya. Tubuh Vika berguling dua kali, hampir saja ia menindih tubuh Vincent yang masih terlelap.


"Apa-apaan ini! Ka-kakak mau mencabuliku, ya? Ha? Mau memperkosaku?" ucap Vika panik.


"Hei! Tu-tunggu, aku bisa menjelaskan semuanya!" seru Mahen.


"Le-langanmu melingkar di pinggangku! Apa lagi yang mau Kakak jelaskan? Ha?" teriak Vika.


Melihat Vika yang terus berteriak, Mahen mendekati perempuan itu. Dibekapnya mulut cerewet Vika, kemudian ia menyeret tubuh sintal Vika keluar kamar. Mahen tidak memperdulikan Vika yang terus berontak.


Setelah berhasil membawa Vika ke ruang tengah, barulah Mahen melepaskan bekapan tangannya. Napas Vika terengah-engah seperti baru lari maraton.


"Diam dulu, aku jelaskan krononologinya," ucap Mahen.


"Tolong jelaskan! Jangan mengarang! Kakak tidak sedang mengikuti lomba menulis novel!" seru Vika.


Mahen mendengus kesal, kemudian ia mulai menceritakan kejadian yang ia alami tadi malam.


Malam sebelumnya ...


Mahen mencari-cari mi instan di kabinet atas. Ada berbagai macam rasa di sana. Kari ayam, soto Banjar, sate ayam, ayam cakalang, dan masih banyak lagi.


"Ini vila atau *m*inimarket?" batin Mahen.


Pilihan Mahen jatuh kepada mi instan kari ayam. Ditolehnya Vika yang masih tertegun di depan televisi. Rasanya tidak sopan jika tidak menawari perempuan itu.


"Vik ... Vika!" panggil Mahen.


Telinga Vika seakan tuli. Ia sama sekali tak menggubris panggilan Mahen. Karena kesal akhirnya lelaki itu melemparkan baskom kecil ke arah Vika. Baskom itu tepat mengenai kepala Vika.


"Aw!" teriak Vika kemudian menoleh ke arah Mahen.


"Apa, sih, Kak?" tanya Vika dengan nada kesal.


"Ngelamun jorok, ya? Dari tadi dipanggil diam aja!" gerutu Mahen.


"Eng-enggak! Enak aja!" ucap Vika sebal.


"Mau mi nggak?" tanya Mahen.


"Mau kalau dimasakin, hehe," cengir Vika.


"Aku mau masak rasa kari ayam, Kamu mau rasa apa?"


"Samain aja, Kak. Biar Kak Mahen nggak ribet masaknya," ucap Vika.


Mahen hanya mengacungkan jempolnya. Kemudian mulai bertempur dengan panci beserta rekan-rekannya. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit sampai mi instan itu matang.


Mahen menata hasil karyanya itu ke dalam mangkok keramik. Lelaki itu juga menyeduh secangkir kopi hitam dan teh hangat untuk Vika.


"Sepertinya ada yang kurang," pikir Mahen.

__ADS_1


"Ah, ya. Saus!" seru Mahen.


Kemudian ia membuka lemari pendingin mencari bumbu pelengkap, saus atau kecap. Mahen sampai geleng-geleng kepala melihat isi kulkas. Ada banyak bahan makanan di sana.


"Isi lemari pendinginku tak seramai ini padahal," ucapnya kagum.


Setelah semua siap, Mahen membawanya ke depan televisi. Ketika mencium aroma menggoda dari mi instan, Vika langsung bangkit dari posisi rebahan. Kini ia duduk tegap dengan mata berbinar layaknya anak anjing menemukan tulang. Air liurnya berdesakan ingin keluar.


Setelah meletakkan mi instan ke atas meja, Mahen memindah saluran televisi. Kini dihadapan mereka tengah terpampang sengitnya pertandingan antara New Castle melawan Manchester City.


Gol pertama dicetak oleh Ruben Diaz, Vika yang masih sibuk dengan mi instannya hampir tersedak karena teriakan Mahen.


"Pelan-pelan kalau makan," ucap Mahen.


"Kakak, tuh, teriak-teriak nggak jelas!" gerutu Vika.


"Ish, Kamu nggak ngerti serunya nonton bola!" ujar Mahen.


"Hilih, apa serunya! Satu bola aja buat rebutan dua puluh empat orang!" ejek Vika.


Tatapan Mahen membuat Vika terdiam seketika. Perempuan itu kemudian meringis sambil membentuk huruf V dengan jemarinya. Usai menghambiskan mi nya, Vika ikut menyimak jalannya pertandingan.


Tanpa ia sadari, Vika ikut terbawa suasana jalannya pertandingan. Sampai akhirnya gol terakhir yang dicetak oleh R. Sterling berhasil membobol gawang lawan. Kedua anak manusia itu langsung berdiri dan saling berpelukan.


"Yeay!" seru Vika.


Keduanya saling berpelukan sembari melompat bahagia layaknya Lala dan Po di acara kesukaan Vincent. Begitu tersadar Vika dan Mahen langsung melepaskan pelukan masing-masing dan menjauh. Suasana canggokembali merayap di hati mereka masing-masing.


Vika mendudukkan pantatnya kembali, diikuti Mahen. Keduanya saling lirik berusaha memudarkan kecanggungan yang terjadi.


"Kau dulu .... " Kedua bibir mereka kembali berucap di waktu yang sama.


"Jadi .... " Untuk ketiga kalinya bibir latah mereka mengucapkan kata yang sama secara serempak.


Akhirnya keduanya terbahak, air mata mulai membasahi sudut mata Vika. Tubuh Mahen pun terguncang hebat karena ledakan tawanya. Setelah tawa mereka berhenti, Mahen mulai angkat bicara.


"Kau tidurlah dulu bersama Vincent, biar aku tidur disini," ucap Mahen.


"Benar? Tidak apa-apa tidur di sini?" tanya Vika.


Mahen mengangguk mantap. Vika kemudian bangkit dan mulai berjalan menuju kamar. Mahen menyesap kopi hitam yang tadi ia seduh. Lelaki itu hampir saja tersedak karena mendengar jeritan Vika dari arah kamar.


"Aaaaaaakkkk!"


Mahen bergegas melangkahkan kakinya ke arah kamar. Pintu kamar itu dibantingnya keras. Vika sudah jongkok di pojok ruangan, sambil memeluk Vincent yang menangis.


"Kenapa?" tanya Mahen panik.


"I-itu! Ada sesuatu dibalik selimut, ia mencoba menyentuhku!" teriak Vika ketakutan.


Mahen menyambar sapu yang kebetulan ada di dekatnya. Lelaki itu mulai mendekati ranjang, dan menyingkap selimutnya. Seekor tikus putih kecil kini menatap tubuh besar Mahen tanpa rasa bersalah. Bukannya kabur ketika diusir dengan gagang sapu, makhluk kecil itu malah mendekat. Mahen yang geli melemparkan sapu yang ia pegang dan ikut duduk di pojok kamar bersama Vika dan Mahen.


Lain halnya dengan Vincent. Bocah kecil itu mendekati tikus putih yang masih memandang dua manusia dewasa yang sedang meringkuk ketakutan di pojok kamar.

__ADS_1


"Ini cuma Miki, Pa, Ma," ucap Vincent.


"Chen, letakkan sapunya!" seru Vika.


Bukannya menuruti perkataan ibunya, Vincent justru memegang tikus kecil yang menurutnya imut itu.


.


.


.


Usai mendengarkan rangkaian cerita Mahen, Vika berulang kali menoyor kepalanya sendiri. Ingatannya memang seburuk itu kah?


Akhirnya Vika langsung berlari keluar kamar karena malu. Ia berdalih ingin menyiapkan sarapan untuk menyembunyikan wajahnya yang kini merah padam.


Beberapa jam kemudian ...


Vincent kini sudah rapi dengan kaos lengan panjang bermotif salur dan celana pendek. Sedangkan Mahen sedang menemui Pak Ujang untuk memberikan uang sewa.


Vika keluar dari kamar sambil menggendong tas ransel. Ia menghampiri Vincent yang tengah tersenyum sendirian.


"Chen, kenapa?"


Vincent hanya menggeleng menjawab pertanyaan ibunya. Akhirnya Vika mengajak Vincent untuk menyusul Mahen dan Pak Ujang.


"Sudah?" tanya Mahen.


"Sudah, ayo pulang sekarang. Dari tadi malam Nola sudah ribut menelepon," ucap Vika.


"Baiklah. Pak, kami pamit dulu, ya? Kapan-kapan kalau kami berlibur kesini pasti akan menginap di vila Bapak," pamit Mahen.


"Iya, Tuan. Hati-hati di jalan ya?"


Vika dan Mahen tersenyum, sedangkan Vincent masih mematung sambil senyam-senyum penuh arti.


"Chen, Kamu ini kenapa? Dari tadi bersikap aneh?" tanya Vika khawatir.


"Hehe, boleh tidak, Chen bawa Miki pulang?" tanya Vincent sambil membuka genggaman kedua tangannya.


"Tidaaaakkkkk!!!" teriak Vika dan Mahen bersamaan.


.


.


.


Bersambung ...


Semoga sukaaa dengan ceritanya...


Terus dukung author ya, agar terus semangat berkarya...

__ADS_1


Sayang Kaliaaannn ❤️❤️❤️


__ADS_2