
"Pa! Siapa perempuan ini!" teriak Winda sembari melempar ponsel suaminya.
Theo memungut ponselnya yang sudah tergeletak dilantai. Layarnya sedikit retak, ketika menyala ponsel itu menampilakan sebuah foto. Potret seorang wanita cantik sedang menggendong seorang bayi laki-laki. Theo menghela napas. Akhirnya, bangkai yang telah ia tutupi selama satu tahun terakhir tercium juga.
"Dia Kamila, kekasihku," ucap Theo dengan nada datar.
"Pa, tega ya Kamu!" seru Winda. Matanya mulai memerah bersiap menumpahkan air mata.
"Maaf." Hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir Theo.
"Kenapa Papa melakukan ini?" tanya Winda sambil menahan gejolak emosinya.
"Dari awal pernikahan kita tidak benar. Kau tahu bahwa aku tidak mencintaimu. Aku menentang pernikahan ini mati-matian. Tapi apa yang dilakukan oleh keluargaku yang licik itu? Kau tidak mengingatnya?" Theo terus melemparkan kesalahan demi kesalahan kepada Winda dan keluarganya.
"Lalu ... apa yang ingin Kau lakukan sekarang?" tanya Winda. Kini air matanya mulai menetes, hatinya hancur berkeping-keping.
"Tetap diam seperti biasa! Di depan Mahen juga begitu! Bersikaplah seperti biasanya!" seru Theo, kemudia lelaki itu meninggalkan istrinya yang mulai terisak.
Pernikahan mereka memang dilakukan karena urusan bisnis. Theo awalnya menentang keras perjodohannya dengan Winda karena sudah mencintai perempuan lain. Tapi keluarga Adi Baskoro (ayah Winda) mengancam akan menghentikan suplai produk mereka untuk retail milik keluarga Dirgantara. Padahal produk dari keluarga Baskoro pemegang omset tertinggi.
Setelah mendapat desakan dari berbagai pihak, akhirnya Theo menikahi Winda. Tidak sampai disana saja kelicikan Winda dan keluarganya berhenti. Agar mendapatkan keturunan, perempuan itu memakai cara yang sama saat membuat Mahen dan Vika sampai berhubungan badan. Darisana lahirlah Mahen.
Semenjak mengetahui hubungan gelap Theo dengan Kamila, segala upaya dilakukan oleh Winda. Ia mencari tahu tempat tinggal Kamila dan putranya. Setelah mencari tahu dengan bantuan orang yang ahli di bidang itu, akhirnya Winda mengetahui alamat Kamila.
Sore itu, cuaca mendung di bulan kesebelas dalam kalender Masehi. Winda mengendari mobil BMW-nya menuju kediaman Kamila. Rintik hujan mulai membasahi mobil hitam itu. Membutuhkan waktu satu jam untuk sampai di rumah sederhana milik kekasih gelap suaminya .
Ia mengumpulkan kekuatan untuk menemui perempuan yang dicintai Theo, suaminya. Suara sepatu Winda nyaring beradu dengan batu bata yang ditata untuk jalan setapak menuju pintu utama rumah Kamila.
Tok ... tok ... tok ...
Winda mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati itu.
"Ya, sebentar .... " Terdengar sahutan dari dalam rumah. Suara perempuan itu terdengar lembut.
Setelah menunggu, akhirnya pintu terbuka. Kamila tercengang mendapati istri sah kekasihnya datang. Perempuan itu hanya mematung, otaknya seakan beku.
"Boleh bicara sebentar?" Suara Winda membuat otak Kamila bekerja kembali.
"Ma-masuk, Kak."
Kamila masuk ke rumah diikuti oleh langkah Winda. Perempuan lembut itu mempersilahkan Winda untuk duduk. Setelah mendaratkan bokongnya ke atas sofa, Winda langsung membicarakan maksudnya datang ke rumah Kamila.
"Aku sudah tahu semua."
"Ma-maaf, Kak. Aku ..., " ucap Kamila terputus.
"Berapa uang yang kamu butuhkan?" tanya Winda.
__ADS_1
"Ya? Ma-maksud Kak Winda?"
"Jangan berpura-pura bodoh!" seru Winda.
"Aku benar-benar tidak mengerti yang Kak Winda maksud," ucap Kamila dengan suara sedikit gemetar.
"Hah! Dasar perempuan munafik! Kamu hanya menginginkan uang Mas Theo, bukan?"
"Kak Winda salah paham! Aku tidak seperti itu!" seru Kamila.
"Anggap saja ini uang muka, selebihnya aku akan mencukupi semua kalian! Menjauhlah dari Mas Theo!" ucap Winda sembari menyodorkan selembar cek dengan nomilan tiga ratus juta.
Kamila melihat kertas di depannya sesaat lalu melengos. Ia tak menyangka, Winda memiliki sikap yang begitu sombong.
"Tolong, Kak Winda pergi dari rumah ini," ucap Kamila datar tapi penuh penekanan di setiap katanya.
"Kamu mengusirku?"
"Tolong, Kak. Selagi aku masih meminta dengan cara yang sopan," kata Kamila.
Seakan tidak mendengar ucapan Kamila, Winda malah tersenyum sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kalau aku tidak mau, apa yang akan Kau lakukan?" ejek Winda.
Sontak Kamila langsung berdiri kemudia menyeret tubuh perempuan dihadapannya ke arah pintu. Tak lupa ia meremas kertas cek yang telah disodorkan kepadanya.
"Aku tadi sudah memintamu pergi secara baik-baik, tapi Kamu mengacuhkanku!" seru Kamila sambil terus menyeret Winda.
"Lepaskan! Aku bisa berjalan sendiri!"
Mendengar teriakan Winda, Kamila melepaskan cengkeramannya dari lengan perempuan itu. Setelah lolos, Winda malah menampar Kamila.
"Jangan pernah temui Mas Theo lagi!" ucap Winda sambil menunjuk Kamila dengan jari telunjuknya.
"Pergi!" usir Kamila. Kemudian ia melemparkan gumpalan kertas cek yang telah ia genggam sejak tadi.
"Jangan lupa bawa kesombonganmu ini pergi!" seru Kamila.
Mendengar ucapan perempuan dihadapannya itu, emosi Winda memuncak. Ia mendorong tubuh Kamila hingga kepalanya terbentur tembok.
"Aaakk!" pekik Kamila.
Tak puas sampai disitu, Winda membenturkan kepala Kamila berulang kali ke tembok. Perempuan itu baru berhenti ketika darah segar mulai mengalir dari telinga dan kepala Kamila. Tangannya bergetar, seketika tubuhnya lemas. Ia tak menyangka telah berbuat sejauh itu.
"Bunda!" teriak seorang anak laki-laki berumur 4 tahun, Raja.
Anak lelaki itu langsung berlari ke arah ibunya yang sudah lemas tak berdaya. Ia menangis, dan terus memanggil nama ibunya yang sudah tak merespon.
__ADS_1
Ingatan buruk itu ternyata menjadi trauma dan dendam tersendiri bagi Raja. Apalagi saat semua jejak yang telah dilakukan Winda sengaja dihilangkan oleh orang suruhannya. Bahkan ia sengaja meminta orang lain untuk menggantikannya sebagai tersangka.
.
.
.
Sepeninggal ibunya, Theo membawa Raja masuk ke dalam kediaman keluarga. Winda tidak berani menolak secara terang-terangan. Perempuan itu akan bersikap sewajarnya di depan suaminya. Tapi saat Theo tidak ada di rumah, Raja diperlakukan secara tidak adil. Beruntungnya Mahen selalu melindungi Raja.
Suatu hari, Winda mengajak Raja dan Mahen pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Melihat sikap istrinya yang mulai bisa menerima Raja, tentu saja membuat hati Theo bahagia. Akan tetapi di balik sikapnya, Winda memiliki rencana licik.
Ketika sedang berada di keramaian mall, Winda meminta Raja menunggunya di depan pusat permainan anak. Ia beralasan hendak mengantar Mahen ke toilet. Tapi ternyata perempuan itu justru menuju parkiran dan membawa serta Mahen pulang.
"Ma, kita mau kemana?" tanya Mahen.
"Pulang." Winda menjawab datar sambil menyalakan mesin mobil.
"Raja masih di dalam, Ma."
"Biarkan saja," kata Winda.
"Berhenti, Ma! Mahen mau mengajak adik pulang!" teriak Mahen.
"Dengar, Mahen. Dia bukan adikmu!" teriak Winda frustasi.
"Mahen sudah tahu, Ma! Dia bukan anak Mama! Tapi Raja anak papa! Artinya, dia juga saudara Mahen! Adik Mahen!" seru Mahen lalu membuka pintu mobil dan berlari ke dalam gedung.
Saat kembali ke tempat mereka meninggalkan Raja, dengan polosnya anak lelaki itu masih menunggu sembari menikmati permen kapas yang dibeli untuknya.
"Raja!" teriak Mahen.
"Kakak!" Raja berlari kecil menghampiri Mahen.
"Kakak, lama sekali!" gerutu anak lima tahun itu.
"Maaf ya, tadi antri banyak. Ayo kita pulang!" ajak Mahen.
Jemari mungil Raja meraih telapak tangan Mahen. Sejak saat itu, Winda tidak bisa lagi mengusik Raja.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1