Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Kejutan di Hari Ulang Tahun


__ADS_3

Jam berganti hari. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Sebuah tanda tanya besar muncul di benak Bu Winda. Mengapa menantu keduanya itu tak kunjung hamil?


Segala upaya sudah ia lakukan, tapi hasilnya nol besar. Bu Winda diam-diam memasuki kamar anak dan menantunya. Tak disangka ia menemukan hal janggal disana.


"Kok ada selimut di sofa?" tanyanya dalam hati.


Kemudian ia memindai lagi kamar itu. Perlahan Bu Winda berjalan mendekati nakas. Entah mengapa benda itu seperti melambai ingin disambangi. Ketika membuka lacinya, mata Bu Winda terbelalak. Didapatinya satu strip pil kontrasepsi. Ia mendengus kesal karena merasa tertipu oleh Vika dan Mahen.


.


.


.


Disinilah mereka sekarang, Mahen dan Vika saling sikut ketika diinterogasi Bu Winda. Perempuan paruh baya itu memincingkan matanya saat melihat pasangan dihadapannya gelisah.


"Apa ini?" tanya Bu Winda sembari melemparkan temuannya tadi pagi.


"I-itu ... Vika ... cuma ..., " ucap Vika terbata-bata.


"Kamu ingin menipuku?" kata Bu Winda dengan nada tinggi.


"Bu-bukan begitu maksudku, Ma."


"Kami hanya belum siap melakukannya, Ma," potong Mahen.


Bu Winda melengos. Ruang keluarga itu kini terasa seperti ruang interogasi bagi kedua suami istri itu. Terasa menyesakkan dan menegangkan.


"Tapi Vika baru membelinya kok, Ma. Sumpah!" ucap Vika sambil membentuk tanda V dengan jari tengah dan telunjuknya.


Bu Winda terlihat merogoh sakunya dan mengeluarkan satu strip pil dengan bentuk yang sama seperti milik Vika.


"Ini Clomiphene, pil untuk penyubur. Konsumsi ini dan jangan pernah tidur secara terpisah lagi. Jika mama memergoki kalian tidak patuh, sanksi berat akan menanti kalian berdua!" gertak Bu Winda kemudian meninggalkan Vika dan Mahen yang masih mematung.


"Ck, kamu pakai beli-beli pil kontrasepsi segala!" gerutu Mahen.


"Ya kan aku memang berniat untuk tidak hamil dalam waktu dekat!" dalih Vika.


"Jadi kamu benar-benar hanya ingin memanfaatkan keluargaku!" seru Mahen.


"Kenapa? Tidak suka? Toh, bukannya Kak Mahen lebih suka jika aku tidak berada diantara Kakak dan Kak Nova. Jadi, Kak Mahen membuat perjanjian waktu itu kan?" ucap Vika dengan nada yang sedikit tinggi.


Sontak Mahen membungkam mulut Vika dengan telapak tangannya.


"Ssstttt!" Mahen menempelkan jari telunjuknya ke mulut agar Vika diam.


"Oke!" Kata Vika.


Mulai malam itu, Vika dan Mahen tidur satu ranjang karena tidak ingin menanggung resiko yang lebih berat. Vika juga selalu rutin meminum pil penyubur di hadapan Bu Winda.


.


.


.


"Sayang, jangan lupa nanti pulang lebih awal," ucap Nova dari ujung telepon.


"Iya ... aku usahakan. Sudah dulu ya, aku sebentar lagi ada meeting dengan klien."


Karena ada sedikit masalah dengan beberapa suplier produk, Mahen harus pulang terlambat. Tiba-tiba ponselnya berdering, Bu Winda menelepon.


" ... "


"Tapi, Ma. Aku sudah janji pulang cepat. Hari ini harusnya aku pulang ke rumahku."

__ADS_1


" ... "


"Ma, tolong jangan begini. Aku harus ... halo ... Ma ... halo!" Mahen menilik layar ponselnya, ternyata ia kehabisan baterai.


"Sial!" seru Mahen.


Mau tidak mau, lelaki itu harus pulang ke Rumah Besar terlebih dulu. Ia tidak ingin dicoret dari kartu keluarga Dirgantara karena dicap sebagai anak durhaka.


Malam itu, akhirnya Mahen membelah jalanan yang ramai lancar untuk menemui ibunya. Sesampainya di rumah, Mahen disambut antusias oleh Bu Winda. Tidak seperti biasanya, malam itu wajah Bu Winda berseri-seri dengan senyum sumringah.


"Mama? Tumben terlihat bahagia? Aku jadi curiga?" ucap Mahen.


"Kamu, nih. Mama sedang terapi senyum untuk menghindari kerutan yang akhir-akhir ini bertambah karena ulahmu dan Vika!" seru Bu Winda sambil tetap mempertahankan senyum lebarnya.


Mereka berjalan menuju meja makan, disana Vika dan Pak Theo sudah duduk sambil berbincang. Mata Mahen sedikit melotot melihat istri keduanya memakai baju yang tidak biasanya. Malam itu Vika tampak cantik dalam balutan gaun tanpa lengan. Mekap tipis menghiasi wajah cantiknya.


"Ehm, ada acara apa nih? Kok, kelihatannya formal sekali?" tanya Mahen keheranan.


"Hari ini Vika ulang tahun, jadi kami menyiapkan makan malam special untuk kalian," ucap Bu Winda sambil tersenyum penuh arti.


"Oh, maaf. Aku tidak menyiapkan kado apapun," ucap Mahen datar.


"Tidak apa-apa, Kak," kata Vika sambil tersenyum tipis.


Seusai makan, Vika langsung pamit karena merasa tubuhnya tidak nyaman. Perempuan itu terlihat sedikit resah. Melihat menantunya terlihat sedang dalam keadaan tidak biasa, Pak Theo meminta Mahen untuk menemani istrinya.


"Coba susul Vika, siapa tahu dia sedang membutuhkan bantuan tapi tidak enak berbicara di depan kami," ucap Pak Theo.


"Tapi Mahen harus segera pulang, Pa. Nova sudah menunggu," protes Mahen.


"Vika juga istrimu, tolong beri dia sedikit perhatian walau secuil," timpal Bu Winda.


Mahen tidak punya pilihan lain. Ia hanya akan melihat kondisi Vika sebentar, lalu segera pulang. Saat memasuki kamar, lelaki itu tidak mendapati istrinya di sofa maupun di kasur. Perasaan panik mulai muncul di benak Mahen. Telinganya menangkap suara gemercik air dari dalam kamar mandi.


Perlahan ia mengetuk pintu kamar mandi sambil memanggil Vika.


Tak lama kemudian, Vika keluar dalam keadaan rambut basah dan tubuhnya hanya dibalut sehelai handuk. Melihat pemandangan indah dihadapannya, Mahen meneguk salivanya. Lelaki itu baru menyadari bahwa istrinya memiliki tubuh indah dan kulit yang begitu putih dan bersih.


"Ka-kamu kenapa?" gagap Mahen.


"Kaaak, tubuh Vika rasanya panas sekali. Vika sudah mandi, tapi masih panas," ucap Vika setengah merengek.


Mahen mencoba mendekati Vika dan menempelkan punggung tangannya untuk mengecek suhu tubuh istrinya itu. Mendapat sentuhan dari Mahen, tanpa sadar Vika mengeluarkan des*han. Mendengar hal itu, Mahen langsung menarik kembali tangannya.


"Wah, ada yang tidak beres ini. Pasti ulah mama!" batin Mahen.


"Tunggu disini!" seru Mahen.


Lelaki itu langsung menuju pintu untuk meminta penjelasan dari mamanya. Tapi sialnya, pintu kamar sengaja dikunci dari luar. Berulang kali Mahen menggedor pintu, tapi tak ada jawaban dari luar.


Saat berbalik badan, jantung Mahen hampir copot melihat tubuh Vika yang hanya menyisakan pakaian dalam. Sontak lelaki itu menutup matanya dengan telapak tangan.


"Astaga! Apa-apaan kamu, Vik!" seru Mahen.


"Kaaaak, tolong Vika," mohon Vika.


"Sepertinya mama menaruh sesuatu ke dalam makanan atau minumanmu! A-aku mungkin bisa menolongmu, tapi apa nanti Kamu tidak menyesal?"


"Lakukan apa saja, Kak, Tolong. Asalkan aku terbebas dari siksaan ini!" mohon Vika dengan suara parau.


Mendengar permohonan Vika, otomatis ada sesuatu yang tegak, tapi bukan keadilan. Mahen meneguk salivanya kasar. Perlahan dibukanya kembali matanya. Ia mulai mendekati Vika yang keadaannya sudah meracau tak jelas.


Mata Vika terlihat begitu memelas, bahkan air matanya mulai meleleh karena siksaan itu.


"Kau yakin tidak akan menyesal?" tanya Mahen memastikan kembali.

__ADS_1


Vika menggeleng. Akhirnya, Mahen menyanggupi permintaan Vika. Lelaki itu mulai mencumbu istri yang sudah ia nikahi hampir satu tahun itu. Setiap sentuhan Mahen menimbulkan geleyar aneh bagi Vika. Des*han mulai keluar dari mulut nakal Vika ketika suaminya itu menjelajahi hampir seluruh permukaan kulitnya.


"Kau tidak bisa mundur lagi, Sayang," ucap Mahen dengan suara berat.


Vika sudah kehilangan urat malunya. Ia sangat menikmati setiap sentuhan lembut yang diberikan Mahen. Perempuan itu mengangguk tanda setuju.


"Ini akan sedikit menyakitkan, tolong tahan. Karena aku harus menyelesaikan semuanya," ucap Mahen.


"Aakhh ..., " pekik Vika.


.


.


.


Lingkaran hitam mengelilingi mata Nova karena tidak bisa menghubungi suaminya sejak kemarin malam. Perempuan itu hanya mondar-mandir di depan pintu. Kekhawatirannya sedikit menghilang ketika mendengar deru mobil memasuki halaman rumahnya.


"Sayang, Kamu semalam kemana? Kenapa nggak bisa kuhubungi? Kenapa baru pulang jam segini?" cecar Nova.


"Aku lelah, nanti kita bicara ya," ucap Mahen sambil tersenyum tipis.


"Nggak! Jawab dulu pertanyaanku, Yang!" seru Nova.


"Tolong, aku lelah sekali. Kita bicara nanti, oke?" ucap Mahen sambil mengusap lembut pipi istri pertamanya itu.


Mata Nova tertuju pada leher Mahen, disana terdapat sebuah ruam merah keunguan. Tanda yang biasa ia torehkan saat bercinta dengan Mahen. Tapi Nova yakin, tanda itu bukan ulahnya. Amarah Vika naik ke ubun-ubun.


"Apa ini?" tanya Vika sambil menyentuh kulih leher Mahen.


"Itu .... "


"Kamu main serong? Kamu selingkuh? Jawab!" teriak Nova.


"Dengerin aku dulu, Yang ..., " ucap Mahen masih dengan nada lembut.


"Sudah jelas, Mahen! Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi! Kamu mengkhianatiku!" teriak Nova. Hatinya terasa begitu sesak mengetahui ada bekas percintaan tertinggal di tubuh suaminya. Ia tidak rela lelaki yang sudah dinikahinya bertahun-tahun itu tidur dengan wanita lain.


"Kamu jahat!"


"Aku nggak selingkuh!" seru Mahen.


"Lalu ini apa? Ha?"


"Maaf, tapi aku terpaksa melakukannya karena menolong Vika," ucap Mahen datar.


"Vika? Jadi Vika orangnya? Oke, aku susul dia. Dimana perempuan murahan itu sekarang!" teriak Nova.


Mahen menghalangi langkah Nova. Perempuan itu memberontak dan terus menangis histeris. Walau awalnya dia menikahi Mahen demi status sosial, nyatanya Nova jatuh hati kepada lelaki itu. Mendapati Mahen menyentuh madunya, tentu saja hati Nova hancur berkeping-keping.


"Sudah, tidak perlu. Aku hanya melakukannya sekali," ucap Mahen dingin.


"Sekali? Apa kamu bisa menjamin hanya akan melakukannya sekali ini saja? Ha!" teriak Nova frustasi.


"Cukup! Bisa tidak menekan sedikit emosimu seperti Vika!" bentak Mahen.


"Seperti Vika? Oh, lihat! Baru sekali Kamu tidur dengan perempuan murahan itu, sudah membandingkan aku dengannya! Apalagi kalau ..., "


PLAAAAKKKK


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2