Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Chen


__ADS_3

"Chen, darimana saja?"


"Aku ... hanya .... "


"Ayo, pulang! Hari ini jadwal kontrol! Apa mau kena omelan mama?"


Bocah lelaki itu menggeleng kemudian menunduk. Si perempuan menatap Mahen ramah sembari tersenyum.


"Maafkan Chen, Tuan," ucap perempuan itu sembari mengangguk.


"Oh, tidak apa-apa. Dia tidak sengaja menabrakku tadi," ucap Mahen.


"Baiklah, Kami pamit dulu," kata perempuan itu.


Mahen hanya tersenyum menanggapinya. Entah mengapa anak laki-laki yang dipanggil Chen itu seperti medan magnet bagi Mahen. Lelaki itu terus memandangi punggungnya hingga hilang dalam kerumunan.


"Pak!" seru Bu Sofia.


"Eh, ya?"


"Apa Pak Mahen ada masalah?" tanya Bu Sofia.


"Ti-tidak," jawab Mahen sedikit gugup.


"Ada telepon dari Blossom Apparel," ucap Bu Sofia.


"Baik." Kini Mahen mengekor di belakang Bu Sofia.


.


.


.


Siang itu, Mahen tanpa sengaja bertemu dengan sosok bocah laki-laki yang ia temui beberapa hari lalu. Chen tengah berdiri di sebuah taman kanak-kanak. Karena penasaran, akhirnya Mahen menghentikan mobilnya. Kemudian menyapa bocah kecil bernama Chen itu.


"Chen?"


"Paman!" seru Chen.


"Sedang apa disini?" tanya Mahen.


"Aku sedang menunggu mama," jawab Chen.


"Rumahmu dimana?"


"Kenapa, Paman?" Kini Chen memasang kembali tatapan curiga seperti beberapa hari lalu.


"Apa Paman penguntit?" imbuh Chen.


"Penguntit? Hahaha .... " Tawa Mahen pecah. Ia merasa sifat Chen sangat mirip dengan seseorang.


"Mau es krim?"


"Apa Paman mau menculikku?" kata Chen penuh curiga.


Tawa Mahen kembali pecah melihat tingkah bocah di hadapannya itu. Tiba-tiba bayangan Vika melintas di benaknya. Caranya bicara sangat mirip dengan Vika. Tatapan matanya saat menaruh curiga pun begitu mirip.


"Jika memang paman ingin menculikmu, maka akan kulakukan sejak kita pertama kali bertemu!" ujar Mahen.


Tak lama kemudian sebuah mobil Honda Brio oranye berhenti di depan mereka. Chen langsung berlari ke arah mobil itu. Mahen kembali menelan kekecewaan karena tidak bisa berbincang lebih lama dengan Chen.


Selepas mobil itu hilang dari pandangan, Mahen kembali masuk ke dalam Tesla-nya. Melihat Chen sedikit mengobati rasa rindunya yang tak berujung kepada putranya. Jika masih hidup, mungkin Vincent seumuran dengan bocah itu.


"Vincent ... papa merindukanmu ..., " lirih Mahen.


.


.

__ADS_1


.


"Chen, jangan pernah menemui paman itu lagi, mengerti?"


"Kenapa, Ma?"


"D-dia mungkin saja berniat buruk terhadapmu!"


"Ma ... bukankah kata Mama, kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap orang lain?"


"I-itu ... paman itu ..., " perempuan dalam mobil itu kehabisan kata-kata.


Celotehan Chen membuatnya bungkam. Tangannya gemetar, setelah melihat sosok yang paling ia hindari. Mahen.


Lima tahun lalu, pria itu seakan tidak menginginkannya dan Chen. Ya, perempuan dalam mobil Brio itu adalah Vika Aditama dan Vincent Aditama, putranya. Takdir Tuhan telah menghindarkan mereka dari kecelakaan maut lima tahun silam.


Selama itu pula, Vika terus bersembunyi dari Mahen. Ia dan Chen kembali lagi ke Bandung karena keinginan almarhumah ibunya.


"Ma .... "


Lamunan Vika buyar ketika suara lucu Chen menyapa pendengarannya. Ia menoleh ke arah lelaki tampan itu. Chen menunjuk ke arah depan. Lampu yang tadinya berwarna merah, kini berubah menjadi hijau. Suara klakson mobil pun bertalu-talu memperingatkan Vika agar segera menjalankan mobilnya.


Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, Vika sampai di apartemen Nola. Ia bergegas membawa masuk Chen, kemudian menutup rapat semua pintu dan jendela apartemen.


Nola yang melihat tingkah Vika menjadi kebingungan. Berulang kali ia mencoba mengajak Vika berbicara, tetapi diabaikan. Sampai akhirnya Vika terlihat duduk di pojok ruangan sembari menggigit kukunya.


"Hei, Kamu kenapa, Vik?" tanya Nola sembari menyentuh lengan atas Vika.


"Aku harus kembali ke Bandung, di sana lebih aman!" seru Vika.


"Apa maksudmu?" Nola semakin kebingungan melihat Vika yang terlihat ketakutan.


Tiba-tiba Vika beranjak menuju kamarnya. Ia membuka lemari dan memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


"Chen, Mama kenapa?"


"Ia terlihat begitu saat bertemu paman." Vincent menjawabnya dengan santai sembari mewarnai gambar beruang.


"Iya, paman yang bertemu dengan kita di mal waktu itu!"


Seketika Nola langsung menghampiri Vika. Ia mencoba mengajak bicara Vika berulang kali. Sampai akhirnya Nola memutuskan menyadarkan Vika dengan cara biasanya. Ia melayangkan tanya nya ke udara, kemudian ...


PLAKKKK!!!


Sebuah tamparan menyadarkan Vika. Sedetik, dua detik, dan tiga detik kemudian barulah Vika tersadar. Ibu beranak satu itu mengusap pipinya yang panas, lalu melemparkan tatapan tajam kepada Nola. Sedangkan Nola meniup telapak tangannya yang seakan-akan sedang berasap.


"Sakit, Nola!" teriak Vika.


"Salah sendiri diajak bicara baik-baik tidak mau mendengarkan, jadi aku terpaksa menggunakan cara klasik!" seru Nola sembari menyilangkan tangan di depan dada.


"Ah, itu .... "


"Kau bertemu dengan Mahen?"


Vika mengangguk lesu, ia meninggalkan lemari dan kopernya yang berantakan. Perempuan itu terduduk di atas ranjang, lantas menenggelamkan wajahnya pada telapak tangan.


"Aku takut ... aku takut mereka mengambil Vincent dariku," lirih Vika.


Nola menghampiri sahabatnya itu, kemudian meraih kedua pipi Vika. Kini tatapan keduanya bertemu.


"Ingat tujuanmu kemari?" Nola mengingatkan Vika mengenai niat awalnya kembali ke Jakarta.


"Vincent. Aku ingin Chen menjalani transplantasi ginjal," ucap Vika lesu.


"Sudah? Ingatlah itu, dan jadikan kekuatan! Aku dan Raja akan menjadi orang terdepan ketika mereka mengganggumu," ucap Nola.


Vika kini menunduk, ia begitu terharu memiliki Nola dan Raja yang selalu mendukungnya.


"Raja akan datang besok pagi, sementara waktu biar dia yang antar jemput Chen sekolah," ucap Nola.

__ADS_1


.


.


.


Takdir Tuhan memang selalu menjadi misteri. Sudah seminggu lebih Raja main kucing-kucingan ketika mengantar dan menjemput Chen. Akan tetapi Tuhan memang ingin segera mempertemukannya dengan Mahen.


Siang itu seperti biasa Raja menunggu di pos satpam ketika menjemput Chen. Begitu sosok bocah tampan itu keluar kelas, Raja langsung melambaikan tangannya. Chen setengah berlari menghampiri Raja.


"Halo, Chen!"


"Paman menunggu lama?" tanya Vincent.


"Baru sepuluh menit," ucap Raja seraya melirik arlojinya.


"Sebelum pulang, Chen mau beli kebab dulu, boleh?" tanya Vincent.


"Tentu saja!"


"Yeayy!" seru Vincent kemudian melompat ke pelukan Raja.


Begitu melangkahkan kaki keluar gerbang sekolah, kaki Raja terhenti. Kini dihadapannya sudah berdiri tubuh tegap Mahen. Ia sedang membawa satu buket snack. Mendadak tangan Mahen lemas, buketnya kini jatuh berceceran di atas paving.


"Kak Mahen!" seru Raja.


"Ka-kalian! Siapa dia? Apakah dia ..., "


"Vincent ... dia Vincent," ucap Raja.


Vincent yang tidak mengetahui arah pembicaraan kedua lelaki dewasa itu hanya diam. Ia memandang Mahen dan Raja secara bergantian. Tatapannya berakhir pada snack yang masih berhamburan di paving.


"Paman ... itu ... snacknya sayang kalau dibuang," celetuk Vincent.


Mendengar ocehan polos Vincent, membuat Raja terkekeh. Suasana tegang keduanya mencair karena kehadiran bocah tampan itu diantara mereka. Ucapan Vincent bagaikan sugesti untuk Mahen. Ia memungut kembali snack yang berserakan, kemudian memberikan semuanya kepada Vincent.


"Terima kasih, Paman," ucap Vincent.


Mahen menatap Raja seakan menuntut penjelasan. Raja yang sangat mengetahui sifat kakak tirinya itu, akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya.


"Kita bicarakan nanti, aku akan membawa pulang Chen terlebih dulu. Aku akan menghubungimu nanti, Kak," kata Raja.


Lelaki itu membawa masuk tubuh mungil Vincent ke dalam mobil, kemudian meninggalkan Mahen yang masih mematung.


.


.


.


Bersambung...


Terus dukung author dengan memberi Like, komen, dan Vote.


Rencananya novel ini akan tamat akhir tahun yaa...


Sayang kaliaaaannn ❤️❤️


BTW ...


Hari ini Chika mau merekomendasikan Novel karya kak m anha,


Buat temen-temen yang suka novel drama rumah tangga boleh mampir yaaa ...


juga



Jangan lupa tinggalkan Like, Komen dan Vote sebagai bentuk dukungan kepada Author....

__ADS_1


Kamsahamnida ...♥️♥️♥️


__ADS_2