Berbagi Cinta: Second Wife

Berbagi Cinta: Second Wife
Biang Kerok


__ADS_3

Vika sudah mengosongkan butik sejak kemarin. Hari ini ia berencana mengembalikan kunci kepada Ci Lulu. Perempuan itu akan menemui sang pemilik bangunan di rumahnya.


Ketika melewati depan butik, Vika berhenti karena melihat motor Nola terparkir di halaman butik. Vika mematikan mesin motornya, kemudian masuk ke dalam butik.


"Tolong, jangan buat aku berbuat lebih jauh. Aku sudah tidak sanggup menyakiti perempuan sebaik Vika!"


" ... "


"Toh, kali ini aku sudah tidak bisa memiliki alasan lagi karena kamu telah mempersulitnya dalam urusan butik."


" ... "


"Sudah sampai di sini aku bekerja untukmu! Carilah orang lain, Nova!" teriak Nola.


Mendengar nama Nova, sontak tangan Vika lemas. Helm yang tadi dipegangnya terjatuh ke lantai. Menyadari ada orang lain di dalam butik, Nola terkejut. Ia makin terkejut ketika mendapati Vika sudah mematung di ambang pintu.


"Nova siapa yang barusan telepon?" tanya Vika sembari mencoba menahan amarah.


"A-aku bisa menjelaskan semuanya, Kak!" seru Nola.


"Nova siapa? Jawab!" bentak Vika.


"Nova Adisti Kenanga. Kakak mengenalnya, bukan?" jawab Nola.


"Kenapa Kamu melakukan ini padaku, Nola?" tanya Vika.


"Maaf." Nola hanya bisa mengucapkan satu kata itu. Lidahnya serasa kelu.


"Apa aku pernah menyakitimu?" Air mata Vika kini sudah mengalir membasahi pipi. Rasa sakit terkhianati oleh teman, rasanya lebih menyiksa daripada dikhianati kekasih.


"Maaf."


"Maaf? Kau bahkan tahu bagaimana aku memutar otak agar bisa membiayai pengobatan Vincent! Salah satunya dengan merintis butik ini! Tapi apa yang kamu lakukan ini? Apa kau ingin membunuh Vincent secara perlahan?" seru Vika sambil terus menangis.


"Bukan begitu! Aku tidak punya pilihan lain!" teriak Nola.


"Jadi ... sejak kapan Kamu bekerja untuk Nova?" tanya Vika diiringi tatapan dingin.


"I-itu ... sejak Kita pertama kali bertemu," jawab Nola sembari menunduk.


"Apa alasannya juga karena uang?"


Nola hanya menunduk lesu. Jemarinya memilin ujung kemejanya. Seakan mengerti keadaan Nola, Vika menghembuskan napasnya kasar.


"Apa Kau sering bertemu Nova?" tanya Vika.


"Tidak. Tapi hari ini aku akan bertemu dengannya di Kafe Paris Van Java," ucap Nola.


"Kau tidak perlu menemuinya, aku yang akan kesana," ujar Vika.


Tanpa meminta persetujuan dari Nola, perempuan itu langsung melajukan motor bebeknya. Ia melesat secepat kilat. Perjalanan yang seharusnya ditempuh selama tiga puluh menit, dapat dilalui Vika hanya dalam dua puluh menit.


Vika memasuki kafe yang dimaksud Nola. Dari arah pintu masuk, ia sudah bisa melihat Nova karena hanya beberapa orang yang duduk disana. Vika memakai masker untuk sedikit mengecoh Nova. Ia sudah tidak sabar melihat ekspresi wajah istri pertama Mahen itu.


Langkahnya semakin dekat dengan meja Nova. Begitu sampai di depan Nova, Vika berhenti. Nova yang sedari tadi sibuk dengan gawainya kini mendongak menatap Vika.

__ADS_1


"Lama sekali, Kau tahu kan kalau aku paling tidak suka menunggu!" seru Nova.


Begitu Vika membuka maskernya, mata Nova terbelalak dan bibirnya menganga lebar. Vika melemparkan tatapan sedingin salju.


"Kau ... ba-bagaimana bisa Kamu .... " Belum selesai Nova berbicara, mukanya sudah basah kuyup dengan air putih yang disiramkan oleh Vika.


Nova sedikit gelagapan. Kini seluruh pengunjung kafe telah menjadikan mereka tontonan. Nova beranjak dari kursi bersiap menampar Vika. Dengan cepat Vika mengunci lengan Nova sebelum mendarat ke pipi mulusnya.


"Apa maksudmu melakukan ini padaku!" ucap Vika.


"Lepas!" teriak Nova.


Karena kegaduhan yang terjadi, akhirnya manajer dari kafe itu menghampiri mereka.


"Tolong, jangan buat keributan disini," ucap sang manajer.


Vika langsung menarik lengan Nova. Ia mencengkram lengan Nova sekuat mungkin agar tidak lepas, layaknya burung elang yang tengah mencengkeram anak ayam sebagai mangsa.


Begitu sampai di luar kafe, Vika melepaskan tangan Nova. Istri pertama Mahen itu melingkarkan jemarinya pada bekas cengkraman Vika sembari memberi usapan pelan, berharap rasa sakitnya menghilang.


"Jawab! Kenapa Kau mengusik hidupku! Padahal aku sudah pergi sejauh mungkin dari rumah tangga kalian!" seru Vika.


"Hah, karena sejak awal kehadiranmu dalam kehidupanku dan Mahen sudah salah! Pernikahan kami sekarang hanyalah sebuah status! Hubungan kami hancur!" teriak Nova.


Mengetahui fakta yang dituturkan Nova, Vika terperanjat. Ia tak menyangka bahwa kehadirannya berujung begitu panjang walaupun sudah menyingkir.


"Jadi, aku juga ingin kehidupanmu sehancur rumah tanggaku saat ini!" seru Nova sembari tersenyum licik.


"Tolong berhenti, jangan usik aku lagi!" bentak Vika.


"Tidak mau!" teriak Vika.


"Mari Kita lihat apa yang bisa Kau lakukan!" seru Nova.


Vika sudah tidak ingin berdebat lebih jauh dengan Nova. Ia meninggalkannya, kemudian pergi menemui Raja.


.


.


.


"Aku tidak menyangka Nola ternyata bekerja untuk Nova," ucap Vika.


"Dari awal aku sudah mengingatkanmu. Aku memiliki firasat bahwa Nola memiliki maksud lain sejak awal," ucap Raja sembari menyesap americano panasnya.


"Penampilan luar memang menipu," ujar Vika sembari melihat ke arah luar kedai kopi.


Ia tak habis pikir, Nola yang terlihat lugu ternyata menyembunyikan persekongkolannya dengan Nova secara rapi. Tapi bukankah serapat-rapatnya bangkai ditutupi akhirnya akan tercium juga baunya?


Banyak sekali pelajaran yang Vika ambil dari kejadian ini. Yang ia inginkan sekarang adalah menunjukkan darah daging Mahen untuk menyiksa Nova perlahan. Vika yakin setelah ia menunjukkan Vincent, Mahen akan semakin mengabaikan Nova. Kemudian ia akan kembali menghilang agar Mahen turut menyesal telah menyia-nyiakan dirinya dulu. Bahkan tidak mau mengakui bahwa Vincent adalah putranya.


"Kak, bisa antar aku menemui Mahen?"


"Ya?"

__ADS_1


"Aku ingin mempertemukan Vincent dengan ayahnya walau sekali," ucap Vika.


"Kapan?"


"Secepat mungkin!" ujar Vika.


"Apa Kau yakin? Aku takut nantinya Mahen dan keluarganya menginginkan hak asuh Vincent, karena sampai sekarang keluarga itu belum memiliki penerus."


"Setelah ini aku akan membawa Vincent pergi sejauh mungkin."


Setelah sedikit beradu argumen, akhirnya Raja menyanggupi permintaan Vika. Bahkan demi menuruti keinginan Vika, Raja akan memboyong keluarga kecil Vika ke New York setelah menemui Mahen. Mereka akan menetap disana dalam waktu lama.


"Baiklah, tolong siapkan semua keperluan Vincent. Sementara waktu, aku akan menyiapkan paspor dan visa untuk kalian."


"Kak, terima kasih. Aku tak tahu harus bagaimana untuk membalas semua kebaikan Kakak." Perasaan haru memenuhi dada Vika.


"Apapun akan aku lakukan asalkan hal itu membuat dirimu bahagia!" ujar Raja.


Sore itu Vika langsung kembali ke rumah dan menyiapkan beberapa keperluannya dan Vincent untuk menginap di rumah Mahen beberapa hari. Perempuan itu juga memberitahu Bu Lasmi mengenai rencananya.


"Aku hanya ingin memberi pelajar kepada Nova, Bu. Dia sudah salah menilaiku," ujar Vika.


"Tapi ... jika melakukan ini, bukankah artinya sama saja dengan apa yang telah ia perbuat kepadamu. Kalian akan menjadi sama-sama buruk," ucap Bu Lasmi mengingatkan.


"Aku hanya ingin memberi Nova sedikit pelajaran, setelah ini kita akan pergi."


"Tapi ibu memiliki firasat buruk tentang hal ini. Ibu takut nantinya hal yang lebih buruk menimpa keluarga kita," ujar Bu Lasmi sembari menatap nanar putrinya.


"Ibu berdoa saja supaya semua baik-baik saja, ya?" pinta Vika.


Akhirnya dengan terpaksa Bu Lasmi merestui rencana Vika. Ia berdoa agar hal buruk tidak menimpa keluarga kecilnya.


.


.


.


Bersambung...


_______________________________


Assalamualaikum teman-teman setia Second Wife...


Terima kasih ya, sudah terus mengikuti kisah Vika Aditama. Jangan lupa dukungannya untuk Chika dengan memberi Like, Komen, dan Votenya.


Hari ini, Chika mau merekomendasikan sebuah novel karya teman sesama author. Buat temen-temen yang suka novel genre Romance Komedi wajib baca!


Ini dia Novelnya...



Bisa klik link ini yaaa buat langsung cuss ke novel karya Kak Liana Keizia


https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1521037&\_language\=id&\_app\_id\=1

__ADS_1


Terima Kasih...


Aku mencintai kalian banyak sekaliiii ❤️❤️❤️


__ADS_2