Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Secuil Kisah Nova


__ADS_3

~Nova POV ON~


Namaku, Nova Adisti Kenanga. Aku dibesarkan oleh Bang Jamal, seorang preman pasar berambut ikal, dan memiliki jenggot tebal. Lelaki dengan suara serak seperti penyanyi rocker itu, memberi tempat tinggal dan makanan untukku.


Aku tinggal di sebuah rumah bedeng bersama beberapa anak lain yang senasib. Pakaian kumal tak layak pakai menempel lekat pada tubuh kurus Kami.


Masa kanak-kanakku jauh dari kata bahagia. Aku dan teman-teman ditempan untuk menjadi orang yang tangguh serta tahan banting. Bang Jamal mengajarkan beberapa keterampilan mencuri, mencopet, dan menipu. Ya, Aku dididik untuk menjadi seorang pelaku kriminal berkedok pengamen.


.


.


.


Malam itu, Aku beserta teman yang lain berkumpul di depan rumah Bang Jamal. Kami semua mengeluarkan pendapatan yang diperoleh. Sampai tiba waktunya, Aku menyerahkan hasil mengamen di lampu merah.


"Nova! Kemari! Mana uang setoranmu hari ini?" Bang Jamal berteriak sambil menghitung uang yang terkumpul di atas meja.


Kaki kecilku melangkah perlahan mendekati Bang Jamal. Aku menyerahkan bungkus bekas permen yang berisi recehan hasil mengamen hari ini. Tanganku gemetar karena sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Apa, ini!" teriak Bang Jamal. Matanya melotot, kemudian melemparkan uang koin yang kukumpulkan seharian.


Bang Jamal melangkahkan kakinya mendekat. Aku hanya bisa menunduk pasrah, menanti hukuman dari Bang Jamal. Tanpa terduga, lelaki garang itu mengusap rambutku lembut.


Aku memberanikan diri untuk menatap matanya. Dia tersenyum ke arahku, dengan bodohnya Aku ikut tersenyum. Seketika senyuman Bang Jamal pudar berganti sebuah teriakan yang memekakan telinga.


"Dasar bocah tengik! Kenapa ikut tersenyum!" Jemari Bang Jamal kini menjambak rambut, dan menyeret tubuh kurusku keluar dari rumah bedeng kumuh itu.


"Ampun, Bang! Besok Nova bakal bawa uang lebih banyak! Sakit, Bang! Ampun!" Aku berteriak berharap Bang Jamal memberikan pengampunannya untukku.


Malam itu Bang Jamal tidak mengijinkanku masuk ke dalam rumah. Aku berjalan tertatih membelah keramaian Ibu Kota, dan berhenti ketika melintas di depan sebuah restoran.


"Lapar ...," ucapku sembari memegang perut yang semakin melilit.


Kupandangi orang-orang yang keluar masuk restoran dengan mengenakan pakaian mahal. Aku terduduk lesu di depannya karena sudah tidak ada tenaga tersisa.


"Kamu, mau makan?" tanya seorang anak laki-laki.


Mendengar suara anak laki-laki menyapa, Aku mendongak. Dia memakai pakaian yang bersih dan terlihat mahal. Aku hanya mengangguk lemah karena tidak kuasa menahan rasa lapar.


"Sebentar, Aku akan bilang ke Mama," ucap bocah itu kemudian masuk ke dalam restoran.


Tak lama kemudian, anak laki-laki berkulit putih itu datang sambil membawa sebuah kantong yang sepertinya berisi makanan. Ia menyodorkannya kepadaku sambil tersenyum manis.


"Namaku Loui, siapa namamu?" tanya Loui sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman, awalnya aku ragu. Demi menjaga kesopanan, kuraih jemari Loui. Tangan lelaki itu sangat halus, berbanding terbalik dengan kulit tanganku yang kasar.


Jadi, begini ya, rasanya bersalaman dengan orang kaya.

__ADS_1


Sejak saat itu, Kami menjadi teman dekat. Kedua orang tua Loui sering membelikan baju, dan suatu waktu mereka menemui Bang Jamal untuk mengadopsiku. Namun, preman pasar itu menolak dengan alasan sudah menyayangiku layaknya anak sendiri.


Selain Loui, aku juga memiliki satu teman lagi, Rico. Dia seorang pengamen cilik sama sepertiku. Bedanya dia memiliki orang tua yang sangat menyayanginya.


Layaknya penyanyi profesional, kami sering berduet ketika mengamen di lampu merah dan bis kota. Rico terkadang memberikan separuh uang hasil mengamennya. Dia tahu betul bagaimana nasibku berakhir jika uang setoran kurang.


.


.


.


Tiba-tiba hidupku berubah malam itu. Hari di mana aku menolong seorang lelaki tampan yang mengalami sebuah kecelakaan motor di jalanan yang lengang. Dialah Mahendra Putra Dirgantara.


"Bisa minta tolong rawat Mahen sampai dia sembuh total?" Suara Pak Theo seperti embun pagi yang menyejukkan.


"Bi-bisa, Pak," ucapku terbata-bata karena tidak menyangka mendapatkan tawaran yang bisa membebaskanku dari jeratan Bang Jamal.


"Baik. Mulai hari ini, Kamu bisa bekerja untuk Mahen."


Sepanjang waktu Aku berada di samping Mahen. Menyiapkan segala keperluan pribadinya dan membantu Mahen agar bisa kembali berjalan, menjadi tugas utamaku.


Ketika senggang Aku sering menggambar beberapa desain baju untuk membunuh waktu. Tanpa sepengetahuanku, Mahen meminta kepada Pak Theo membiayai kuliahku.


"Nova, Aku akan membiayai kuliahmu. Belajarlah yang rajin! Terus kembangkan bakatmu!" ucap Pak Theo sambil menyodorkan sebuah amplop ke arahku.


.


.


.


Suatu hari Mahen mengungkapkan perasaannya. Bahkan Ia juga berniat untuk menikahiku. Senang? Sudah pasti. Aku hanya mengangguk setuju, meskipun belum memiliki perasaan yang sama dengan Mahen. Tujuanku kala itu, hanya ingin memiliki status sosial tinggi agar Bang Jamal tidak terus menerus menggangguku.


Di tahun kedua kami menikah semua masih baik-baik saja. Sampai akhirnya Ibu mertuaku, Bu Winda terus mendesak masalah momongan. Awalnya Aku hanya diam dan mengabaikannya. Sampai akhirnya di tahun keempat Pak Theo mulai angkat bicara mengenai keturunan.


"Mahen, ikut saja program bayi tabung. Papa, akan membayar berapapun biaya yang dibutuhkan," ucap Papa sambil menyesap kopi hitamnya.


"Aku dan Nova sepakat untuk memiliki anak dengan cara senormal mungkin, Pa!" teriak Mahen sambil melayangkan tatapan tajam ke arah Papa.


"Kalian terlalu santai! Papa juga butuh penerus untuk kelangsungan bisnis selanjutnya!" Pak Theo beranjak pergi meninggal Kami.


Aku hanya bisa tertunduk lesu, segala upaya sebenarnya sudah Kami lakukan agar segera memiliki keturunan. Namun, Tuhan masih belum mau meniupkan ruh ke dalam rahimku.


Di tahun kelima pernikahan, tiba-tiba Mama meminta Mahen untuk menikah lagi. Alasan klasik menjadi pemicunya. Mama ingin segera menimang cucu. Jangan tanyakan bagaimana hancurnya hatiku. Namun, aku tidak bisa berbuat apapun.


Aku menyetujui pernikahan itu dengan berat hati. Sejujurnya, aku sudah terlalu nyaman dengan segala fasilitas yang diberikan keluarga Dirgantara. Selain itu, separuh hatiku sudah menjadi milik Mahen. Aku jatuh cinta padanya.

__ADS_1


Selama menjalani kehidupan pernikahan baru, berbagai cara aku lakukan agar Vika -istri kedua Mahen- tidak betah berada dalam hubungan rumah tangga kami. Bahkan hanya dalam hitungan bulan, perempuan itu bisa mencuri hati Mahen. Hal itu membuatku sangat terpukul.


Pertengkaran kecil hampir terjadi setiap hari, karena rasa cemburu yang menguasai hati dan pikiranku. Puncaknya, Aku dan Mahen ribut besar saat hari jadi pernikahan Kami.


Ketika rumah tanggaku hampir di ujung tanduk sebuah panggilan masuk ke ponsel pintarku. Rico, sahabat masa kecilku tiba-tiba muncul dan menawarkan bantuan setelah mendengarkan curahan hatiku.


Sebuah rencana jahat Kami susun untuk menyingkirkan Vika dari keluarga Dirgantara. Begitu berhasil menyingkirkan perempuan itu, Aku harus berjuang meluluhkan hati suamiku.


Sejak Vika pergi dari keluarga Dirgantara, Mahen justru membuatku semakin gila karena sikap dinginnya. Apa aku salah berusaha mempertahankan keutuhan rumah tanggaku?


Sampai suatu ketika Bu Winda mendatangiku di butik. Beliau datang dengan tatapan sombongnya.


"Bercerailah jika tidak bisa memberiku keturunan!"


Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di telingaku. Hingga akhirnya, Aku memutuskan mencoba cara kotor. Aku menemui Rico untuk meminta bantuan darinya. Demi mendapatkan keturunan, Aku rela menjatuhkan harga diri sebagai seorang istri.


"Bisa bantu Aku, Rico?" tanyaku kepada teman kecilku itu.


"Apa yang bisa kulakukan untukmu, Nov?" Mata Rico menatapku penuh keseriusan.


"Tolong, tiduri Aku!"


Seketika mata Rico terbelalak, mulutnya menganga lebar, dan tubuh yang awalnya bersandar pada kursi itu kini duduk tegak. Aku bisa mengikuti keterjutannya. Namun, otakku sudah buntu.


Rico menyanggupi apa yang aku minta dengan satu syarat. Setelah aku berhasil mengandung, ia tidak mau aku menghindarinya apapun alasannya.


Berkat bantuan Rico, akhirnya Aku bisa mengandung Maura. Perlahan hati Mahen mulai luluh sejak saat itu. Kebahagiaan kami terasa semakin lengkap sejak Maura lahir di dunia. Masih terpatri dalam ingatanku bagaimana perasaan khawatir Mahen saat proses persalinanku.


"Sayang, Kamu hebat! Kamu bisa melakukannya!" Mahen terus menggenggam tanganku ketika proses melahirkan Maura. Kecupan lelaki itu terasa menenangkan.


Peluhku bercucuran selama proses persalinan. Sebisa mungkin aku mengejan sesuai apa yang diinstruksikan dokter. Perasaan lega merasuk di hatiku ketika mendengar tangis Maura pecah.


Bayi kecil itu lahir dengan kulit seputih salju, rambutnya tebal dan hitam, bibir merah Merah membuat parasnya semakin terlihat sempurna.


"Lihat, putri kita cantik sekali, Sayang." Mahen menunjukkan Maura yang sedang terlelap dalam gendongannya.


Akan tetapi, seluruh kebahagiaanku sirna seketika. Duniaku jungkir balik karena ulahku sendiri. Aku sadar apa yang Kita tuai hari ini merupakan hasil dari benih yang kita tebar. Semoga Tuhan masih berbaik hati, memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri.


~Nova POV End~


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2