
Mahen melangkah mendekati tempat Vika duduk. Perempuan dihadapannya itu terlihat lebih berisi. Perutnya sudah terlihat buncit, terlihat menggemaskan.
"Kak, apa kabar?" tanya Vika.
"Baik," jawab Mahen singkat.
"Kak Mahen mau minum apa? Biar Vika pesankan."
"Tidak perlu, aku hanya sebentar. Jadi mau aku melakukannya disini atau dimana?"
"Melakukan?" Entah mengapa isi otak Vika kosong. Ia lupa akan tujuan awalnya bertemu Mahen.
"Ah, iya. Disini saja, Kak." Vika berusaha berdiri untuk mendekat kepada Mahen.
Melihat Vika yang kesulitan bergerak, Mahen berdecak. Akhirnya ia duduk di samping Vika.
"Merepotkan sekali!" gerutu Mahen.
Vika hanya nyengir kuda. Mahen mulai mendaratkan telapak tangannya di atas perut Vika. Perlahan lelaki itu mengelus perutnya. Terdapat bagian perut yang keras dan tidak. Karena penasaran, akhirnya Mahen bertanya.
"Sebelah sini, bagian apa?" tanya Mahen.
"Sepertinya itu bagian kepala," jawab Vika.
Mendengar jawaban Vika, Mahen hanya mengangguk-angguk. Beberapa saat kemudian, Mahen dikejutkan oleh sebuah gerakan dari dalam perut Vika.
"Eh, apa itu tadi?"
"Dia tengah bergerak, menendang," ucap Vika.
"Lucunya? Apa setiap hari dia seperti ini?"
"I-iya," jawab Vika sembari tersenyum malu. Vika merasa geli melihat Mahen yang berulang kali menanyakan ini itu mengenai bayi yang dikandungnya.
Setelah puas dengan kegiatan elus-mengelus, Mahen mengajak Vika ke sebuah toko perlengkapan bayi.
"Pilihlah mana yang Kamu suka," ucap Mahen.
"Apa tidak apa-apa?"
Mahen mengangguk mengiyakan. Raut wajah Vika menjadi lebih ceria. Ia memutari toko itu hampir enam kali. Calon ibu muda itu akhirnya memasukkan beberapa pasang pakaian, kaos kaki, sepatu, dan juga topi ke dalam keranjang belanja.
Melihat pernak pernik yang dipilih Vika, Mahen sudah bisa menebak bahwa anak yang dikandung Vika adalah laki-laki.
"Laki-laki?" tanya Mahen memastikan.
"Em, iya. Kata dokter, junior berjenis kelamin laki-laki," ucap Vika.
"Sudah ini saja?" tanya Mahen.
Vika hanya mengangguk. Kemudian mereka berjalan menuju meja kasir.
"Wah, calon bayi laki-laki ya?" terka sang kasir.
"Iya, Kak," ucap Vika sembari tersenyum tipis.
"Pasti nanti akan setampan ayahnya," ucap sang kasir sembari menatap Mahen.
"Ah ... itu .... " kata Vika menggantung
"Berapa, Kak?" tanya Mahen.
"Ah, totalnya .... "
Setelah membayar, Vika dan Mahen keluar dari toko itu.
"Kak, terima kasih ya. Sudah mau menemui Vika."
__ADS_1
"Hm, tapi apa benar kalian akan pindah?" tanya Mahen.
"Iya." Vika kembali terdiam mengingat akan meninggalkan ibukota beberapa hari lagi. Keputusan yang berat, tapi jika tidak segera pergi ia akan terus terbayang-bayang oleh masa lalu.
Mendengar jawaban Vika, entah mengapa ada perasaan kecewa menggelayuti hati Mahen. Ia seakan tidak rela Vika harus pergi menjauh. Rasanya seperti beban tersendiri. Sepanjang langkah kaki menuju pintu keluar mal, keduanya hanya diam. Mereka tengah bergelut dengan pikirannya masing-masing.
KRUUUUUUUUKKK!
Keheningan diantara mereka terpecah karena suara perut Vika yang terdengar sedikit nyaring. Vika berhenti, ia menoleh kepada Mahen. Terlihat Mahen sedang berusaha menahan tawa.
"Bu-bukan perutku yang bunyi!" sanggah Vika.
"I-iya, bukan." Mahen merespon sembari menahan tawanya karena takut menyinggung Vika.
"Hiks ... lapar ... " rengek Vika.
"Hahahaha, mau makan apa?" Akhirnya pertahanan Mahen lolos setelah mendengar pengakuan Vika.
"Mau pecel ayam Pak Gendon," ucap Vika dengan wajah memelas.
"Oke, tempatnya dimana? Nanti saya antarkan," kata Mahen.
.
.
.
Disinilah mereka sekarang. Warung tenda dengan kesederhanaannya. Kata orang makanan pinggiran tidak baik untuk kesehatan. Apa peduli Vika? Yang penting perutnya kenyang.
"Wah, Mbak Vika apa kabar?" sapa seorang ibu-ibu ramah.
"Baik, Bu. Ibu apa kabar? Bapak kemana?" tanya Vika.
"Oh, bapak sedang keluar sebentar. Eh, lama nggak kelihatan ternyata sudah hamil! Berapa bulan, Vik?" tanya Bu Gendon.
"Mau makan apa? Hari ini nggak usah bayar wes!" seru Bu Gendon.
"Eh, jangan. Nanti Vika tetap bayar. Vika mau pecel ayam, Bu."
"Suaminya?" tanya Bu Gendon sambil melihat ke arah Mahen yang sedari tadi fokus dengan ponselnya.
"Ya? Ah, saya tidak makan. Terima kasih," ucap Mahen sopan.
Setelah menunggu lima belas menit, pesanan Vika datang. Air liurnya hampir menetes melihat hidangan di depannya. Ia makan dengan lahap.
"Pelan-pelan makannya." Mahen mengingatkan Vika. Entah mengapa ketika melihat Vika makan, nafsu makannya mencuat. Ia berulang kali meneguk lidahnya agar air liurnya tidak meleleh.
"Kak Mahen mau?" tanya Vika.
"Nggak, makan saja." Mahen berusaha sekuat tenaga agar tetap terlihat tenang.
"Sini cobain deh, pasti Kak Mahen suka!" seru Vika sambil menyodorkan sesuap nasi dengan ayam di depan mulut Mahen.
Karena mencium aroma ayam yang menggoda, akhirnya pertahanan Mahen runtuh. Ia membuka mulut, perlahan lelaki itu menguyah makanan. Indra perasaanya mulai menilai, otaknya berpikir.
"Enak?" tanya Vika.
Mahen yang masih sibuk mengunyah tidak menjawab. Begitu makanan yang ada dalam mulutnya tertelan, Mahen berteriak.
"Bu, pecel ayamnya satu!"
Melihat kelakuan ayah dari bayinya itu Vika terkekeh. Mahen makan begitu lahap. Ia berkata bahwa ini pertama kalinya makan di warung tenda.
"Padahal enak, kenapa mama melarangku jajan di pinggir jalan begini!"
"Ya, karena mama khawatir akan kebersihan makanan kaki lima begini. Padahal nggak semuanya kotor dan jorok," ujar Vika.
__ADS_1
"Setelah ini kuantar pulang, ya?" tawar Mahen.
"Tidak usah, hari ini aku ada jadwal pemeriksaan rutin. Kau pulanglah," ucap Vika.
"Kuantar!" ujar Mahen.
"Ya?"
"Tunjukkan dimana Kamu biasa periksa biar kuantar," ucap Mahen.
"Tidak usah, Kak."
"Aku tidak menerima penolakan!" seru Mahen.
Akhirnya Mahen menang, ia berhasil memaksa Vika untuk menemaninya periksa. Sesampainya di klinik ibu dan anak, Vika menunggu antrian. Ia sudah mengambil nomor antrian sehari sebelumnya, jadi ia tak perlu menunggu lama.
"Nyonya Vika Aditama," panggil perawat.
"Ya," jawab Vika.
Vika akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Vika tercengang ketika mendapati Mahen mengekor di belakangnya.
"Eh?"
"Boleh kan aku ikut masuk?"
"Bo-boleh, Kak," jawab Vika sambil tersipu.
Vika mulai diperiksa oleh perawat. Dicek tekanan darah dan juga ditimbang.
"Bagus, naik dua kilo." Sang perawat tersenyum sambil menulis catatan di buku periksa.
"Apa kabar, Bu Vika?"
"Baik, Dok."
"Ada keluhan?"
"Tidak," jawab Vika sembari tersenyum.
"Tumben, suami ikut mengantar," ucap Dokter Marchel.
"Iya, Dok," sahut Mahen.
"Ayo kita lihat kondisi bayinya," ucap Dokter Marchel.
Vika naik ke ranjang untuk melakukan pemeriksaan USG. Ketika Vika hendak mengangkat dasternya, tiba-tiba Mahen berteriak.
"Jangan!"
Sontak Vika, Dokter Marchel, dan sang perawat menoleh. Mereka tertegun melihat tingkah Mahen.
"Kak ... aku biasanya begini, untuk diperiksa," ucap Vika.
"Ta-tapi."
"Haha, tenang, Pak. Istri Anda aman. Toh, Bapak juga ada di sini kan?"
Setelah sedikit diberi penjelasan mengenai pemeriksaan USG akhirnya Mahen tenang. Kini ia memperhatikan layar 22 inch yang menampilkan isi rahim Vika. Bisa terlihat dengan jelas muka bayi yang terlihat lucu, bayi itu sedang mengenyot jemarinya. Perasaan Mahen tidak bisa dideskripsikan. Ia merasa bahagia, haru, dan sedih.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1