
Satu tahun kemudian ....
Seorang perempuan dengan perut buncitnya sedang sibuk di belakang meja kerja. Tumpukan kertas berisi desain gaun cantik sudah menunggu untuk dieksekusi bagian produksi.
"Nola, kalau capek istirahat saja." Vika masuk ke ruang kerja Nola, kemudian duduk di sofa pojok ruangan.
"Sebentar lagi selesai. Kamu pulang aja dulu, Vik," ucap Nola sambil tersenyum tipis.
"Pulang duluan? Bisa digantung Jimmy nanti!" seru Vika sambil memutar bola matanya.
Nola terkekeh, kemudian beranjak dari kursinya. Langkahnya terlihat sangat hati-hati menapaki lantai keramik karena takut terpeleset. Setelah sampai di sofa, ia duduk sambil menyelonjorkan kakinya ke pangkuan Vika.
Vika memijat lembut kaki sahabatnya itu. Mereka berdua asyik bercerita mengenai masa kehamilan masing-masing. Seketika Vika teringat kejadian konyolnya saat hamil Vincent.
"Dulu ketika mengandung Chen, Aku pernah membuat Raja kalang kabut karena meminta sesatu." Mata Vika menerawang berusaha mengingat salah satu momen terbaik dalam hidupnya.
"Kenapa?" tanya Nola.
"Suatu hari, Aku ingin makan odading Mang Asep. Masih ingat Mang Asep?" Vika menghentikan pijatannya, kemudian menatap Nola.
"Mamang yang biasa mangkal di depan kompleks rumahmu yang di Bandung?" tanya Nola untuk memastikan tebakannya benar.
"Iya, benar! Ingat banget, dulu nelpon Kak Raja sambil nangis-nangis minta dibelikan. Padahal, di luar sedang hujan deras." Mata Vika berkilat menceritakan setiap detail kejadian saat itu.
"Kak Raja mau?" tanya Nola, kini ia menurunkan kakinya dari pangkuan Vika.
"Tentu saja mau! Di tengah guyuran hujan, Kak Raja datang dengan membawa sekotak odading yang masih hangat." Pipi Vika bersemu merah ketika mengingat hari itu.
"Benar-benar suami idaman," ucap Nola tanpa mengerjapkan mata.
"Eh ... Aku belum selesai cerita!" protes Vika sambil menautkan kedua alisnya.
"Oke, lanjut, Bu!" Nola menggerakkan tangannya agar Vika meneruskan ceritanya.
"Hehehe, begitu Aku membuka plastik itu ... langsung mewek, dong!"
"Kenapa?" Nola kini menyipitkan matanya.
"Nggak tahu, rasanya sedih aja." Vika tersenyum geli mengingat perubahan perasaan yang mendadak saat hamil.
"Iya juga, sih. Jimmy sering ngeluh merasa serba salah karena ulahku," ucap Nola sambil terkekeh.
"Wajar, kok. Untung Jimmy sabar." Vika memejamkan mata sambil meletakkan tangannya ke atas dada.
Nola melemparkan bantal yang sedari tadi menjadi sandarannya duduk. Namun, Vika berhasil menangkisnya. Ia menjulurkan lidah untuk mengejek sahabatnya itu. Ketika hendak melancarkan serangan susulan, sebuah pesan masuk ke ponsel Nola.
"Aku pulang sekarang, ya. Jimmy sudah menunggu di depan," pamit Nola usai membalas pesan dari suaminya.
__ADS_1
Perlahan Nola berdiri kemudian memeluk tubuh Vika dan langsung berjalan menuju pintu keluar. Saat baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba cairan bening mengalir dari jalan lahirnya. Vika yang terkejut langsung berlari menghampiri sahabatnya itu.
"Apa Kau merasa tidak nyaman? Apa perutmu terasa sakit?" Vika memegangi bahu Nola dan menatap lekat sahabatnya itu.
"Aku tidak merasakan apapun, ini apa?" Nola menunduk melihat cairan yang kini mulai membasahi lantai.
"Air ketubanmu pecah! Ayo cepat kita ke rumah sakit!" seru Vika sambil memapah Nola perlahan menuju mobil Jimmy.
"Jimmy! Buka pintunya! Cepat!" Vika mengetuk kaca mobil suami Nola.
"Ada apa!" Jimmy keluar mobil dengan mata terbelalak.
"Ayo kita ke rumah sakit! Air ketuban Nola pecah!" ujar Vika sambil membantu Nola masuk ke mobil.
Nola berbaring dengan paha Vika sebagai bantalan. Jimmy melajukan mobil secepat yang ia bisa sambil terus bertanya mengenai keadaan istrinya. Nola terlihat tenang karena tidak merasakan kontraksi. Justru Vika dan Jimmy yang terlihat panik dan heboh sendiri.
Setelah membelah jalanan yang ramai lancar, mereka sampai di sebuah rumah sakit. Nola langsung mendapat penanganan. Vika dan Jimmy menunggu di depan ruang bersalin.
Lima jam sudah Vika dan Jimmy menunggu dalam perasaan gelisah. Setiap ada yang keluar dari ruang bersalin, Jimmy selalu menanyakan keadaan istrinya. Jawaban mereka sama. Nola dalam keadaan baik-baik saja tetapi belum mengalami kontraksi.
"Pak Jimmy?" tanya seorang perawat yang keluar dari ruang bersalin.
"Iya, Saya." Jimmy mendekati si perawat dengan alis yang saling bertautan.
"Kami harus melakukan tindakan operasi karena Bu Nola tidak bisa merasakan kontraksi, sedangkan air ketubannya sudah tidak cukup jika harus menunggu kontraksi," jelas si perawat.
"Lakukan apapun agar istri dan anakku selamat!"
"Baiklah, mari ikuti Saya untuk menandatangani surat persetujuan," ucap si perawat.
Jimmy mengekor di belakang si perawat seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Sedangkan Vika kini memberi kabar kepada Raja mengenai keadaan Nola.
Lima puluh menit sudah Nola berjuang di atas meja operasi. Dia melahirkan seorang putri yang cantik. Rambutnya ikal dengan kulit putih bersih.
Keesokan harinya ...
Vika memandang kagum di balik jendela kaca. Tiba-tiba ia merindukan Vincent. Air matanya kembali menetes. Namun, ia mengusapnya karena ingin Vincent tenang di sisi Tuhan.
"Cantik, ya ...," ucap Raja yang tahu-tahu ada di samping Vika.
"Astaga!" teriak Vika sambil mengusap dada dan menoleh ke arah Raja.
Raja hanya menyeringai melihat ekspresi Vika yang sedang terkejut. Ia membentu huruf V dengan jari tengah dan telunjuknya. Mata Vika melotot sambil mengepalkan tangannya ke depan muka Raja.
"Ampun, Nyonya Vika Aditama!" Raja menangkupkan kedua tangannya.
Vika mendengus seraya melipat tangannya di depan dada. Ia kembali menatap ke arah bayi Nola. Melihat bayi cantik itu mengingatkannya kembali pada Vincent.
__ADS_1
"Seandainya Vincent masih hidup, maka putri Nola akan jadi daftar paling atas sebagai calon mantuku," ucap Vika sambil tersenyum kecut.
"Atau mau buat yang seperti itu satu?" goda Raja.
Kini tinju Vika benar-benar mendarat ke lengan kokoh Raja. Tak puas sampai di situ, Vika kini mencubit pinggang lelaki itu. Raja hanya pasrah menerima perlakuan Vika, karena menghindar pun akan percuma.
"Ehem!" Terdengar deheman dari belakang Vika dan Raja.
"Kak Mahen!" seru Vika dengan mata melotot.
"Kakak, sudah pulang?" tanya Raja sambil tersenyum lebar.
Mahen hanya mengangguk, kemudian pandanganya beralih ke Vika. Rindunya menumpuk untuk perempuan di hadapannya itu. Jemari Mahen menyelipkan rambut Vika ke belakang telinga.
"Bisa temani Aku membeli hadiah untuk papa?" tanya Mahen.
Vika menoleh ke arah Raja seakan meminta persetujuan. Lelaki itu hanya menaikkan kedua bahunya. Vika kembali menatap Mahen, kemudian mengangguk.
"Kalau begitu Kami pergi dulu ya," pamit Vika sambil melambaikan tangannya.
"Iya, hati-hati." Raja mengangguk sambil tersenyum tipis.
Vika dan Mahen kini berjalan beriringan, meninggalkan Raja yang masih membatu. Lelaki itu hanya bisa menatap punggung mereka yang semakin menjauh.
Mahen mengajak Vika ke sebuah toko aksesoris. Di dalam etalase, terpajang beraneka ragam aksesoris pria. Ada cincin dengan beraneka macam batu sebagai hiasan, gelang, jam tangan, ikat pinggang, dan masih banyak lagi.
"Mau belikan papa apa, Kak?" tanya Vika sambil melihat-lihat isi etalase di hadapannya.
"Jam tangan, karena papa suka lupa waktu kalau sudah bekerja." Mahen mencondongkan tubuhnya ke depan, dan memperhatikan deretan jam tangan yang sekiranya cocok untuk sang ayah.
Vika mengangguk-angguk tanda mengerti. Matanya kini tertuju pada sebuah jam tangan dengan strap berbahan kayu. Ia menunjuk jam yang menarik perhatiannya itu. Mata Mahen pun mengikuti arah jari telunjuk Vika.
"Bagus dan unik," ucap Mahen dengan tatapan menilai.
Kini mata Mahen mencari-cari pelayan yang sedang berjaga. Ia menunggu si pelayan melakukan kontak mata dengannya, kemudian mengangkat tangan. Perempuan berseragam biru itu berjalan menghampirinya.
"Bagaimana, Pak? Ada yang bisa Saya bantu?" tanya si pelayan sambil tersenyum ramah.
"Saya mau jam yang ini," ucap Mahen seraya menunjuk ke arah jam tangan pilihan Vika.
"Baik."
Sambil menunggu si pelayan menyiapkan pesanan, Mahen dan Vika sedikit berbincang masalah pekerjaan masing-masing. Vika menceritakan tentang butiknya yang sedang kewalahan dengan orderan, sedangkan Mahen menceritakan tentang toko pertamanya yang baru buka di luar Pulau Jawa.
"Oh ya, ngomong-ngomong ... kenapa Kak Mahen langsung membeli jam yang kutunjuk?" Vika kini bertopang dagu sambil melirik ke arah Mahen. Seulas senyum muncul di bibirnya.
"Itu ... karena ...."
__ADS_1
Bersambung ...